Ayat-ayat mu tercabik-cabik
terkoyak-koyak
oleh keserakahan
ambisi nafsu duniawi
Dimanakah dirimu TUHAN?
Dago, 23 Desember 2005
TUHAN
TUHAN, Aku sering bertanya pada langit
pada bumi
pada setiap yang tersadari
dimanakah engkau berada?
Hati ini ngasih jawab :
Tuhan ada dalam jiwa yang suci
Dago, 23 Desember 2005
PEREMPUAN
Perempuan itu Goblog.
Dago, Juli 2007
PEREMPUAN
Dia Perempuan Baik
Dago, September 2007
Read more!
TUHAN?
Jumat, 07 Desember 2007Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 00.45.00 2 komentar
Label: Sajak
Serat pakuat-pakait
KUMISALPEDITOX
Nyakclak totos lalangit pangiuhan,
nyalaleungir bari namprak kaluhur kanu gopur
Munyunghul anu ajeug pageh
manjangkeun leungeuna nuharejo kerngagupayan anu hirup
sangkan nampi anu nolol kaluar matak kabita.
Tapi laindei numurungkut bari jameudud mikiran nungalayang
bakat benang kukasedih, budak cerik, indung bapana ngajerit, dulur salembur kabur,
kurulang-kuriling neangan penempatan
eta mang rupaken kahirupan manusa di alam dunia, silih pakuat-pakait bener-salah,
luhur-handap, harep-tukang, lalaki-awewe, langit-bumi, hirup-paeh, nolol-nyungseb, kulah-cai, juru-sisi, bor-kapur kardus-esi, akar-tangkal, indung-bapak, kolot-budak, adi-lancek,
nyai-akang, teteh-aa, nini-aki, abah-ambu, mojang-jajaka, agama-filsafat.
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 00.43.00 0 komentar
Label: Sajak
Ngagelebug
kumisalpeditox
Berhembus angin malam berdamping cerahnya bulan
Berhembus angin siang bersandar terangnya cahaya matahari
Berhembus angin darat berayu lambayan dedaunan
Berhembus angin laut benarik tarian ombak
Berhembus nafas dipagi hari ¼ dinginnya subuh
Berhembus nafas disore hari ¼ dinginya ashar
Berhembus nafas yang mendengkur lelapnya tidur
Berhembus nafas yang sekarat 1/2nya kematian
Berhembus angin malam ibarat terbakar disembur air
Berhembus angin siang ibarat ½ kecepatan kipas angin
Berhembus angin di taman tulang malam hari membuat bulu punduk merinding
Berhembus angin perhubung lewat membuat hati kaget
Berhembus nafasmu bau
Berhembus nafas sang Naga membuat hancur Dunia
Berhembus nafas knalpot membuat manusia keracunan
Berhembus nafas lemari ES membuat manusia membeku
Berhembus angin dilautan membuat ikan takan pernah mati
Berhembus angin ditepi gunung membuat pohon menjadi kokoh
Berhembus angin dilangit membuat awan menjadi rapih
Berhembus angin diangkasa membuat planet berputar
Berhembus nafas makhluk dilautan keluar dari insang
Berhembus nafas makhluk didaratan saling berhubungan antara tetumbuhan
Berhembus nafas makhluk diudara membuat sayap menggeplak
Berhembus nafas makhluk ditanah membuat menjadi gembur
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 00.41.00 0 komentar
Label: Sajak
ADIOSSOLITERIUM
Mayz; bila ziarahku asai disini, sebelum akhirnya kulekatkan
Nasib ini, izinkan aku melesap dipertapaan tanpa ada
angisan. Usia bukan milik kita, may
Hanya satu, may;
Jalarkan sebaris edellweis senyumu dipusaraku. Aku
Pergi ketempat yang damai nankekal; seabadi potretmu
dihatiku
Lelaki disimpang ke[gilaan]
Julyduarebutujuh
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 00.35.00 0 komentar
Label: Sajak
Mengapa???
Kamis, 22 November 2007Mengapa kita banga dengan mekarnya kembang
Di suatu taman milik orang lain
Keindahan yang membuat kita lupa atas semua
Bukankah lebih baik
Kita bersyukur atas kejelekan sendiri
Tanpa itu tak ada kebaikan
Kebobrokan, kebodohan, atau seibu satu lainya
Dari kekurangan kita
Adalah tak mudah untuk mengakui itu semua
Sama seperti sulitnya mendambakan kesempurnaan
Pada akhirnya kebaikan adalah sisi lain dari kejelekan
Sebaliknya
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 23.06.00 0 komentar
Label: Sajak
KAKEKTUA
Di atas hitamnya jalan aspal
Seorang kakek tua berjalan
Menarik gerobak kayu berat tak-terkirakan
Dengan megapit dua penarik roda
Tangannya bergetar
Mulutnya tak "diam'
Bergetar, bergetar, bergetar
Gerakan bukan diperintahkan
Sepasang kaki bengkok berhadap-hadapan
Berjalan bersampingan dengan putaran roda kendaharan berharga milyaran
Menginjak, menginjak tanpa alas atau pembatas
Panas-panas, panas.
Untaian kata seolah tak dapat di sewa seandainya dunia bisa
Bahasa tak mewakili apa yang dirasa
Tanda seolah-olah bukanlah simbol atas apa yang ada
Mata tak dapat menucurkan air tanda derita
Jiwa serasa tak merasa atas apa yang ada
Tak sangup, tak sangup, tak sanggup
Melihat apa yang ada
Di sini, di sini
Di tempat yang dianugarahi sang dewata
Mengapa, yang ada adalah neraka
Di sini, di sini
Di tempat agama-agama terbesar ada
Mengapa yang ada adalah durjana
Di sini, di sini
Di tempat terkaya di dunia
Mengapa yang ada adalah sengsara dan derita
Di sini, di sini
Di tempat, bernama bangsa
Yang seharusnya adalah kita
Mengapa yang ada hanyalah mereka bahkan dia
Di sini, di tempat ini
Yang seharusnya ada adalah tidak ada
Mungkin, dia, dialah yang mampu menerima kenyataan dunia
memperjuangkan derita tanpa bergantung kepada Dia
dia, dialah kakek tua renta
Bangga atas apa yang diterima
dia adalah dia
Tidakkah, aku atau kita bercermin pada dia
Kalu tidak, tidak kah aku atau kita adalah raga tanpa jiwa
Bahkan orang gila
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 23.02.00 0 komentar
Label: Sajak
WARNA-WARNI
Memang, hidup unik
tawa, canda dan gembira
kesedihan, kekecewaan dan keputusasaan
Kebingungan seolah-olah tak mau ketinggalan.
kehidupan
Setiap orang akan mengalaminya
Tak ada kekecualian
Satu atau dua detikpun tak akan terlewat
Orang kaya atau orang miskin
Dewasa dan orang sudah lanjut usia
Ada cinta, ada benci
Ada kagum dan ada bangga
Bahkan ada juga yang ada tapi tak dapat diadakan dengan kata
Setiap orang dituntut untuk menghadapi
Tak dapat mengelak
"Hatta" bersedia atau tidak
Hanya yang berjiwa besarlah yang dapat bahagia
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 22.51.00 0 komentar
Label: Sajak
PERJALANAN
Liku-liku kehidupan terus berjalan
Detik-detik waktu terus bergerak tanpa tersela
Kejadian demi kejadian datang silih berganti
Kompleksitas hidup seolah menjadi warna tersendiri
Bukti bahwa dunia betapa penuh misteri
Sore terasa sepi
Alunan suara musik terdengar keras berbunyi
Sayup-sayup terdengar suara kendaraan melaju melewat
Lamunan pun melayang mencoba menangkap semua yang terjadi
Sesosok penghuni alam semesta bernama manusia termenung dalam sunyi
Memikirkan atas apa yang telah dan sedang teralami
Dunia memang banyak menyimpan teka-teki
Ada yang telah berhasil diungkap
Ada yang masih terendap jiwa alam buana
Pertanyaan datang bertubi-tubi
Tanpa berhenti dan bisa ditutupi
Kebenaran terhijab sayap setan
Kebohongan dunia membuat manusia tersesat tanpa sadar
Terbayang masa silam
Saat dunia seolah menyeret pada keputusasaan
Hari-hari seolah enggan untuk memberi kebahagiaan
Secerca harapan selalu menuai kegagalan
Mimpi menghantui
Impian terasa bagaikan siksaan dalam keterjagaan
Tiba-tiba segalanya berubah
Keajaiban datang
Menawarkan sesuatu yang diimpikan
Namun tak pernah terbayangkan
Impianpun mewujud jadi kenyataan
Kegembiran dengan harapan bercampur,berpadu
Seolah ingin memudar keluar dan berkata
Merdeka
Kini semuanya serasa tak pernah ada
Hampir tak pernah teringat
Semuanya serasa tak pernah berbeda
Sekarang dan dulu seakan-akan adalah satu
Tak pernah ada dua masa dengan dua dunia
Inikah namanya kehidupan
Detik demi detik seolah baru dan baru
Tak ada dulu atau yang akan datang
Yang ada hanya sekarang dan disini
Semuanya terasa sama
Asing, dan penuh tanda tanya
Walaupun ingat, seolah tak pernah terjadi
Semua seolah berlalu dan berlalu
Sesederhanakah hidup ini
Tak mungkin
Bisakah setiap hembusan napas terasa penuh makna
Kesedihan seolah tak pernah menimpa
takkala kebahagian memberikan kesenangan
Belajarlah untuk hidup
dalam setiap detik kehidupan
Renungkan dan ambillah hikmahnya
Kita hidup sekarang dan disini
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 22.39.00 0 komentar
Label: Sajak
KASIH
Ia mati di atas ranjang
Ditemani penyakit
Disaksikan erangan kesakitan
Dalam pengapanya ruangan
Bau obat-obatan
Ia mati di atas hitamnya jalan
Di rampok, dibunuh ditindas kekuasaan
Ia mati, putusnya kehidupan
Atas nama tuhan
Memperjuangkan kejayaan
Berperang membunuh atau dibunuh
Katanya mulia
Dengan motif benci
Berakhir sadis dan hilangnya nyawa
Yang ada adalah anjing
Ia mati atas nama kemerdekaan
Perjuangangan untuk sebuah kebebasan
Berkibarnya sang saka bendera di atas cakrawala
Sebuah pengorbanan
Hening, riuh resah
Bak air permukaannya tenang
Dalamnya gemuruh dan riuh
Aku ingin mati diatas pangkuanmu
Dalam dekapan nan belaian
Tangan dan pelipis pipimu menenangkan resah jiwaku
Dalam kesempurnan
Menuju yang maha tak-terdefenisikan
Tempatku berawal dan kembali
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 22.26.00 0 komentar
Label: Sajak
HITAM
Sancang, i4, i2, o5
Kulihat dunia dengan kacamata hitam
Tersingkaplah bayangan kenyataan, serba hitam
Akupun menjadi hitam. Hidup pun menjadi serba hitam
Apakah dunia ini berwarna hitam?
Hidup adalah di sini dan sekarang
Dulu adalah guru
Masa depan adalah tujuan
Jangan pernah berharap mendapatkan permata intan
Kalau sebutir pasir belum pernah dimanfaatkan
Aku lebih memilih menderita dari pada bahagia
Padahal keinginan sejati adalah bahagia
Pantaskah aku berbuat itu semua
Apa yang harus aku lakukan sekarang
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 22.07.00 0 komentar
Label: Sajak
ILAHII
Sancang, i6, i1, o5
Malam terasa dingin
Kesunyian menyergap dalam
Susana tenang
Iringan lagu menenangkan hati
Syahdu dan merdu berpadu menjadi satu
Aku duduk menuliskan keadaan diriku
Merenungkan atas apa yang aku rasakan
Menuliskan penggalan peristiwa yang telah dilakukan
Mencari kebijaksanaan diantara deretan perbuatan
Kosong rasanya hidup ini
Semuanya terasa seperti dengan sebelumnya
Hampa tiadak ada yang ada berbeda.
Stagnan dalam setiap laju detik yang terus berjalan
Ilahi dalam dirimu aku berada
Hidup di bawah kasih sayangmu
Kebebasanku adalah kemutlakan dirimu
Keterikatanku adalah kekuasaanmu
Ialahi tempatku berada
Kepadamu aku bersimpuh dan mengadu
Memohon petunjuk atas hidup
Ilahi kepadamu dalam pengampunanmu aku pasrah
Menyadari atas segala kekhilafan yang telah hambamu lalukan
Ilahi bimbinglah kepanaan ini dengan rahmatmu
Menuju kesempurnaan
Menjalani kehidupan sesuai dengan ridhamu
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 21.55.00 0 komentar
Label: Sajak
Igau
Senin, 01 Oktober 2007Igau Kentuckian
Aku menjinjing doa kesana-kemari
Seungkap harap dalam hasrat
Tanyalah pada Ibrahim
Bagaimana ia mencari Tuhan
Aku berfikir dalam merasa
Semedikan diri pada tanya yang meruntuhkan
Sabda-sabda sebelumnya yang diyakini
Kini, lahar kesia-siaan saja
Sebagai kopi hangat dalam hidupku
Hal inilah yang kutemukan dikamar kecil
Setelah shubuh kutelan mentah-mentah
Sepucuk Pernyataan, Elia!
Elia,
Kau titikkan sebercak cerita pada ketiak benakku
Bahwa lorong-lorong kehidupan penuh dengan tanya yang tak selesai
Dan aku harus menjadi
Seperti Muhammad yang berani menabahkan diri
Di tengah kaum jahiliah
Kini biarkan aku mentashbihkan jiwaku
Merukukkan hasrat dan harapku
Mensujudkan segala inginku
Karena tak ada yang mampu meng-imankan
Kecuali Dia
Di Kamar Ini Aku Selalu Menanti
Di kamar ini aku selalu menanti
Mentuma’ninakan cinta
Dan kasih yang merobohkan seluruh dendam
Aku atau kamu masih berhutang
Di sepanjang perjalanan kita
Marilah kembali…!
Surat Untuk Para Kekasih
Aku mengenangmu wahai para kekasih
Dari layar sejarah aku telan
Kesetiaan, kesabaran dan cinta
Yang kau bungkus dengan rindu
‘getarku mungkin tak sampai’
Berapakali aku bercakkan tintamu
Pada buku harian
Ternyata selalu percuma saja
Dosa dan doa kini mulai mengkabur
Oleh keinginan dan hasrat yang meraja
Mampirlah! Mampirlah!
Wahai para kekasih
Peluklah jiwaku yang menggigil
Di tengah gelombang hidupku!
Atau dunia ini tetap aku acuhkan
Wahai para kekasih
Mampirlah!
Di sini semakin tak terarah
Dimana jejak yang harus diikuti
Dan yang harus dihindari
Setangkai Jiwaku
- Buat Orang Tuaku
Wahai orang tuaku
Aku kirim bungaku untuk-Mu
Tapi aku tak tahu ini bunga apa
Kerinduanku adalah benih persetubuhan
Embun dan bunga di telapak matahari
Untuk-Mu aku ingin kembali!
Wahai orang tuaku...
Sepanjang Malam
Sepanjang malam aku mengunyah yang sudah terjadi
Dan sabdamu belum sempat kulipat di hati
Semuanya telah terbuka antara luka dan dosa
Kini, aku harus diam
Keangkuhan rinduku menggetarkan
Seribu hasrat pada-mu
Tenggelam dan tenggelam.
Di sini, wahai sang tercinta!
Ada keributan antara raga dan jiwa
Antara anak-anak dan orang tua
Sehingga geletar yang merajut makna
Tak terdengar mengkidung sebuncah pun
Sepanjang malam menangiskan diri
Sesujud penyesal di hamparan hening dan nama-mu
Kini, aku harus diamkah?
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 23.14.00 0 komentar
Label: Sajak
Sajak
Sajak-Sajak SUTISNA
Amparan katineung | Berhati lembut | Cincin |
Galuh Katresna | Kadeudeuh | Kekasihku | Kelam | Perjalanan | Puisi Malam | Pupujaning Ati | Sang Dewi.
Amparan Katineung
Dalingding asih dimumungung gunung
Ngahibaran sagara rasa nu teu wasa
Nyingahareupan guligahna panghareupan
Duriat manteng ngagalindeng
Nganteurkeun lamunan ka alam maya
Ngajak lalyaran dina amparan kembang hareupan
Nu kiwari tinggal carita
Berhati lembut
Gerimis malam jatuh didedaunan
Mengiring mimpi-mimpi menuju keindahan
Kala siang panggung derita terus menghantam
Di perempatan kehidupan umat manusia
Berkati dunia
Oh yang maha agung
Sinari cahaya dirinya dengan cintaMu
Karena ia berhati lembut
Selalau merindukan wajahnya pada sesama
Cincin
Gemerlapnya sutra di pikiranmu
Menutup kepedihanmu
Yang penuh dengan perih
Engkau tak rela ditelan harimau yang lapar
Yang setiap saat dihadapanmu
Tataplah keadaan cinta yang kau miliki
Jangan merengek pada kehidupan
Hadapilah dunia apa adanya
Berjuang, berjuang dan berjuanglah
Galuh Katresna
Wewejaning ati nu ngesian geurenteus hate kahirupan
Panggupay rasa
Panggugah carita kaputus asaan
Sabobot sapihanean mangrupi tatanan hirup
Pamo ulah kabawa-bawa ku ala massa
Komo deui kajurung ku hawa nafsu ngumbar amarah
Matak pegat di tengah jalan
Nafsu matak kaduhung
Badan nu katempuhan
Kadeudeuh
Lir ibarat cai ibun nu ragrag ka patanaman
Niisan ka kembang anu sumedang ligar
Mihareup pangjajap kadeudeuh anu pageuh
Nancep moal ingkah balilahan
Moal sakoneng daun pare
Jujunan pupunden asih
Tebih jauh kalangitan
Anggang bulan ka bentang
Sagara rasa teuwae sirna
Nyeceh pageuh dina fikir
Nu hiji waktu bakal di ukir
Kekasihku
Jangan merasa sendirian dalam hidup
Duhai kekasihku
Derita yang engkau tanggung
Adalah perjalanan hidup
Senja kala engkau pun akan tersenyum
Melihat mimpi-mimpimu menjadi kenyataan
Pandanglah air sungai yang mengalir
Air mengalir mengikuti tempat
Serta kehadiranya dinantikan
Oleh segenap mahluk
Bercerminlah pada air
Kelam
Dunai bagaikan dalam onggokan tong sampah
Penindasan selalu datang menghantam
Ia tak peduli siapa yang ada dihadapannya
Mukanya merah kelabu
Bibirnya selalu melafalkan asma Tuhan
Kejahatanya sangat licin
Ia memperdayai orang-orang dengan dalih agama
Menjual aya suci demi kekuasaan
Dunia kini menuju kehancuran
Tindakan biadab bagai barang mainan
Dipermaikan dan selalau dipermaikan
Hidup pun adalah permainan
Perjalanan
Siapa menyangkal takdir telah mengungkung kita
Tak disadari hidup penuh dengan bumbu-bumbu kepalsuaan
Aromanya adalah janji-janji manis
Akankah dirimu selalau ditikam sang takdir
Akankah engkau bangkit
Atau malah terdiam
Hingga engkau mati konyol
Segera bangkit sebelum terlambat
Sang fajar telah menantimu
Kehalusan segera datang
Menjelma menjemputmu
Kemarilah
Oh sang waktu
Aku merindukanmu
Puisi Malam
Daun kering berjatuhan dari rantingnya
Terhempus badai pasir yang mengaung
Meluluhkan kedamain dunia yan baru tercipta
Singgasana malam merintih dalam kesunyia
Terdiam dalam berjuta bahasa
Ditikan oleh panasnya nafsu dunia
Hanya bisa pasrah pada sang takdir
Yang merengguk kebebasanya
Yang menikam dengan jeruji-jeruji kebenaran
Atas nama cinta
Atas nama agama
Atas nama kemanusiaan
Dirimu dianiaya
Pupujaning Ati
Renggat galih nu katampi
Milari kaasih nu teu ngajadi
Neangan pangdumukan rasa
Ka diri nu tunggelis
Ngabebenah diri ku keclakna cimata
Inget gesan diri nu teu ngajadi
Rusak di teureuy anak zaman
Urang muja sukur ka sanghyang widi
Maca tasbih sareng kalimat tahmid
Ngeusian hate anu sumpek
Ku rupa-rupa pasualan dunya
Sang Dewi
Senyummu membalut luka dijiwamu
Yang lama diterjang bala tentara kejahatan cinta
Bara api kedurjanaannya
Mencengkram jiwa-jiwa manusia
Menjerat hingga dibuatnya tak berdaya
Bangkitlah
Hadapi kekjaman dunia dengan rengkuhan cinta
Kalahkan setanisme yang ada didirimu
Berdirilah
Wahai sang dewiku
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 20.46.00 0 komentar
Label: Sajak
Sajak
Sajak 2 Selintas
Sajak Modjo
Rindu ini terserak diladang harap
Di indah taman kasih
Sayang adam pada hawa
Kuambil tiap kepingnya
Bersama resah badai menyapu
Ataukah saja biarkan mereka terbang
Karena akit kunjung menganga
Diriku hanyalah huruf,yang tak pernah menjadi kata
Tak terangkai dalam kalimat, tak tertulis dalam karangan
Aku hanya jalang, merangkak jalan berbatu merentas
Hari berliku melintas laut bergelombang
Aku hanya karangan narasi tuhan
Disisipi kata perintah dan larangan
Langkahku menuju titik keabadian
Yang diawali dari aneka kelahiran
Dan ketidak tahuan
Modjo
Mahasiswa Aqidah Filsafat smester empat dan aktivis LPIK
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 20.29.00 0 komentar
Label: Sajak
Solilokui
Sajak-Sajak M Arkan Rahmatullah*
Solilokui 1
Kadang aku ingin melipat jasad..
Di keheningan malam yang senyap..
Menunggu dan menunggu,
Sebuah jeda yang semakin sayu..
Perempuan..
Dan hadirmu beningkan solilokui ini,
Sebab dalam sunyi,
Aku tak bisa bernyanyi sendiri..
Solilokui 2
Ada yang sempat tak terucap,
Meski hening belum menyergap..
Di sini, si surau yang berpeluh,
Seribu dendam jatuh,
Seperti firman yang jauh..
Saudaraku..
Ternyata dalam sunyi,
Kita harus bernyanyi sendiri..
Solilokui 3
Membaca solilokui ini,
Hanya ada jelaga tak berperigi..
Aku ingat pernah menelan api,
Mengalirkan nyali,
Mengubur nurani, hingga mati
Dalam hari-hari yang nyeri..
Sedang aku ingin kembali,
Kembali menantang mentari..
Solilokui 4
Katakan solilokui ini hanya
Hamparan gulita rasa percuma
Batas upaya diri di jelang senja
Sebelum lelap hadir menerka..
Namun, tidakkah ia pernah berarti,
Retakan sesal dan nestapa yang mengunci
Setelah mauvaise foi ini tak lagi berdiri
Pada sejuk, pada api..
Dan sekali lagi, aku hanya harus berhenti..!
Read more!
Diposting oleh Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung di 20.27.00 0 komentar
Label: Sajak