Anjing

Senin, 01 Oktober 2007

“jing, kenapa SIA pada bonyok?”
“bantuin gue dong. Si Gong kakak kelas kita mukulin gue.”
“anjing!. Si Gong?, sendirian?”
“enak aza!. Gue dikeroyok sama mereka!”
“temen-temen sekarang juga kita kudu bales itu si Gong!”
“setuju……..”

jing bersama temen-temen sekolahnya kemudian mencari SI Gong, setelah terlebih dahulu mempersiapkan batu, pisau, pentungan dan senjata untuk melakukan PEMBALASAN. Genap lima buah motor beringan menuju markas Si Gong.

“gong!. Keluar!”
“ada apa lo?, teriak-teriak!”
“SIA nungarana Gong anjing?”
“eh goblog!. Hayang dipaehan kuaing!”
“NAON SIA ANJING!”

jing dan temantemannya langsung memukuli orang tersebut. Perkelahianpun dimulai!. Tidak lama menjelang dari dalam warung keluar Gong dan teman-temannya dengan MEMBAWA SENJATA masing-masing!.

“jebrod!”
“trang..trang. trang!.”
“modar sia anjing!”
“jelebot!”
“wadaaaaw”
“ANJING!”
“jebret”
“blesss”
“aaa…..!!!”

Gong jatuh tersungkur, dengan perut mengeluarkan darah panas, wajahnya babak belur dan beberapa biji giginya terlihat copot. Melihat Gong tersungkur Jing dan kawan-kawan segera melarikan diri, menancap motornya masing-masing. Teman-teman Gong tidak melakukan pengejaran tapi memburu Gong yang terluka. Setelah itu mereka semua pun lari TERBIRIT meninggalkan Gong sendirian.

***

“tau rasa tu si Gong!”
“jing! Elo udah puas blum?”
“cukup!, tapi kalo si Gong masih kurang ajar. Kita mesti ngasih dia pelajaran lagi!”
“bunuh aza, Jing!”
“bunuh?”
“lo takut Jing!?”
“aing kan anak jendral, sorry aza harus takut sama si Gong!”
“bener Jing, bunuh aja sekalian!, biar kapok!”
“gampang gue yang urus”
“Jing, lo dipanggil Kepala sekolah sekarang!”
“ngapain tuh si bangsat manggil-manggil gue?!”
“pengen lo hajar kali!”
“tungguin disini bro. Gue mo ngasih bogem buat tu kepsexs!”

beberapa hari setelah kejadian tersebut, Jing dipanggil oleh kepala sekolah atyas peristiwa penusukan tersebut, kepala sekolah itu menapatkan informasi dari teman-teman Gong.

“ada apa pak?. NYEBELIN BANGET SICH LO!”
“Jing!, kamu diadukan oleh kakak kelasmu kepada pihak berwajib.”
“polisi?”
“ya… polisi”
“trus napa?”
“Jing!…”
“udah dech, gue gak takut sama polis-polisan. Gue kan anak jendral.”
“tapi Jing,..”
“gue bilang udah ya udah!. Diem aja lo!. Atow lo mau gue pecat jadi kepala sekolah?”
“baiklah Jing!”
“apa…baiklah?”
“lalu???”
“lo harus ngelindungin gue dan temen-temen gue atau lo BAKAL TAU RASA!”

Jing malah mengancam kepala sekolah dan berlenggang dari ruang kepala sekolah dengan sebatang rokok ditangannya. Setelah keluar dari ruang itu, Jing menuju CS-nya kemudian berteriak:”FREEDOM!…ANJING!…”

FREEDOMFORNOL
Digawean ku: BADRANAYA
Read more!

JEJAK-JEJAK KHIANAT

Arinie Harfadinie

Dalam untaian sepi dan bimbang yang kian menjadi-jadi, telah kutemukan kedunguanmu. Kusambut seramah rumah tunggu. Lebar-lebar kubukakan untuknya arti kehadiran. Aku sebijak nafsuku. Tak peduli pada rindu! Aku sebijak nafsuku. Persetan dengan manjamu! Maaf, dunia kalian begitu kejam wahai lelaki! Tak banyak perempuan mempertanyakan kalian. Itu mungkin karena kelelakian memang kedok ketakutan. Lelaki bersembunyi dan menyembunyikan lembutnya pada seonggak kulit kasar dan embel-embel herois.

Aku tak tahu kenapa aku harus meninggalkanmu. Tapi aku juga tak punya alasan untuk tetap mempertahankan apa yang sudah terbina. Aku bukan perempuan sabar dan aku takkkan bisa menerima tawaranmu untuk kembali belajar sabar pada guru tersabar. Sudahlah, mari berdamai dengan kenyataan dan jangan salahkan keadaan! Sudahlah, lupakan rencana-rencana cinta kita yang kau susupkan ke dalam puisi-puisimu! Aku tak tega menyiksamu terlalu lama. Jangan kejar aku atau berharap aku datang lagi! Buka matamu, kenanglah burukku! Kencangkan telingamu, ingat selalu sisi muakku! Aku bukan aku yang kau kenal dulu!

Aku sedang butuh teman. Tapi bukan teman yang bisanya makan teman. Aku korban keganasan filsafat yang bejat. Saksi atas kebrutalan tanya yang tak terkendali. Sering makan hati dan mulai benci diri sendiri. Pernah aku berniat bunuh diri. Tapi tuhan punya cara yang selalu tak terduga dan aku dibiarkannya untuk menggagalkan niatku. Untung tak ada yang tahu, jadi tak perlu malu.

Yang paling menarik dariku sebagai seorang perempuan adalah wajahku. Selanjutnya postur tubuh yang dulu katamu selalu bikin tegang urat rindu dan senyum yang diciptakan dua bibir rekahku yang tak pernah berkenalan dengan produk-produk pemalsu keindahan. Tapi aku tahu kalau cinta atas dasar ukuran dada dan atas lihai pinggul saja, bukanlah cinta! Beruntung aku pernah punya kekasih yang selalu menomersekiankan tampilan fisik yang kelak jadi makanan ulat-ulat kubur. Tapi aku kurang beruntung mendapatkan kekasih yang bisanya cuma bikin puisi. Bukan karena tak menghargai hobinya meramu desah, tapi orang-orang yang sudah melampaui batas, sebaiknya belajar menghargai orang-orang yang belum.

Dulu aku perempuan paling bahagia. Paling merasa diwanitakan dan paling punya cara untuk mensyukuri anugerah cinta. Laki-laki itu sebenarnya sama sekali ngga’ sama dengan konsep-konsepku tentang laki-laki dalam benakkku. Ngga’ atletis. Ngga’ romantis. Ngga’ berkepribadian. Miskin. Jelek. Seram dan ngga’ seIman. Tapi kemampuannya dalam menipuku, sempat membuatku terkapar. Berkali-kali aku kuwalahan menghadapi rayuan maut dan nakal bibirnya. Berkali-kali juga aku tak bisa menolaknya. Laki-laki itu telah memperkosa jilbabku. Kemana aku mesti melapor dan minta perlindungan hukum? Bukankah di mata hukum, cinta tak pernah dimaktubkan dalam pasal-pasal kekeliruan? Bukankah laki-laki itu cuma bertindak kurang ajar dengan jilbabku saja dan akupun ikut menikmatinya? Bukankah kalau itu memang dosa, itulah dosa termanis? Bukankah kalau itu memang salah, Tere juga bilang kalau itu adalah salah terindah? Dalam situasi seperti ini, tampaknya hanya diri sendiri sajalah yang bisa dijadikan sandaran dan meja pengaduan sesalku. Aku siap mempertanggunngjawabkan kemarin, hari ini dan esokku.

Entahlah! Aku tak punya pilihan selain menghindar dari belenggu cintanya. Itu bukan karena aku sudah tak cinta. Melainkan karena aku memang seorang pengkhinat yang sejak lahir hobby menyakiti laki-laki. Ya, kuakui itu! Kalian tahu apa dan dimana nikmatnya menyakiti hati laki-laki, wahai perempuan? Sini mendekat dan akan kubisikkan sesuatu yang baru kucuri dari altar cinta!

Cinta itu barang murah. Bisa diobral semau kalian kok. Jangan berdramatisir! Jangan berpikir yang tidak-tidak dan sok suci lagi mensucikannya! Cinta itu bukan bagian terpenting yang mesti dipentingkan sedemikian penting. Bukan judul besar ketertundukan manusia pada rahasia-rahasia yang tak pernah bisa dipahaminya. Perempuan, kalian jangan bodoh! Buat apa bermain dengan nyala yang dijamin mampu membakar kelembutan dan garis takdir sendiri? Buat apa menyimpan mimpi tentang putri yang diselamatkan pahlawan bertopeng ganteng. Jangan pusingkan sangka dan menghabiskan tenaga hanya untuk membedakan topeng dan raut muka musuh di balik topeng.

Perempuan, sudah ngga’ zamannya aku dan kalian mempertanyakan arti bahagia dan kelumit ngalah untuk menang. Kalau kalian tak nyaman dalam peluknya, lari saja! Cari ganti dan jangan bicara tentang etika lagi! Ingat, jumlah kalian sudah semakin banyak. Itu artinya, saingan dan persaingan makin memperjelas kenyataan! Tunda dulu kesetiaan! Raup keuntungan dan kumpulkan keuntungan dari laki-laki yang ingin kalian jadikan santapan makan malam. Masalahnya, kalau tak menyantap, maka kalian pasti akan disantap!

Perempuan, laki-laki mau mabuk atau tidak mabuk dua-duanya pecundang! Buktinya, dunia yang sedang kita tempati ini adalah dunia mereka! Adalah klise yang menyakitkan jika aku kembali bilang bahwa sejak semula perempuan itu memang masyarakat terpinggir yang hadirnya hanya untuk menyempurnakan kelelakian saja! Kita cuma diminta bikin anak dan dipandang sebagai mesin pencetak dan pemuas! Lalu, apa arti kebermaknaan kalau begitu?

Kita mesti jahat. Kita mesti jadi pengkhianat. Kita mesti tanggalkan senyum untuk mendapatkan hak kita lagi. Jangan menunggu hujan turun saat orang punya payung dan bisa berteduh di bawah atap gedung. Omong kosong kalau perempuan mesti diam dan bersahaja dalam kelembutan! Omong kosong kalau kita serahkan keperawanan kita hanya untuk membuktikan dan mengiyakan pesan-pesan cinta! Maaf, Kontak kelamin adalah murni urusan libido dan kemasuk doa biologis! Karena itulah aku berpesan ; Jangan sok suci! Sebab yang sok, biasanya memang tak suci! Nikmati saja! Bahkan bukankah penderitaan takkan menghasilkan apa-apa selain desah dan keinginan kita untuk minta tambah dan dikerjai lagi?

Perempuan, kalian jangan lemah dan melemahkan diri lagi! Berkhianatlah! Jadilah pengkhianat yang paling bejat dan hadiahi laki-laki itu sekuntum laknat! Terbanglah dari satu pelukan ke pelukan lain! Eh maaf, maksudku dari satu dompet ke dompet lain. Atau kalau mereka tak punya dompet, hapalkan saja nomor rekening atau nomor PIN Atm mereka! Telanjangi isi kantong mereka sebelum mereka sadar akan perbuatan mereka saat dan setelah kita ditelanjangi! Manjakan diri kalian di atas kejayaan dan lipatan rupiah mereka. Perbudak mereka dan suruh mereka menjadi pelayan yang baik dan selalu stand by kapanpun kalian butuh tenaga mereka. Minimalnya, jadikan mereka supir antar jeput. Ya, ini memang analog yang mesti kalian panjangkan tafsir dan ta’wilnya. Kalian tak boleh picik dan licik!

Ach… aku cuma mau bilang kalau aku baru saja menawarkan sisi lain di balik hingar bingar jerit waktu. Sebagai perempuan, aku berhasil dan wajar menepuk dada saat menyakiti laki-lakiku. Yang paling bisa kubanggakan, aku sakiti mereka dengan senjata mereka sendiri. Caranya gampang kok, adu domba dan bikin mereka cemburu atau setidaknya menyesal pernah mengenal kita. Pakai laki-laki lain untuk mengusir mereka dari kehidupan cinta yang terekayasa dalam langkah cengeng mereka!
Halalkan segala cara untuk memperjuangkan apa yang mesti diperjuangkan!
Perempuan, bergabunglah bersamaku dan mari merapatkan barisan dan berjuang untuk selamanya tidak pasrah mendapat shaf di belakang! Acuhkan dosa dan sakit hati mereka! Sebab kalau tak begini, kita yang akan terus tersiksa! Sudah lama dan aku bukan orang pertama yang mengajak kalian untuk belajar berontak dan mencoba bangun dari rela panjang kita. Atas nama dendam dan sakit hati, silahkan menjual apa yang bisa kita jual. Gadaikan apa yang memang layak digadaikan! Sekali lagi, bergabunglah dan jangan pernah berjuang sendiri-sendiri!

Perempuan, sudahi tetek bengek kebingungan dan ketidakmengertian kalian! Hidup dan dunia lebih dari sekedar untuk dimengerti. Dunia kita, ya, dunia kita bukan dunia yang mesti mengabaikan bingung dan bukan juga dunia yang mengedepankan pengertian. Dan akupun hampir tak mengerti sedang apa aku hari ini dengan tulisan seperti ini. Tapi aku sadar bahwa aku yang menulisnya dan pengalamanku yang memaksaku untuk tetap menulisnya. Kita terlalu muda untuk terus bercanda. Tapi kita juga terkadang mesti melampaui usia kita sendiri. Doaku akan selalu menyertai kalian, wahai perempuan-perempuan yang bingung karena tak pernah kebingungan! Sayup dan samar sebilah jaga di ruas tanya membahana ;

Idza waqoatil Waqiah
Laisa liwak’atiha Kadzibah
Khafidhatu-r-Rafi’ah


Timoer Bandung,
September 05
Read more!

Retak

Gumaman Retak,
Ratapan luka

Bicaralah ! Terkadang kita lupa bahwa di sekitar kita ada nafas yang mengerang gelisah. Dan aku merasakan basahnya air mata yang menetes sepanjang peristiwa. Entah dengan kalian. Masihkah mulut-mulut mengunyah makna kerinduan, kemuakan, kejijikan, bahkan cinta? Atau bagaimana benak dan bayang-bayang ‘hitam’ kita menghentikan tanya yang terbuncah dari tanya tanya?

Tiba-tiba aku tersentak oleh bentak sunyi yang menyorotiku dengan perih di setiap langkah. Haruskah aku menangisi kalian yang terus berteriak memanggilku. Dan aku memilih memati di kamar yang penuh dengan jendela-jendela kejemuhan. Adalah di mana angin menyampaikan berita tentang semua. Adalah kepekatan. Adalah Air mata pikirku yang tak akan bisa kau hentikan.

Dan sekedar angkuhku meneguhkanku. Tanpa jari-jemari yang mengelus jiwaku. Biar pun awan di luar sana mengancam bencana bagi hidupku. Atau aku dan kamu, kalian, mimang sama-sama angkuh untuk mengarungi samudra harapan buta.
Aku bukan takut menoleh, apalagi mampir menghitung mimpi-mimpi kalian, kamu, bahkan malamku tak tertambatkan. Jujur saja aku benci. Biarkanlah langkahku untukku. Jangan kau usik dengan beribu aroma yang tak pernah membuatku tertarik. Apa yang kau tawarkan di malamku telah membusuk di tahun-tahun yang lalu. Adalah di mana aku harus memuntahkan segalanya. Kini aku tak percaya dengan dongeng-dongenmu.

Entah, seberapa dahsyat kata-kata busuk ini. Kalau saja bintang-bintang menyapa luka-luka yang terus merintih di dinding-dinding cinta, cita, pikiran dan rasa. Jika langit hujan huruf-furuf yang tak usah kita eja. Di sini ada sekarung doa yang terus bergelayut mencari makna. Menjadi kidung-kidung yang terus menafsir semesta. Adalah pertanyaan, tanyaku.

Biar aku hitung berdasarkan abjad-abjad. Atau aku memang menentang matamu yang biru. Sudah cukup jauh aku bercanda dengan imaji, intuisi dan pikiran yang kau suguhkan dikala matahari terbit. Dan sudahlah lama aku menerima cerita busuk malam yang terus menodongku dengan pekat.
Adalah puisi. Adalah sajakmu. Adalah cintaku. Adalah kemuakanku. Adalah kecemburuanku yang terus mengajari aku tentang air mata, luka, dan ringkih jiwa yang tak tertautkan. Terserah bagaimana kau menilai. Atau jika aku mati kau baru kertawa.

Teruslah…
Kini aku tak bisa mengakhiri. Apalagi sekuntum bunga menjadi duri di setiap jejakku. Dan aku membuangnya tapi tak melupakannya. Biarlah yang menjijikkan ini menjadi jalan setapak menuju samudranya sendiri.
Aku tahu kehidupan tak ada kesimpulannya. Salahkah bila mata air memancar tanpa kita harapkan. Biar dahagaku mencium tangismu. Atau apakah setiap sesuatu pasti ada sebabnya?

Jalan kalian…
Di tapak malam, mengugunkan luka
Senja di ujung kemuakanku
Membuncah,
Menjadi sungai yang menuju pada samudranya
Jalanku, jalanku, … aaah aku.

‘06
Read more!

Igau

Igau Kentuckian

Aku menjinjing doa kesana-kemari
Seungkap harap dalam hasrat
Tanyalah pada Ibrahim
Bagaimana ia mencari Tuhan

Aku berfikir dalam merasa
Semedikan diri pada tanya yang meruntuhkan
Sabda-sabda sebelumnya yang diyakini
Kini, lahar kesia-siaan saja
Sebagai kopi hangat dalam hidupku

Hal inilah yang kutemukan dikamar kecil
Setelah shubuh kutelan mentah-mentah


Sepucuk Pernyataan, Elia!

Elia,
Kau titikkan sebercak cerita pada ketiak benakku
Bahwa lorong-lorong kehidupan penuh dengan tanya yang tak selesai
Dan aku harus menjadi
Seperti Muhammad yang berani menabahkan diri
Di tengah kaum jahiliah

Kini biarkan aku mentashbihkan jiwaku
Merukukkan hasrat dan harapku
Mensujudkan segala inginku
Karena tak ada yang mampu meng-imankan
Kecuali Dia


Di Kamar Ini Aku Selalu Menanti

Di kamar ini aku selalu menanti
Mentuma’ninakan cinta
Dan kasih yang merobohkan seluruh dendam

Aku atau kamu masih berhutang
Di sepanjang perjalanan kita
Marilah kembali…!

Surat Untuk Para Kekasih

Aku mengenangmu wahai para kekasih
Dari layar sejarah aku telan
Kesetiaan, kesabaran dan cinta
Yang kau bungkus dengan rindu

‘getarku mungkin tak sampai’

Berapakali aku bercakkan tintamu
Pada buku harian
Ternyata selalu percuma saja
Dosa dan doa kini mulai mengkabur
Oleh keinginan dan hasrat yang meraja
Mampirlah! Mampirlah!
Wahai para kekasih
Peluklah jiwaku yang menggigil
Di tengah gelombang hidupku!

Atau dunia ini tetap aku acuhkan
Wahai para kekasih
Mampirlah!
Di sini semakin tak terarah
Dimana jejak yang harus diikuti
Dan yang harus dihindari


Setangkai Jiwaku
- Buat Orang Tuaku

Wahai orang tuaku
Aku kirim bungaku untuk-Mu
Tapi aku tak tahu ini bunga apa

Kerinduanku adalah benih persetubuhan
Embun dan bunga di telapak matahari
Untuk-Mu aku ingin kembali!

Wahai orang tuaku...


Sepanjang Malam

Sepanjang malam aku mengunyah yang sudah terjadi
Dan sabdamu belum sempat kulipat di hati
Semuanya telah terbuka antara luka dan dosa
Kini, aku harus diam

Keangkuhan rinduku menggetarkan
Seribu hasrat pada-mu
Tenggelam dan tenggelam.

Di sini, wahai sang tercinta!
Ada keributan antara raga dan jiwa
Antara anak-anak dan orang tua
Sehingga geletar yang merajut makna
Tak terdengar mengkidung sebuncah pun

Sepanjang malam menangiskan diri
Sesujud penyesal di hamparan hening dan nama-mu
Kini, aku harus diamkah?
Read more!

Sastrawan Muda

Fani: Generasi Baru Sastrawan Muda UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Teman Sewaktu Kecil, itu judul yang menjadikan Fani Ahmad Fasani resmi menjadi sastrawan muda versi Suara Mahasiswa UNISBA. Berawal dari lomba pembuatan cerpen bulan Juni 2005 yang lalu, dengan juri sejumlah sastrawan Nasional, antara lain Seno Gumira Ajidarma, Jacob Soemardjo, dan Anjar.

Karya-karya para pemenang lomba tersebut dibukukan dengan Judul Cover: Dilarang Menangis, yang berisi 13 judul tulisan. Fani, adalah mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.

Lounching dan sekaligus bedah buku yang diterbitkan Kaki Buku pada tanggal 07 Januari 2006 itu berlangsung mulai pukul 10.00 sampai dengan 13.00 di Gedung Student Center UNISBA Jln. Taman Sari No.01 Bandung. Fani mengulas dan menjawab sejumlah pertanyaan audien. Dialog berkisar dengan proses kreatif dan dunia kepenulisan serta saling berbagi kiat menulis dengan para pemenang lomba tersebut.

Wakil dari para pemenang yang bisa hadir dan menjadi pembicara pada waktu itu antara lain wakil dari UNISBA, UPI dan UIN Bandung. Sedangkan wakil dari Juri dihadiri oleh Saudari Anjar, seorang penulis perempuan yang sekaligus redaktur majalah Spice bersama Fira Basuki.
Read more!