Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Teologi Keberagamaan Pluralisme Liberatif

Jumat, 30 November 2007

Oleh Saeful Anwar

“Meskipun ada bermacam-macam, tujuannya adalah satu. Apakah anda tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju Ka’bah?....oleh karena itu apabila yang anda pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; namun pabila yang anda pertimbangkan adalah tujuannya, maka semuannya terarah hanya pada satu tujuan.”
[Jalaludin Rumi]

AGAMA adalah obyek perbincangan dan pergerakan yang senantiasa terus menarik untuk didiskusikan sepanjang zaman, rentangan waktu dari hal-hal yang berbau mitos hingga dimana sains mendominasi dalam berbagai hal. Hal ini di sebabkan karena fungsi dan peran agama yang unik dan menarik, yaitu sebagai sesuatu yang berwajah ganda. Agama, di satu sisi menjadi pedoman kehidupan, perdamaian, dan tuntunan moralitas demi keselamatan baik individu maupun social secara universal. Akan tetapi, di sisi lain agama sering menjadi penyebab konflik, peperangan, kultus, dan kekacauan atau chaos bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Di samping itu, fenomena dan fakta yang terjadi di lapangan, agama sering dicampuradukkan dengan penafsiran keagamaan. Maksudnya; perbedaan itu sering berujung pada pemberian vonis kesalahan terhadap orang lain yang tidak sepaham. Adanya truth claim; pada kelompok sendiri, dan kelompok yang lain dianggap jauh menyimpang dari kebenaran diluar dari golonganya, agamanya, keyakinannya dan dicap sesat atau murtad (orang yang keluar dari agama), sedangkan yang menurut mereka benar adalah apa yang jalani menurut keyakinannya. Seperti apa yang dikemukakan oleh kelompok konservatif garis keras yang menolak fakta pluralisme, yang terobsesi pada sebuah fiksi bahwa agama mereka homogen dan murni dari unsur-unsur kebudayaan. Fiksi itu tentu saja berbahaya karena menjadi intoleran terhadap kemajemukan keagamaan.

Pada konteks ini tejadi klaim kebenaran (truth claim) secara eksklusif, dimana kelompok yang memiliki keabsahan karakteristik beragama seperti ini, keabsahan teologinya ada pada nya, dan keselamatan (salvation claim) hanya ada dan menjadi milik mereka pula. Memperhatikan tanggapan pesimisme Wilson terhadap keberagamaan seperti itu sesungguhnya merupakan kritik keras dan peringatan terhadap peranan semua agama. Bahwasanya dalam setiap agama pasti ada penganut yang memiliki potensi negatif dan destruktif yang membahayakan, yang mengancam pada tingkat kekacauan (chaos). Sungguh sangat ironis ketika agama sudah hilang semangat kemanusiaannya dalam suatu peradaban maka ia akan tampil sebagai instrumen yang dapat menhancurkan peradaban maka sudah pasti ia akan tampil sebagai instrumen yang menghancurkan manusia dan peradabannya. Munculkan klaim kebenaran dan penafsiran agama itu juga menjadikan para pemeluk agama dan tokoh agama berperilaku dengan menggunakan standar ganda (double Standards) kebenaran. Maksudnya baik orang Islam ataupun non Islam selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya, biasanya standar yang bersifat ideal dan normative untuk agama sendiri, sedangkan terhadap agama lain, memakai standar lain yang lebih bersifat realistis dan historis.

Paradigma Keberagamaan
Penafsiran dan keberagamaan, pada dasarnya muncul sesuai dengan tingkat pengetahuan, lingkungan sosial dan kultural, serta keyakinan yang dibawanya sejak dari kecil (agama orang tua). Hingga dewasa ini, paradigma keberagamaan umat manusia umumnya bisa ditipologikan menjadi tiga golongan.

Pertama, paradigma eksklusif, pandangan yang dominan ada pada kalangan ini, adalah bahwa agama merekalah yang menjadi satu-satunya jalan keselamatan, sedangkan agama lain semuanya menuai kesalahan. Bagi agama Kristiani, pandangan ini menganggap bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan untuk keselamatan. “akulah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” , sehingga muncullah perumusan istilah extra ecclesiam nulla salus (tidak ada keselamatan di luar Gereja) yang pernah dikukuhkan dalam Konsili Florence 1442. Sedangkan bagi kalangan Islam, landasan teologisnya adalah penafsiran secara tekstual pada ayat-ayat Al Quran tentang kebenaran tunggal agama Islam. “sesungguhnya agama (al-din) disisi Allah adalah Islam” dan ada ayat lain yang memperkuat ayat ini berbunyi “barang siapa mencari agama selain Islam, maka (agama itu) sekali-kali tidak akan diterima dari Dia, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi” Implikasi sosial dari pandangan-pandangan tersebut adalah tertutupnya pintu dialog dan kerja sama antar agama. Bahkan, bisa jadi keragaman pemikiran dalam agama sejenis tertutupi oleh dominasi sekelompok paham. Pluralisme adalah pondasi dalam membangun masyarakat demokratis, bukan paham yang merusak agama atau anti agama, yang merupakan statement bagi para penentang paham pluralisme yaitu kaum Tradisional, fundamentalis dan konservatisme yang selama ini mereka teriakan.

Kedua, paradigma inklusif, menurut kalangan ini agama-agama itu pada dasarnya semuanya berasal dari Yang Satu. Sedangkan perbedaan agama, hanyalah jalan menuju ke Yang Satu dengan mereka, seluruhnya ditulis oleh Allah Ta’ala bahwa menyesuaikan diri dengan pembawa, kaum penerima, bahasa, serta lingkungan geografis. Menurut pandangan Umar Sulaiman Al-asyqar, seorang sarjana Muslim yang berdomisili di Kuwait, memaparkan pandangaannya tentang kesatuan agama menegaskan bahwa agama yang diturunkan Allah kepada Nabi dan rasul adalah satu, yaitu Islam. Islam bukan nama untuk satu agama tertentu, tetapi adalah nama yang didakwahkan oleh semua nabi. Senada dengan apa yang dikatakan Nurcholish Madjid. “ Maka semua nabi itu dan para pengikut mereka adalah orang-orang muslim. Hal ini menjelaskan bahwa firman Allah dalam (Q 3:85 dan Q 3:19) tidaklah khusus tentang orang-orang (masyarakat) yang kepada mereka nabi Muhammad s.a.w diutus, melainkan hal ini merupakan suatu hokum umum (hukm amm, ketentuan universal) tentang manusia masalau dan manusia kemudian hari. Kesemuanya itu mengisyaratkan adanya titik temu agama-agama ini harus dijadikan sarana untuk membuka diri atau bersimpati terhadap kebenaran agama orang lain. Kalau Allah menghendaki, maka umat manusia itu menganut satu agama saja, tetapi Allah menciptakan beragam agama, agar bisa menguji siapa yang paling baik amalnya, yang diharuskan adalah berlomba-lomba dalam kebajikan (Fatabikhul khairat)

Ketiga, paradigma pluralis atau paralel. Menurut kalangan ini, setiap agama pada dasarnya berbeda dan mempunyai jalan keselamatan sendiri. Namun ada persamaan yang senantiasa ada, yaitu nilai-nilai perenial agama yang mengajarkan tentang kebaikan, perdamaian, melarang kejahatan, serta tolong-menolong dengan orang lain. Tokoh paradigma ini adalah John Harwood Hicks (1973) yang melakukan revolusi dalam teologi agama-agama. Menurut dia, teologi agama-agama harus senantiasa diperbarui guna menyesuaikan diri dengan pengetahuan manusia dan perkembangan zaman. Paradigma baru itu adalah dialog dan kerja sama antaragama untuk menciptakan kemanusiaan universal dan keselamatan sosial demi perdamaian di muka Bumi. Metafor yang mengukuhkan paradigma pluralisme agama adalah pelangi. Maksudnya, pada dasarnya semua agama mempunyai warna dasar yang sama, yaitu warna putih. Akan tetapi, warna ini sering tidak terlihat dari warna luarnya yang berupa hijau, biru , kuning, dan sebagainya, yang sebetulnya menyimpan warna putih juga (baca-Kristen, Budha, Islam, dan sebagainya). Warna dasar pelangi inilah yang dalam agama dinamakan sebagai "agama primordial" atau "nilai perenial".

Oleh karena itu, perbedaan agama pada kalangan ini diterima sebagai pertimbangan dalam prioritas "perumusan iman" dan "pengalaman iman". (Islam Pluralis, hal. 49-50). Sama apa yang dirumuskan oleh Sayyid Hossein Nasr, setiap agama pada dasarnya distruktur oleh dua hal tersebut. Sikap pluralis bisa diterima jika seandainya perbedaan antara Kristen dengan Islam diletakan dalam posisi yang lebih penting diantara keduannya. Islam mendahulukan perumusan iman, dan pengalaman iman mengikuti perumusan iman tersebut. Sedangkan dalam ke Kristenan mendahulukan pengalaman iman (dalam hal ini pengalaman akal Tuhan yang menjadi manusia pada diri Yesus Kristus, yang kemudian disimbolkan pada sakramen Misa dan Ekaristi) dan perumusan iman mengikuti pengalaman ini, dengan rumusan dogmatis melalui Trinitas.
Ketiga tipologi paradigma keberagamaan di atas bukanlah hal yang kaku dan tetap. Akan tetapi, semuanya adalah persoalan pilihan kehidupan dan keyakinan. Apa yang kita anggap sesuai dengan keyakinan kita tentang konsepsi teologi tanpa menjustifikasi penganut lain yang tidak sepaham. Hal itu menjadi masalah tersendiri, ketika realitas sosial dan masyarakat yang ada menunjukkan fakta yang berbeda dengan keyakinannya. Artinya, paradigma keberagamaan itu bisa mengganggu orang lain dan kurang memberikan manfaat pada tatanan sosial yang ideal.
Fakta dan keniscayaan pluralisme

Pluralitas adalah realitas yang betul-betul terjadi di sekitar kehidupan kita sehari-hari. Hal itu nampak pada pluralitas agama, budaya, latar belakang pendidikan, ras dan suku, serta kesenangan bahkan jalan hidup masing-masing manusia. Pluralitas atau keragaman berbagai hal itu sebetulnya memang sebuah hal yang alami tanpa melalui rekayasa atau kehendak manusia. Maksudnya, itu adalah kehendak Tuhan sebagai pencipta manusia dan seluruh kehidupan yang ada di muka bumi. Tentunya, dengan tujuan agar perbedaan itu diambil aspek positifnya sebagai jalan pemandu untuk bekerja sama, intropeksi diri, dan tolong-menolong.

Keragaman di atas pada awalnya memang tidak menimbulkan persoalan atau gejolak sosial. Mari kita lihat apa yang yang merjadi konflik di Indonesia akhir-akhir ini, dimana konflik merebak dengan mengusung bendera agama dan ras, kalau kita menelaahnya sesungguhnya konflik tersebut berawal dari factor social, ekonomi, dan politik seperti kerusuhan bernuansa SARA menewaskan ribuan manusia seperti kerusuhan Ambon, timor-timur, Sambas dan lainnya adalah sebagian dari daftar panjang kerusuhan yang terjadi karena dilator belakangi oleh konflik agama. kerusuhan masaal yang terjadi tahun 1998 dimana ratusan gereja dan tempat usaha etnis China dibakar, dirusak dan dijarah, bahkan yang tidak manusiawi anak-anaknya diperkosa bahkan ada yang sampai dibunuh.

Seperti yang terjadi baru-baru ini adanya bom bunuh diri yang mengatasnamakan agama yang berjuang menegakan ajaran Tuhan dimuka bumi Pada dasarnya apayang dilakukan adalah hal yang bodoh kerena islam tidak mengajarkan kekerasan. Paradigma keber-Agamaan seperti itu patut dikatakan keliru karena agama diturunkan dari Tuhan untuk kepentingan manusia, bukan dari Tuhan untuk kepentingan Tuhan, dan bukan pula dari manusia untuk Tuhan. Melainkn dalam hal ini Tuhan berposisi sebagai sumber spirit moral. Dari Nya manusia berasal, kepadanya pula manusia akan kembali untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya selama hidup didunia. Agama pada dasarnya bersifat kemanusiaan tetapi bukan berarti kemanusiaan yang berdiri sendiri melainkan kemanusiaan yang memancarkan dari wujud Tuhan. oleh sebab itu, sebagaimana nilai kemanusiaan tidak mungkin bertentangan dengan nilai keagamaan maka nilai keagamaan mustahil menentang nilai kemanusiaan.

Yang menjadi kecurigaan; jangan-jangan ada kekuatan lain yang menggerakannya sehingga yang muncul adalah konflik yang dibangun seakan-akan bermuatan SARA. Karena mereka sering dibarengi dengan keinginan untuk menguasai, (social, politik dan ekonomi) meminjam istilah Nietzsche - will to power -, sering menjadikan mereka menghalalkan segala cara. Penghalalan segala cara adalah naluri hewaniah manusia yang sering muncul ke permukaan. Padahal, ada sebuah nilai keluhuran manusia berupa akal sehat dan hati nurani yang harus senantiasa dipertimbangkan ketika melakukan sebuah tindakan.
Nilai keluhuran dan kemanusiaan itu ketika diperhadapkan dengan realitas pluralitas, adalah sebuah sikap yang menghargai perbedaan disertai dengan kearifan menerima dan mengakui kebenaran orang lain. Dalam keberagamaan, sikap ini mewujud dalam implementasi paradigma pluralisme agama sebagaimana dijelaskan di atas. Oleh karena itu, dalam realitas pluralitas yang terbentang di hadapan kita, sebuah sikap pluralis dalam beragama adalah sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Amin Abdullah (1999), realitas pluralitas agama yang belum berlanjut pada pluralisme keagamaan itu, disebabkan oleh adanya hegemoni kepentingan dan egoisitas pada sekelompok orang atau golongan tertentu. Tindakan dan kepentingan itu juga sering mereka justifikasi dengan landasan teks-teks keagamaan.

Anehnya, penafsiran teks keagamaan itu sering mereka lakukan secara terpisah dengan realitas sosial yang terbentang di permukaan. Padahal, untuk menciptakan sebuah pluralisme keagamaan meniscayakan penafsiran yang mengompromikan antara aspek historisitas dan normativitas teks keagamaan (baca-kontekstualisasi).

Pandangan pluralisme yang dimaksudkan di sini bukan berarti mencampuradukkan atau membuat "gado-gado" agama, atau dalam istilah lain disebut sinkretisme yaitu pandangan yang mencampuradukan semua agama atau menjalankan ajaran semua agama sekaligus karena semuannya dianggap memberikan keselamatan (Jalaludin Rakhmat) ;namun justru penghargaan dan penggalian nilai-nilai kebenaran universal agama untuk kebaikan bersama. Seperti ditegaskan oleh Alwi Shihab, bahwa pluralisme bukanlah relativisme an sich, namun juga menekankan adanya komitmen yang kukuh pada agama masing-masing dan membuka diri atau bersifat empati terhadap kebenaran agama lainnya (Islam Inklusif, Mizan, 1997). Jadi, yang perlu digarisbawahi adalah sikap untuk menjunjung tinggi kebaikan bersama dan menghindari klaim tunggal kebenaran. karena setiap pemeluk agama lain terdapat keselamatan.
Pluralisme keagamaan dan praksis sosial

Esensi kebenaran sebuah agama sejatinya terletak pada jawabannya atas problem kemanusiaan. Sebab, sesungguhnya agama sejak awal mempunyai misi suci untuk menyelamatkan dan menuntun manusia menuju jalan kehidupan yang baik dan benar. Maka, pernyataan Gregory Baum (1999) yang menyatakan bahwa kebenaran agama terletak pada komitmen solidaritas dan visi emansipatoris, sangatlah relevan. Bila agama tidak menunjukkan kedua hal itu lewat penafsiran dan perilaku pemeluknya, maka lambat laun agama pasti menjadi komoditi yang tidak laku di pasaran. Bahkan akan sampai pada pembunuhan nilai-nilai spiritual seperti yang terjadi akhir-akhir ini dimana agama dikambing hitamkan penyebab berbagai konflik horizontal. Jika seorang pemeluk agama bentrok dengan pemeluk agama lain akan dianggap sebagai “sebuah tindakan melawan kezaliman” sedangkan jika orang yang berada di agama lain akan berpikiran sebaliknya.
Oleh karena itu, pluralisme keagamaan haruslah juga menghadapkan dirinya dengan problem kemanusiaan kontemporer. Maksudnya, teologi pluralis haruslah mempunyai tujuan spesifik untuk membebaskan kesengsaraan dan penderitaan umat. Hal tersebut bisa dilakukan, jika para agamawan dan umat beragama mengembangkan - meminjam istilah Erich Fromm - keberagamaan yang humanistik. Artinya, mereka senantiasa peduli, peka, dan mempunyai komitmen terhadap penderitaan yang terjadi di sekelilingnya. Kepedulian dan kepekaan ini, menurut Paulo Freire, akan terwujud jika mereka memiliki kesadaran kritis dalam melihat setiap kejadian dan permasalahan.
Bila teologi pluralis itu tidak dikembangkan dan dikawinkan dengan tujuan pembebasan kemanusiaan, maka ia akan sekadar menjadi obyek ilmu pengetahuan yang abstrak dan menggantung di langit; hanya menjadi obyek ilmu pengetahuan yang tidak mempunyai dimensi praksis. Padahal, paradigma ilmu sosial tradisional yang obyektif dari ideologi telah dirubuhkan oleh paradigma ilmu sosial kritis yang membebaskan (Jurgen Habermas, 1993). Maka, teologi pluralis sudah selayaknya mempunyai dimensi pembebasan dan tujuan ideologi untuk kepentingan sosial yang mencerahkan.
Sebab, jika tidak dilakukan, teologi itu justru bisa dimanfaatkan oleh sekelompok agamawan guna melanggengkan status quo kekuasaan dan pemberangusan kritisisme masyarakat seperti yang terjadi menimpa umat Islam sekarang dimana hanya tunduk pada titah sang Kyai yang hanya mendasarkan agama secara tekstual tradisional, sehingga santrinya didorong dipaksa bersikap taklid terhadap keyakinan baik secara teologis maupun dalam tataran praksis.
Sekedar Penutup
Akhirnya, keberagamaan pluralis adalah sebuah agenda pekerjaan mendesak yang membentang di hadapan kita. Mengingat, banyak problem-problem ekonomi, politik, sosial, keamanan, dan kemanusiaan lainnya yang tidak lekas terselesaikan akibat ketidakseriusan sebagian orang. Maka, kaum agamawan dan umat beragama hendaknya memelopori sebuah praksis sosial yang berwujud pada kesadaran kritis dan keterlibatan pada upaya demokratisasi dan pengentasan krisis terutama krisis berfikir. Apa yang kita harapkan adalah munculnya pandangan-pandangan keagamaan yang lebih progresif, inklusif, dan kesaling pengertian antar agama, yang telah menjadi obsesi cultural maupun teologis kita di Indonesia.
*****
Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi. Reposisi Hubungan Agama dan Negara: Merajut Kerukunan Antar Umat. Jakarta: Kompas, 2002.
Akbar S Ahmed. Postmodernisme and Islam, Terjemahan Afif Muhammad. Mizan, Bandung, 1998.
Alwi Shihab, Islam Inklusif, Mizan, Bandung: 1999.
Bulletin Kebebasan. Edisi 01,02,03 dan 04. Lembaga Studi Agama dan Filsafat. Jakarta; 2006
Jurnal Emanasi, edisi 01, Lembaga Kajian dan Penulisan UIN SGD Bandung, 2001
John Hickk, God and the Universe of Faiths, One World Publications Oxford, i993
Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin Dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keislaman, Kemanusiaan, Dan Kemodernan, Paramadina, Jakarta, 1995, Cet 3
Madjid, Nurcholish. Pluralisme di Indonesia, jurnal Ulumul Qur’an, No 03, Vol VI i995
Madjid, Nurcholish. Masyarakat Religius, Paramadina, Jakarta, 1997
Muhammad, Afif. Islam Mazhab Masa depan: Menuju Islam Non-Sekterian. Bandung: Pustaka Hidayah, 1998
Rachman, Budhy Munawar. Islam dan Pluralisme; Nurcholish Madjid. Paramadina; Jakarta 2007
Rachman, Budhy Munawar. Pluralisme dan Masalah Teologi Agama-agama, 1999
Osman, Fathi. Islam, Pluralisme dan Toleransi keagamaan. Dalam pandangan al-Qur’an, kemanusiaan, sejarah, dan peradaban. Paramadina; Jakarta 2006
Schoun, frithjop. Mengenai jejak-jejak agama abadi (Sur Les traces de la Religion perenne) diterbitkan pada tahun 1982
Schoun, frithjop. Mencari titik temu Agama-agama, terj, Safroedir bahar dari judul asli, The Transenden Unity of Religion, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987.
Read more!

TUHAN DALAM PENCARIAN MANUSIA

Kamis, 29 November 2007

Pergeseran Pemikiran Manusia Tentang Tuhan
Dalam membahas tuhan terdapat dua term yang harus dibedakan. Pertama, tuhan sebagai idea, gagasan atau pemikiran manusia tentang tuhan. Kedua, tuhan dalam pengertian dirinya sendiri yang tidak diketahui oleh umat manusia. Tuhan dalam pengertian pertama adalah hasil produk imajinasi penalaran seseorang yang didasarkan pada kenyataan alam semesta sejauh yang mampu ia pahami mengenai tuhan. Mereka memberikan istilah yang bermacam-macam, antara lain manna, dewa, tuhan atau allah. Tuhan dalam pengertian kedua adalah tuhan sebagai dzat-Nya sendiri. Ia terlepas dengan seluruh dimensi manusiawi. Dipersepsi atau tidak ia tetap tuhan dan hanyalah dia yang tahu akan dirinya.

Awal mula adanya pemikiran mengenai tuhan dapat dirunut kebelakang sejak pertama kali manusia dapat berpikir. Secara umum, pemikiran tentang tuhan bermula dari konsepsi yang sangat sederhana samapai pada konsepsi yang sangat komplek dimana tuhan telah dipahami sangat abstrak. Dari pemahaman zaman kuno sampai dewasa ini abad kontemporer. Tahap-tahap ini tidak harus selamanya dipahami dalam pengertian periode zaman, tetapi akan lebih tepat kalau dipahami dalam pengertian taraf pemikiran umat manusia. Dewasa ini di daerah-daerah tertentu walaupun abad kontemporer masih ada kelompok yang masih bertuhan secara primitif. Corak pemahaman tentang tuhan lebih banyak ditentukan pada kemajuan pemikiran seseorang dalam zaman tertentu. Karena taraf berpikirnya sudah maju bisa jadi seseorang yang hidup ribuan tahun sebelum kita, memiliki konsepsi ketuhanan yang lebih abstrak dan rumit sebagaimana tuhan yang dipahami sekarang.
Pergeseran pemikiran tentang ketuhanan melewati tiga tahap; animist, dinamist dan monoteist. Tahap Monoteist terbagi pada deis, theis dan pholyteis.
Pada tahap animist manusia memahami tuhan sebagai kekuatan yang bersemayam dibalik benda-benda, umpamanya tuhan adalah kekuatan yang ada dibalik lautan. Mereka menyebutnya dengan istilah manna. Pada tahap ini manusia sudah dapat merasakan akan kekuatan diluar dirinya akan tetapi ia belum mampu mengkonsepsikan dalam bentuk tertentu. Tuhan dalam tahap ini adalah tuhan sebagai sebuah konsepsi yang kabur. Pada tahap dinamist, umat manusia sudah dapat memberikan suatu penafsiran seperti apa tuhan itu. mereka sudah dapat membuat symbol-simbol. Pada tahap ini tuhan sudah dipahami sebagai suatu kekuatan yang ada dalam benda-benda tertentu, umpanya dewi kesuburan dalam padi. Pada tahap ini tuhan tidak hanya satu tetapi banyak. Setiap tuhan memiliki kekhususan kekuatan tertentu, misalnya tuhan kebaikan dan tuhan kejahatan dalam paham zoroaster. Selain tuhan bersifat banyak, paham ketuhanan dalam tahap ini berbeda-beda antara satu kelompok masyarakat dengan yang lain. Konsepsi tuhan dalam daerah tertentu akan berbeda dengan daerah lain. Dalam perkembangan selanjutnya, suatu masyarakat menyatukan tuhan dalam suatu khirarkhi ketuhanan dengan adanya satu tuhan yang tertinggi. Paham ketuhanan semacam ini dapat kita temukan dalam system keprcayaan yunani kuno. Zeus adalah tuhan tertinggi yang dibawahnya terdapat tuhan-tuhan yang memiliki tugas-tugas tertentu. Atau dalam ajaran agama Hindu yang menjelaskan bahwa tuhan tertinggi adalah tuhan atau dewa Rama. pada tahap terakhir, tahap monoteis tuhan telah dipahami dalam konsep yang sangat abstrak. Tuhan adalah sesuatu yang menciptakan alam semesta. ia tidak dapat diumpakan dalam simboil-simbol tertentu ia juga melampaui manusia. Ia adalah satu, maha sempurna dan tak terbatas. Adanya tak tergantung pada keberadaan manusia.
Tuhan pada tahap monoteis dipahami dalam tiga bentuk: pertama, dalam pemahaman deisme. Dalam paham ini tuhan adalah adalah pencipta dan tidak mengatur alam semesta. Seluruh peristiwa yang terjadi di dunia ditentukan oleh hukum alam sebagai suatu aturan yang tuhan ciptakan bersamaan dengan alam. Dalam kehidupan sekarang tuhan tidak pernah ikut campur. Kedua, dalam pemahaman teisme. Teisme mengajarkan bahwa tuhan adalah pencipta dan pengatur alam semesta. Tuhan hadir dalam kehidupan di dunia. Tak ada sesuatu pun yang terlepas dari kekuasaannya. Manusia tergantung pada tuhan. Dengan kata lain teisme adalah kebalikan dari deisme. Ketiga. Dalam paham pholyteisme. Dalam paham ini tuhan bukan sesuatu yang berada dibalik alam semesta. Akan tetapi tuhan adalah alam semsesta itu sendiri, tuhan adalah alam dan alam adalah tuhan. Alam dalam pengertian sebagai sebuah keseluruhan bukan sebagai bahagian sehingga dapat disimbolkan dalam bentuk tertentu, misalnya patung atau berhala dalam kepercayaan arab kuno atau jahiliah.
Walaupun dari tahap animis sampai monoteis tuhan telah mengalami pergeseran pemaknaan, ada satu benang merah yang dapat ditarik sebagai konsepsi umum yang terdapat pada masing masing paham, yaitu tuhan adalah realitas tertinggi. Realitas tertinggi akan selalu dipahami berbeda-beda tergantung manusia yang mengkonsepsikan-Nya dengan konteks sosial yang membentuk. Mungkin system ajaran ketuhanan dimasa yang akan akan lebih komplek, rumit dan sangat abstrak. Yang jelas gagasan tentang tuhan akan senantiasa ada terus mengalami perubahan, sejauh manusia mempercayainya. Tuhan pada dirinya hanyalah Ia yang tahu, Wallahu a’llam.

Motivasi Untuk Bertuhan
Terdapat berbagai analisa yang mecoba menjelaskan sehubungan dengan kecendrungan seseorang untuk mempercayai adanya realitas tertinggi yang pada umunya diistilahkan dengan tuhan. Analisa ini sesuai dengan kerangka pengetahuan ilmiah dewasa ini, yaitu paradigama positivistik lebih banyak didasarkan pada peilaku seseorang yang mempercayai-nya, khususnya dari perspektif ilmu psikologiy. Tidak bisa dinafikan bahwa konteks sosial masyarakat tertentu akan sangat berpengaruh pada motivasi seseorang dalam meyakini keberadaan tuhan dan pengkonsepsiaan-Nya.
Dalam pendekatan psikologis adanya harapan kebahagiaan dan rasa takut menjadi factor utama mengapa seseorang mempercayai tuhan. Ketika seseorang merasa takut pada suatu objek dari luar dirinya, ia cendrung untuk mencari dan berlindung pada suatu kekuatan yang lebih kuat dan kuasa dari sesuatu yang ia takuti. Karena tuhan adalah dzat yang maha kuasa dan sempurna sebagaimana diajarkan oleh setiap agama, maka seseorang menemukan perlindungan bagi dirinya dalam diri tuhan. Selain adanya ketakutan dari luar, bisa jadi seseorang mempercayai adanya tuhan karena ia takut akan mendapatkan siksaan yang menyedihkan di kehidupan mendatang bagi orang yang menolok tuhan (kafir) dan berbuat maksiat. Demikian juga, ketika seseorang dalam kehidupan di dunia banyak mengalami berbagai penderitaan sehingga kehidupan adalah siksaan dan kenistaan akan dapat memunculkan suatu harapan baru bahwa dibalik kehidupan dunia ini ada suatu dunia yang memberikan kebahagiaan mutlak, yaitu Syurga dalam ajaran Islam atau Syurga maniloka dalam tradisi wayang golek. Walaupun di dunia ini ada kebahagian yang terdapat dalam berbagai bentuk, seperti kekayaaan, kekuasaan dan perkawinan, namun semua itu adalah fana dan menifu. Dunia dengan pernik-pernik kehidupan baginya adalah ujian untuk mencapai kesempuranaan yang abadi.
Selain dua factor diatas, bagi kalangan tertentu, kebutuhan akan nilai-nilai spiritual telah mengakibatkan seseorang percaya pada adanya tuhan. Bisa jadi dari sisi ekonomi, ia adalah orang yang kaya raya atau memiliki kekuasaan yang sangat berpengaruh. Dengan kata lain, dalam kehidupan di dunia ia mendapatkan kebahagian yang sempurna. Akan tetapi, ia tetap merasa ada yang kurang dalam dirinya. Konon, dalam tradisi Islam ada seorang tokoh terkemuka sufi yang bernama Ibrahim bin Adham. Ia adalah saudagar kaya raya, berpengaruh, memiliki keimanan yang sangat tinggi dan tha’at dalam mengerjakan praktek-praktek keagamaan. Sekarang ini di beberapa negara maju sedang berkembang lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan bimgbingan spritual. Atau ada beberapa ilmuan yang beralih haluan dari dunia keilmuan yang empirik-rasional masuk dunia tarekat yang sarat dengan spritual dan mistik.

Argument Keberadaan Tuhan
Apakah benar bahwa untuk percaya kepada tuhan dibutuhkan argument. Jawaban atas pertanyaan ini bisa ya dan juga bisa tidak. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita tidak membutuhkan alasan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Bahkan ada beberapa masalah ketika diberikan rasionalisasinya hal tersebut menjadi dangkal dan kabur. Dalam kehidupan sehari-hari juga ada beberapa tindakan yang harus diawali dengan alasan dan ada beberapa hal lain yang harus diawali dengan hanya ikhlas melaksanakan kemudian baru argumentasi yang jelas dan logis. Masalah tentang ketuhanan dan praktek keagamaan biasanya didasarkan pada hal-hal semacam ini.
Pada dasarnya argument penalaran dibutuhkan untuk memutuskan atau menghilangkan keraguan antara ya dan tidak. Suatu argument penalaran diperuntukan untuk keyakinan diri sendiri dan agar orang lain percaya. Sebetulnya, argument tentang keberadaan tuhan lebih banyak dimaksudkan agar orang lain percaya dan yakin bahwa tuhan itu betul-betul ada. Bagi orang-orang tertentu (khususnya orang yang memilki pengetahuan terbatas) untuk percaya kepada tuhan bisa saja hanya cukup mendengar bahwa tuhan itu ada, merasakan keberdaaannya dengan hati dan merasakan kemanfaatan atas berbagai dampak positif dari beberpa ajaran tertentu dalam sebuah agama, misalnya ibadah berderma.
Dalam kajian filsafat agama terdapat beberapa argumentasi untuk membuktikan adanya tuhan; argument ontologis, kosmologis, theleologis dan moral. Kelima argumentasi ini intinya hanya tiga argumentasi; argumentasi sebab-akibat, theleologis dan moral. Argumtasi ontologis dan kosmologis masuk dalam kategori dalil sebab-akibat karena mendasarkan penalarannya pada hukum sebab-akibat.
Argumentasi yang mendasarkan penalarannya pada hukum sebab-akibat pertama kali kemukan oleh Saint anselmust dan dikembangkan pada abad pertengangahan oleh S.T Thomas Aquinas dengan menggunakan cara berpikir Aristoteles. Dalam dunia muslim argumentasi semacam ini dikembangkan pula oleh al-Kindi, al-Farabi dan Ibn-Sina. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa adanya sesuatu pasti ada yang menjadi penyebabnya. Ada akibat pasti ada sebab. Adanya kehidupan menjadi bukti nyata akan adanya tuhan. Adanya gagasan tentang sesatu yang sempurna dalam setiap pemikiran umat manusia tentu ada dzat yang betul-betul ada sempurna yang menyebabkannya ada dalam setiap orang. tidak mungkin manusia yang tidak sempurna memiliki ide kesempurnan. Pasti dzat yang sempurnalah yang mengakibatkan kita memiliki idea kesempurnaan.
Argumentasi theleologis mendasarkan penalarannya pada keharmonian alam. Alam adalah suatu kenyataan yang tersusun secara sempurna. Ia ditata dengan rancangan yang sangat ketat, didasarkan atas hukum-hukum yang sangat pasti dan suatu perhitungan yang sangat tepat. Dengan demikian tata tertib dan kemajuan dalam alam menunjukan suatu akal dan maksud yang iamnent. Tujuan dari ketertiban alam semesta ini adalah rencana tuhan itu sendiri. Argumentasi moral lebih banyak disenangi orang karena penjelsannya langsung pada ranah psikologis. Alam telah membuat manusia takjub. Dan dengan perasaan inilah manusia akan mudah meyakini akan adanya tuhan sebagai seseuatu yang maha takjub.

Argument moral secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut; kalau pada manusia dalam dirinya sendiri ada perintah untuk melaksanakan kebaikan dan menjauhi keburukan yang pada pada dasarnya betul-betul timbul dari dorongan diri sendiri bukan hasil dari pengalaman maka perintah itu mesti berasal dari suatu dzat yang tahu akan baik dan buruk. Perbuatan baik dan buruk mengandung arti nilai-nilai. Adanya nilai dalam setiap diri manusia mengandung arti adanya pencipta nilai. Dzat pencipta nilai inilah yang disebut dengan tuhan

Bantahan Dan Argument Kaum Atheis
Berangkat dari asumsi bahwa setiap penalaran selalu memiliki sisi-sisi untuk dikritik, argument tentang keberadaan tuhan memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat mengakibatkan gugurnya seluruh upaya pendasaran rasional atas keberadaan tuhan. Kelemahan-kelemahan itu adalah sebagai berikut:
Pertama, dalam argumentasi-argumentasi yang mendasarkan pada hukum sebab-akibat terdapat dua kelemahan. Pertama, hukum sebab-akibat adalah suatu hukum yang hanya didasarkan pada kepercayaan belaka, animall paith. Hukum sebab-akibat bukan suatu hukum yang didasarkan pada fakta bahwa satu benda menjadi sebab bagi perubahan benda lain. Betul bahwa tangan terasa panas setelah api menyentuh, tapi bukan api yang menyentuh tangan akan mengakibatkan tangan menjadi panas. Yang terjadi sebenarnya hanyalah kedekatan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Kedekatan tersebut kemudian diidentikan dengan suatu keyakinan bahwa satu peristiwa mengakibatrkan perubahan pada peristiwa lain. Kedua, kalau seandainya hukum sebab-akibat adalah benar, pertanyayaannya adalah apa alasan bahwa sebab terakhir itu adalah tuhan. Bisa saja kita menginterpretasikan bahwa sebab terakhir dari materi adalah materi, bukan selain materi. Dengan demikian pernyatan bahwa sebab terakhir dari materi adalah tuhan adalah penyimpulan yang terlalu dipaksakan karena menafikan konklusi-konklusi lain.
Kedua, dalam argumentasi moral sebagaimana dikemukakan oleh Imanuel kant, norma-norma moral tidak harus menunjukan akan adanya tuhan. Kant mengatkan bahwa eksistensi tuhan adalah postulat dari kehidupan moral; yakni tuhan harus ada jika tata moral harus dipahami. Selain kritik kant sendiri, kritik lain yang muncul adalah seumpamanya nilai-nilai moral itu diakui, nilai-nilai tersebut dapat dijelaskan dengan kebutuhan dan kemauan-kemauan manusia atau dengan susunan watak manusia dan masyarakat.
Ketiga, dalam argumentsi theleologis ada dua kritikan yang sangat tajam. Pertama, bukankah dalam alam semseta ini ada kejahatan. Kedua, apa alasan bahwa keteraturan alam itu mengharuskan adanya pencipta yang sangat teliti sehingga terciptanya alam semesta yang sangat tertata secara rapih. Bisa saja alam tercipta dari suatu materi yang sekaligus mengandung hukum-hukum di dalamnya, salah satunya adalah harmonisasi.

Jawaban Otoritatif: Iman
Dari argumentasi serta bantahan-bantahan di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa penolakan akan adanya tuhan sama kuatnya dengan argumentasi yang menyatakan adanya tuhan. Bahkan penolakan akan adanya tuhan lebih kuat dari pernyatana adanya tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah keberadaan tuhan dapat dibuktikan dengan akal atau tidak. Kalau tidak, lantas apakah semua yang tidak dapat dipertangguh jawabkan secara rasional itu mengindentikan bahwa pernyataan adanya tuhan adalah bohong belaka. Dengan kata lain tuhan itu tidak ada karena tidak ada alasan raional yang dapat membuktikan.
Terlepas dari apakah akal dapat membuktikan adanya tuhan atau tidak, bagi kalangan yang mempercayai adanya tuhan iman adalah solusi yang tepat untuk mempertahankan akan adanya tuhan. Iman pada awalnya diterima secara dogmatic tanpa alasan apapun, taken for oriented. Iman adalah fondasi dasar bagi seseorang untuk mempercayai adanya tuhan. Akan tetapi iman saja tidak cukup karena iman perlu penghayatan dan pemaknaan sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian iman butuh rasionalisasi untuk dapat dipahami apa sesungguhnya iman kepada tuhan itu.


DAFTAR FUSTAKA
Karen Armstrong; Sejarah Tuhan, Mizan, Bandung
Helmi Umam; Dance Of God, Aviron, Jogjakarta
Harun Nasution; Falsafat Agama, Bulan Bintang, Jakarta
Lois.O. Kattosof; Pengantar Filsafat., Tiara Wacana, Jogjakarta
Harold. H. Titus, Marylin S. Smith dan Ricard T. Nolan; Living Issues In Philosophy, terjemahan H.M. Rasjidi, Bulan Bintang, Jakarta
Read more!

PROSA TANPA TUHAN

Selasa, 02 Oktober 2007

- Homicde (split with Balcony)
BOOMBOX MONGER

Jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov mencari poros molotov yang tak lebih busuk dari kritik kapitalisme George Soros senyawa dari nyawa kreator dan sendawa para insureksionis berkosmos ruang diluar buruh dan boss, dan kertas Pemilu yang kau coblos dimana komrad ku mengganti logos dan kamus dengan batu Sisifus memutus selang infus negara dan institusi sampai mampus pada lahan bertendensi kooptasi Sony dan empty-V dan para radio penyedot phallus fasis bertitah 'harus',

PROSA TANPA TUHAN
mengayunkan pedang pada sayap setiap Ikarus dengan hirarki dalam modus operandi layak Kopassus microphone bagi kami adalah pemisah kalam dengan pembebasan yang mengkhianati milisi tanpa seragam koloni, hiphop philantrophy seperti Upski resureksi boombox yang sama pada Madison Park awal delapan puluhan membawa ribuan playlist dari Chiapas, Kosovo dan Jalur Gaza Seattle dan Praha, Checnya, Genoa, Yerusalem, Dili dan Tripoli untuk api militansi aktivisme yang meredup pasca molotov terakhir terlempar di Semanggi obituari dari lini terdepan milisi pada garis batas demarkasi jelaga resistansi lulabi penghitam langit tanpa teritori logika tanpa kuasa perwakilan yang layak dikremasi ketika senjata bermediasi, ketika ekonomi dan valas berubah sosok menjadi tirani jelajahi setiap kemungkinan dengan kain kafan modernisasi prosa beraliansi dengan dekonstruksi surga-neraka rakitan, militansi tanpa puritan Verbal Homicide, Rock-Steady Bakunin, MC Klandestin pada peta sirkuit boombox para B-boy kami adalah Fretilin dalam kacamata Bakin /

Makhnovist yang melukis realisme sosialis diatas kanvas Dada Post-Mortem Hip-Hop takkan pernah berkaca bersama Fukuyama dialektika kami tanpa radio dan visualisasi anti-HBO tanpa agenda politik partai yang membuat Mussolini membantai D'Annunzio juga korporasi multinasional yang menjadikanmu lubang senggama kooptasi kultur tandingan yang berunding dalam gedung parlemen Partai Komunis Cina yang mereproduksi Walter Benjamin ke tangan setiap seniman Keynesian yang mensponsori festival insureksi dengan molotov cap Proletarian® instruksi harian dalam mekanisme kontrol pergulatan menuju amnesia lupakan Colombus, karena Bush dan Nike® telah menemukan Amerika® inkuisisi mikrofonik dalam kuasa estetika yang merevolusikan pola konsumsi menjadi intelektualisme organik seperti Gramsci ekonomi membuat kami mendefinisikan otonomi pada mesin foto kopi rima anti-otoritarian memandikan bangkai Hiphop® yang tak pernah kau otopsi membaca peta kekuasaan seperti KRS-ONE dan MC Shan sambil meludahi modernitas seperti Foucault diatas neraka Panopticon ketika Moralitas® telah berubah menjadi candu seperti Marxisme® dan Agama® maka MC mengambil mikrofon dan melahirkan tragedi dari puncak Valhalla karena Ardan® dan kalian hanya akan melahirkan kombinasi busuk seperti Iwan dan Djody, dikotomi antara Farakhan, Amrozy, dan Nazi bongkar paksa setiap parodi labirin eforia sensasional Harry Roesli B-boy semiotika artifak simultan antara ekstasi dan revolusi setiap properti privat adalah galeri dan merubah eksistensi menjadi pertahanan paling ofensif para Darwinis yang menolak menjadi partisan /

Saya teringat saat awal 80-an, entah tahun berapa tepatnya, didekat sebuah SD Inpres dekat rumah terdapat sebuah lapangan volley dimana setiap sore diadakan acara breakdance yang selalu saya tonton sebelum saya pulang sekolah. Saya tak pernah bisa breakdance dan memilih untuk duduk dipojok dekat sebuah tape besar yang memasok ritme bagi mereka yang berpartisipasi di atas lembaran kertas kardus. Saya selalu ingin memiliki tape jenis itu, yang tak pernah saya dapatkan hingga setahun kemudian, justru saat demam breakdance sudah mulai habis, ketika ayah saya pulang dari pasar loak di Cihapit membelikan sebuah boombox sebesar jendela dan sebuah soundtrack film Tari Kejang sebagai hadiah ulang tahun. Saya sangat bangga dengan boombox itu terlebih ketika melihat boombox yang hampir mirip dipakai LL.Cool.J untuk sampul album pertamanya, 'Radio, hingga hampir setiap hari saya bawa kemanapun saya bermain, meski tanpa baterai sekalipun. Dan memang demam breakdance melenyap, karena 'era'-nya sudah lewat dan 'Jack The Ripper', 'King of Rock' dan 'Rebel Without A Pause' pun tidak cocok untuk breakdance dan boombox itu berubah fungsi menjadi sebuah tanda tak langsung untuk mengatakan bahwa lagu yang diputar teman tetangga saya sucks. Wham sucks, Lionel Richie sucks. Memasang musik hingga indikator volume memerah. Dua dasawarsa telah lewat, boombox itu telah rusak dihajar umur. Namun kami besar bersama hiphop yang sama yang pernah diputar di tape itu. Hiphop yang notabene sebuah kultur asing yang kami tak memiliki tradisinya, bukan wayang golek dan bukan kecapi suling. Hiphop yang sama yang mengenalkan kami dengan sebuah semangat menghajar kebosanan dan cara-cara verbal dan fisik menampar status quo dan sekaligus sebuah rasa cinta pada kehidupan. Hiphop yang bukan 'bling-bling' yang kami dengar di radio akhir-akhir ini dan yang berotasi di MTV Non Stop Hits. Ini semua membuat kami berandai-andai membayangkan jika seorang B-boy menenteng boombox, lagu apa yang akan mereka putar supaya dapat mewakili mereka merepresentasikan identitas mereka, album apa yang layak diputar sebagai soundtrack keseharian mereka sehingga dapat berbagi semangat dan perasaan pada setiap kawan yang mereka jumpai sekaligus seolah menampar setiap tikus-tikus konservatif yang mencoba menyuruh mereka mematikan boombox tersebut. Kemudian bayangkan kata 'B-boy' digantikan dengan 'setiap orang', jika memang benar konon 'setiap orang' memiliki hasrat. Hasrat yang sama yang kami rasakan hari ini ketika kami menginginkan sesuatu. Sesuatu yang bukan bagian dari sebuah dunia lama yang usang, status quo yang menghalangi kami mendapatkan hasrat. Hasrat untuk lepas dari tirani ekonomi, hasrat untuk lepas dari kontrol, lepas dari imbas kebijakan para segelintir elit dan opresi otoritas, lepas dari kewajiban sok moralis, dari ketakutan terhadap bom yang setiap saat dapat meledak didepan teman dan keluarga kami, lepas dari usaha-usaha penyeragaman dunia, dari kontrol dan imbas manusia-manusia yang berlomba berkompetisi untuk mengejar hasrat-hasrat mereka, dari hegemoni negara dan korporasi, lepas dari kooptasi para mencret-mencret dasamuka bisnis untuk kemudian membayangkan setiap orang bekerjasama, berko-operasi untuk setiap kebutuhan dan hasrat mereka. Sebut itu utopia. Namun yang pasti hasrat itu kali ini harus kami capai bukan dengan sekedar duduk dan menunggu karena saya yakin ia tak akan pernah datang dalam bentuk kado ulang tahun. Now I got the brand new box and i'm about to pass it. Make sure everything remains raw then gimme ya playlist.

Dunia ini adalah sebuah altar, secara nyata atau secara metafor, dan kita berada diatas sebuah reruntuhan yang masih tetap mencoba membangun dirinya kembali dengan tumbal-tumbal sejarahnya. Reruntuhan semua ide-ide totalitarian yang sekarang bergerak sibuk ber-resureksi atas nama tata dunia baru, demokrasi, moral, massa, rakyat, agama, surga, perkembangan ekonomi, bunga bank dan pesona deodoran. Sebagian mendomplengi globalisasi dan sebagian bergerak diatas tribalisasi. Perang lama dengan elit baru yang selalu membutuhkan serdadu, pahlawan, reproduksi mesin-mesin perang mereka dan tentu saja, tumbal. History 'is history'!! Representasi dan identitas menjadi sebuah persembahan dalam ritual mutlak bagi altar manusia modern. Kualitas tak dituju melalui kuantitas, tetapi kuantitas merefleksikan kualitas itu sendiri.Tak heran mengapa imej begitu memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Resureksi atau lebih tepatnya lagi revival dari ide-ide totalitarian tak lebih dari perwujudan romantisme seperti halnya sosok seorang Megawati yang dirindukan oleh para pengikut Soekarno. Sebuah 'cover song' yang telah begitu menjijikan untuk dapat menjadi sebuah 'hit' kembali!! Who needs ideology if the ideas are in everyone's mind? Terlalu lama manusia menjadi objek dari ide-ide tanpa pernah memperlakukan dirinya sebagai subjek dari ide itu sendiri. Terlalu sentimentil dalam memilih produk yang mampu merepresentasikan dirinya tanpa pernah menggali potensi kekuatan dibalik redefenisi atau bahkan dekonstruksi, terlalu lama menjadi bagian dari sebuah entitas yang bernama 'massa' tanpa menyadari eksistensi dirinya sebagai seorang individu. Jika 'in-versi' hanya akan melahirkan kooptasi lainnya seperti halnya Punk-Rock® dan upaya-upaya in-versi lainnya, maka versi membutuhkan sebuah sub-versi. Karena takkan pernah cukup untuk hanya membalikkan sesuatu tanpa pernah menyentuh maknanya. Sesuatu yang terbalik tidak selamanya memiliki kapasitas negatif. Tetapi, seperti ucapan Ani DiFranco bahwa, 'every tool is a weapon if you hold it right'. Sebotol Coca Cola akan memiliki makna yang berbeda jika terisi bensin dan secarik kain. Reruntuhan altar ini dapat menjadi sebuah 'mosh pit' bagi segala sesuatu yang tak pernah dicap valid dalam kamus definisi jika manusia dapat menjadi 'Master of Ceremony' bagi dirinya sendiri. Track yang kami buat pada suatu sore ketika seharian memutar KRS-One, Quasimoto, Morbid Angel dan Carcass, pada hari yang sama ketika kami membaca sebuah artikel di sebuah harian tentang adanya rencana pemerintah membuat undang-undang yang akan mempidanakan seseorang yang tidak ikut pemilu dan mempengaruhi orang lain untuk ikut tidak mencoblos pada hari 'kiamat' itu. Hell yeah, seems like next year is madd interesting. Got ideas, anyone?

------------------------------------------------------------------
PURITAN (GODBLESSED FASCISTS)
------------------------------------------------------------------
adalah bagaimana manusia menyebut nama tuhannya : “tebas lehernya dahulu baru beri dia kesempatan untuk bertanya” pastikan setiap tema legitimasi agama seperti hak cipta supaya dapat kucuci seluruh kesucianmu dengan sperma persetan dengan Surga® sejak parameter pahala diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa kini leherku-lah yang membuat golokmu tertawa target operasi di antara segudang fasis seperti FBR di Karbala karena aku adalah libido amarahmu yang terangsang dalam genangan darah selangkangan Shanty jika kau menyebut parang bagian dari dakwah melahap dunia menjadi pertandingan sepakbola penuh suporter yang siap membunuh jika papan skor tak sesuai selera para manusia-unggul warisan Pekan Orientasi Mahasiswa paranoia statistika agama, wacana-phobia ala F.A.K B-A-K-I-N tak pernah bubar, mewujud dalam nafas kultural persis wakil parlemen yang kau coblos dan kau tuntut bubar partai bisa ular, belukar liberal Gengis Khan mana yang coba definisikan moral persetankan argumentasi membakar bara masalah dengan kunci pembuka monopoli anti-argumen komprehensi satu bahasa instruksi air raksa mereduksi puisi hingga level yang paling fatal kehilangan amunisi, sakral adalah ambisi wadal modernisasi, program labelisasi Abu Jahal distopia yang tak pernah sabar untuk menuai badai aku bersumpah untuk setiap jengkal markas yang kalian anggap layak bongkar dan setiap buku yang nampak lebih berguna jika terbakar jika setiap hal harus bergerak dalam alurmu yang sakral sampai api terakhir pun, neraka bertukar tempat dengan aspal batalyon pembenci Gommorah sucikan dunia dengan darah menipiskan batas antara kotbah dengan gundukan sampah jika membaca Albert Camus menjadi alasan badan-leher terpisah lawan api dengan api dan biarkan semua rata dengan tanah lubang tai sejarah, memang dunia adalah kakus raksasa nikahi bongkah kranium kerdil berpinak ludah jika idealisme-mu tawaran untuk mengundang surga mampir berikan bendera dan seragammu, kan kubakar sampai arang terakhir sratus kali lebih dangkal dari kolom Atang Ruswita seribu kali lebih busuk dari tajuk majalah Garda untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir diperapian tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap yo, fasis yang baik adalah fasis yang mati fasis yang baik adalah fasis yang mati fasis yang baik adalah fasis yang mati tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami /

Lagu ini ditulis pada pertengahan tahun 2001 lalu. Ketika terjadi fenomena pemberangusan gerakan 'pro-dem' (whatever the fuck that means), dan sweeping plus pembakaran buku-buku yang dicap 'kiri' oleh beberapa golongan yang berlindung dibalik topeng moral agama dan nasionalisme. Tak hanya sekedar itu, dengan dukungan propaganda massif lewat media massa (para elit mereka notabene merupakan pemilik beragam media massa lokal), mereka juga melakukan penganiayaan, pemukulan, penculikan bahkan penyerangan dan pembongkaran markas-markas aktivisme di beberapa kota. Pada awalnya hanya sebagian kecil saja yang memberanikan diri menentang mereka secara terang-terangan namun pada akhirnya gelombang fasis baru ini direspon dengan perlawanan di basis akar rumput pada hampir setiap kota. Beberapa kawan menyarankan untuk tidak merilis lagu ini karena alasan klise; masyarakat kita adalah masyarakat religius, namun kami berargumen bahwa fasisme tak ada hubungannya dengan religius atau tidaknya sebuah masyarakat. Kultur religius tak harus dibarengi dengan tabiat Mussolini dan Stalin, dan kami pikir setiap orang pun dapat membedakan antara agama dan fasisme, terutama mereka yang selalu membuka ruang bagi perdebatan dan argumentasi. Kecuali memang jika kita dikelilingi oleh para fasis atau dalam kata lain masyarakat kita hari ini adalah wujud lain dari gabungan pasukan Ariel Sharon dan Neo-Nazi. Itu sudah beda masalah. Lagu ini kami dedikasikan pada mereka yang pada hari-hari tersebut berada digaris depan, mulai dari Medan, Lampung, Jakarta, Bandung, Jogja hingga Surabaya. Keep ya head up, brothers. Stay Strong.
------------------------------------------------------------------
SEMIOTIKA RAJATEGA
------------------------------------------------------------------
MC hari ini lebih banyak memakai topeng dari Zapatista hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika bicara tentang skill dan kompetisi, mengobral sompral jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar MC butuh federasi dan breakbeats berdasi untuk sekantung wacana basi dan eksistensi MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi Saigon amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon sarat kritik, kosong esensi seperti kotbah kyai Golkar bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar gelora manuver rima Kahar Muzakar tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis krisis identitas, menyebut teman nongkrongnya 'niggaz' sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas berusaha setengah mati menjadi negasi berlindung dibelakang pembenaran interpretasi, basa-basi mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez /

Ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi melemparkan invitasi MC pada setiap rima dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga MC adalah negara yang membuat kontradiksi tak pernah final tanpa menifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal dan masih jauh dibawah horizon minimal memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional hadirkan konfrontasi maka MC lari mencari pengacara dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media yang membuat kau dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria

///representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur /

Memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan tapi pasti kalian dapatkan jika kalian menginginkan konflik atas nama kebanggaan bidani bacot murahan tentang imortalitas hiphop seperti liang dubur pahlawan kesiangan yang membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur karena aku adalah seorang kapiten neraka mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah kalian ancam kami dengan lulabi akidah paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas label adalah reduksi, komoditas residu industri kultural hegemoni, membidani oponen dalam posisi Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer Mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur memenej kalbu tanpa retorika Aa Gymnastiar menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek

[] MC Yang sama petantang-petenteng sekarang membawa aikon biz lebih banyak daripada anggota Slank Kalian para martir hiphop, patriot tai kucing Yang membela lubang pantat logika dengan darah Siapkan microphone kalian dan siapkan untuk menutup lubang tai sejarah dan bagi kalian yang menginterpretasikan lagu ini untuk kalian.. Lebok tah Anjing! []
Read more!

JEJAK-JEJAK KHIANAT

Senin, 01 Oktober 2007

Arinie Harfadinie

Dalam untaian sepi dan bimbang yang kian menjadi-jadi, telah kutemukan kedunguanmu. Kusambut seramah rumah tunggu. Lebar-lebar kubukakan untuknya arti kehadiran. Aku sebijak nafsuku. Tak peduli pada rindu! Aku sebijak nafsuku. Persetan dengan manjamu! Maaf, dunia kalian begitu kejam wahai lelaki! Tak banyak perempuan mempertanyakan kalian. Itu mungkin karena kelelakian memang kedok ketakutan. Lelaki bersembunyi dan menyembunyikan lembutnya pada seonggak kulit kasar dan embel-embel herois.

Aku tak tahu kenapa aku harus meninggalkanmu. Tapi aku juga tak punya alasan untuk tetap mempertahankan apa yang sudah terbina. Aku bukan perempuan sabar dan aku takkkan bisa menerima tawaranmu untuk kembali belajar sabar pada guru tersabar. Sudahlah, mari berdamai dengan kenyataan dan jangan salahkan keadaan! Sudahlah, lupakan rencana-rencana cinta kita yang kau susupkan ke dalam puisi-puisimu! Aku tak tega menyiksamu terlalu lama. Jangan kejar aku atau berharap aku datang lagi! Buka matamu, kenanglah burukku! Kencangkan telingamu, ingat selalu sisi muakku! Aku bukan aku yang kau kenal dulu!

Aku sedang butuh teman. Tapi bukan teman yang bisanya makan teman. Aku korban keganasan filsafat yang bejat. Saksi atas kebrutalan tanya yang tak terkendali. Sering makan hati dan mulai benci diri sendiri. Pernah aku berniat bunuh diri. Tapi tuhan punya cara yang selalu tak terduga dan aku dibiarkannya untuk menggagalkan niatku. Untung tak ada yang tahu, jadi tak perlu malu.

Yang paling menarik dariku sebagai seorang perempuan adalah wajahku. Selanjutnya postur tubuh yang dulu katamu selalu bikin tegang urat rindu dan senyum yang diciptakan dua bibir rekahku yang tak pernah berkenalan dengan produk-produk pemalsu keindahan. Tapi aku tahu kalau cinta atas dasar ukuran dada dan atas lihai pinggul saja, bukanlah cinta! Beruntung aku pernah punya kekasih yang selalu menomersekiankan tampilan fisik yang kelak jadi makanan ulat-ulat kubur. Tapi aku kurang beruntung mendapatkan kekasih yang bisanya cuma bikin puisi. Bukan karena tak menghargai hobinya meramu desah, tapi orang-orang yang sudah melampaui batas, sebaiknya belajar menghargai orang-orang yang belum.

Dulu aku perempuan paling bahagia. Paling merasa diwanitakan dan paling punya cara untuk mensyukuri anugerah cinta. Laki-laki itu sebenarnya sama sekali ngga’ sama dengan konsep-konsepku tentang laki-laki dalam benakkku. Ngga’ atletis. Ngga’ romantis. Ngga’ berkepribadian. Miskin. Jelek. Seram dan ngga’ seIman. Tapi kemampuannya dalam menipuku, sempat membuatku terkapar. Berkali-kali aku kuwalahan menghadapi rayuan maut dan nakal bibirnya. Berkali-kali juga aku tak bisa menolaknya. Laki-laki itu telah memperkosa jilbabku. Kemana aku mesti melapor dan minta perlindungan hukum? Bukankah di mata hukum, cinta tak pernah dimaktubkan dalam pasal-pasal kekeliruan? Bukankah laki-laki itu cuma bertindak kurang ajar dengan jilbabku saja dan akupun ikut menikmatinya? Bukankah kalau itu memang dosa, itulah dosa termanis? Bukankah kalau itu memang salah, Tere juga bilang kalau itu adalah salah terindah? Dalam situasi seperti ini, tampaknya hanya diri sendiri sajalah yang bisa dijadikan sandaran dan meja pengaduan sesalku. Aku siap mempertanggunngjawabkan kemarin, hari ini dan esokku.

Entahlah! Aku tak punya pilihan selain menghindar dari belenggu cintanya. Itu bukan karena aku sudah tak cinta. Melainkan karena aku memang seorang pengkhinat yang sejak lahir hobby menyakiti laki-laki. Ya, kuakui itu! Kalian tahu apa dan dimana nikmatnya menyakiti hati laki-laki, wahai perempuan? Sini mendekat dan akan kubisikkan sesuatu yang baru kucuri dari altar cinta!

Cinta itu barang murah. Bisa diobral semau kalian kok. Jangan berdramatisir! Jangan berpikir yang tidak-tidak dan sok suci lagi mensucikannya! Cinta itu bukan bagian terpenting yang mesti dipentingkan sedemikian penting. Bukan judul besar ketertundukan manusia pada rahasia-rahasia yang tak pernah bisa dipahaminya. Perempuan, kalian jangan bodoh! Buat apa bermain dengan nyala yang dijamin mampu membakar kelembutan dan garis takdir sendiri? Buat apa menyimpan mimpi tentang putri yang diselamatkan pahlawan bertopeng ganteng. Jangan pusingkan sangka dan menghabiskan tenaga hanya untuk membedakan topeng dan raut muka musuh di balik topeng.

Perempuan, sudah ngga’ zamannya aku dan kalian mempertanyakan arti bahagia dan kelumit ngalah untuk menang. Kalau kalian tak nyaman dalam peluknya, lari saja! Cari ganti dan jangan bicara tentang etika lagi! Ingat, jumlah kalian sudah semakin banyak. Itu artinya, saingan dan persaingan makin memperjelas kenyataan! Tunda dulu kesetiaan! Raup keuntungan dan kumpulkan keuntungan dari laki-laki yang ingin kalian jadikan santapan makan malam. Masalahnya, kalau tak menyantap, maka kalian pasti akan disantap!

Perempuan, laki-laki mau mabuk atau tidak mabuk dua-duanya pecundang! Buktinya, dunia yang sedang kita tempati ini adalah dunia mereka! Adalah klise yang menyakitkan jika aku kembali bilang bahwa sejak semula perempuan itu memang masyarakat terpinggir yang hadirnya hanya untuk menyempurnakan kelelakian saja! Kita cuma diminta bikin anak dan dipandang sebagai mesin pencetak dan pemuas! Lalu, apa arti kebermaknaan kalau begitu?

Kita mesti jahat. Kita mesti jadi pengkhianat. Kita mesti tanggalkan senyum untuk mendapatkan hak kita lagi. Jangan menunggu hujan turun saat orang punya payung dan bisa berteduh di bawah atap gedung. Omong kosong kalau perempuan mesti diam dan bersahaja dalam kelembutan! Omong kosong kalau kita serahkan keperawanan kita hanya untuk membuktikan dan mengiyakan pesan-pesan cinta! Maaf, Kontak kelamin adalah murni urusan libido dan kemasuk doa biologis! Karena itulah aku berpesan ; Jangan sok suci! Sebab yang sok, biasanya memang tak suci! Nikmati saja! Bahkan bukankah penderitaan takkan menghasilkan apa-apa selain desah dan keinginan kita untuk minta tambah dan dikerjai lagi?

Perempuan, kalian jangan lemah dan melemahkan diri lagi! Berkhianatlah! Jadilah pengkhianat yang paling bejat dan hadiahi laki-laki itu sekuntum laknat! Terbanglah dari satu pelukan ke pelukan lain! Eh maaf, maksudku dari satu dompet ke dompet lain. Atau kalau mereka tak punya dompet, hapalkan saja nomor rekening atau nomor PIN Atm mereka! Telanjangi isi kantong mereka sebelum mereka sadar akan perbuatan mereka saat dan setelah kita ditelanjangi! Manjakan diri kalian di atas kejayaan dan lipatan rupiah mereka. Perbudak mereka dan suruh mereka menjadi pelayan yang baik dan selalu stand by kapanpun kalian butuh tenaga mereka. Minimalnya, jadikan mereka supir antar jeput. Ya, ini memang analog yang mesti kalian panjangkan tafsir dan ta’wilnya. Kalian tak boleh picik dan licik!

Ach… aku cuma mau bilang kalau aku baru saja menawarkan sisi lain di balik hingar bingar jerit waktu. Sebagai perempuan, aku berhasil dan wajar menepuk dada saat menyakiti laki-lakiku. Yang paling bisa kubanggakan, aku sakiti mereka dengan senjata mereka sendiri. Caranya gampang kok, adu domba dan bikin mereka cemburu atau setidaknya menyesal pernah mengenal kita. Pakai laki-laki lain untuk mengusir mereka dari kehidupan cinta yang terekayasa dalam langkah cengeng mereka!
Halalkan segala cara untuk memperjuangkan apa yang mesti diperjuangkan!
Perempuan, bergabunglah bersamaku dan mari merapatkan barisan dan berjuang untuk selamanya tidak pasrah mendapat shaf di belakang! Acuhkan dosa dan sakit hati mereka! Sebab kalau tak begini, kita yang akan terus tersiksa! Sudah lama dan aku bukan orang pertama yang mengajak kalian untuk belajar berontak dan mencoba bangun dari rela panjang kita. Atas nama dendam dan sakit hati, silahkan menjual apa yang bisa kita jual. Gadaikan apa yang memang layak digadaikan! Sekali lagi, bergabunglah dan jangan pernah berjuang sendiri-sendiri!

Perempuan, sudahi tetek bengek kebingungan dan ketidakmengertian kalian! Hidup dan dunia lebih dari sekedar untuk dimengerti. Dunia kita, ya, dunia kita bukan dunia yang mesti mengabaikan bingung dan bukan juga dunia yang mengedepankan pengertian. Dan akupun hampir tak mengerti sedang apa aku hari ini dengan tulisan seperti ini. Tapi aku sadar bahwa aku yang menulisnya dan pengalamanku yang memaksaku untuk tetap menulisnya. Kita terlalu muda untuk terus bercanda. Tapi kita juga terkadang mesti melampaui usia kita sendiri. Doaku akan selalu menyertai kalian, wahai perempuan-perempuan yang bingung karena tak pernah kebingungan! Sayup dan samar sebilah jaga di ruas tanya membahana ;

Idza waqoatil Waqiah
Laisa liwak’atiha Kadzibah
Khafidhatu-r-Rafi’ah


Timoer Bandung,
September 05
Read more!

Tuhan Yg Diaykini

Oleh Ahmad Gibson

Tuhan, dalam perspektif empirik, bukan bagian dari kehidupan real manusia. Ia, dalam kehidupan manusia, ada sejauh diyakini. Hadir dalam realitas keyakinan (imani). Yahh.. diyakini keberadaannya (dengan tanpa argumen). "Sekedar" diyakini sebagai Dzat (...eksistensi) yang menjadi sebab bagi eksistensi lainnya; sebagai eksistensi yang mengatasi segala sesuatu...

Dalam realitas keyakinan, Tuhan hadir sebagai realitas tanpa warna (buram), tak tersentuh, tak terkatakan, tak terkonseptualisasikan. kalau pu Ia hadir sebagai "kosepsi sederhana dalam lubuk keyakinan kita", konsepsi itu tampak sebagai bayang2 dari sesuatu yang tidak ada wujudnya...... Tuhan hadir dalam keyakinan seperti sebuah stempel yang "entah" siapa yang mencantumkannya, kita biasa menyebutnya sebagai fitrah, hadir sebagai wujud kasih sayang Tuhan.

Karena Tuhan hadir dalam dimensi keyakinan yang unspeakable, maka manusia berusaha untuk merumuskannya dalam pikirannya. Suatu proses berpikir seperti menyambungkan titik-titik yang jumlahnya tak terhingga. Titik yang tentunya memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Titik-titik itu (yang ada dalam relung keyakinan kita) tidak jarang membuat pikiran kita terantuk-antuk. Bentuk akhir dari pemikiran kita dalam upaya untuk menyambung-nyambungkannya hanya memiliki satu referensi, yaitu keyakinan itu sendiri.... Oleh karena itu, wajar bila setiap orang memiliki pikirannya masing-masing tentang apa/bagaimana itu Tuhan..... Read more!