<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299</id><updated>2012-02-16T14:57:38.220+07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Sajak'/><category term='Tokoh'/><category term='Cerpen'/><category term='Refleksi'/><category term='HMJ'/><title type='text'>AQIDAH FILSAFAT UIN SGD BANDUNG</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>40</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-5291475753089425960</id><published>2009-05-27T12:56:00.001+07:00</published><updated>2009-05-27T13:02:17.868+07:00</updated><title type='text'>MEN[ZIARAH]I TUHAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_6wLObppWAXU/ShzXVRj7YzI/AAAAAAAAAEY/XJHfq71_iqM/s1600-h/Apuy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_6wLObppWAXU/ShzXVRj7YzI/AAAAAAAAAEY/XJHfq71_iqM/s320/Apuy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340380018645885746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_6wLObppWAXU/ShzW94US5VI/AAAAAAAAAEQ/h6pKS6qYB0k/s1600-h/Apuy.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_6wLObppWAXU/ShzW94US5VI/AAAAAAAAAEQ/h6pKS6qYB0k/s320/Apuy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5340379616732439890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;AKU hanya mampu berjalan dengan tertatih-tatih. Tanpa menyandarkan diri pada laku common sense. aku masih bisa terus melangkah menapaki arah pada ketidakberarahan. Siang itu, dengan suara parau dan serak aku berteriak layaknya sigila—Nietzsche yang mewartakan kematian sang Kholiq (tuhan) pada kerumunan orang di institusi yang bernama IAIN; Gott isn tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn gototet—“Tuhan telah mati! Tuhan terus mati! Kita telah membunuhnya”&lt;br /&gt;Bukankah kita sudah sama-sama mengsabdakan kematian tuhan dan menyanyikan lagu  kaddish—doa untuk orang mati, moga arwahnya tetap tenang, dan terbebas dari segala kutukan atas laku yang diperbuatnya meng-Ada. Amin. Konsep gestalt bergemuruh diruang tapal batas kebenaran-nihilistik. Kita terlanjur mengamininya dalam penjara banalitas dan kita larut dalam keseharian sehingga lupa akan kebenaran—kemeng-adaan kita sebagai manusia. Yang kita agungkan adalah Kebenaran yang berlaku diatas platform moncong kotak suara. ”semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi”&lt;br /&gt;Tidakkah kalian dengar, aku yang berlari pada kerumunan orang sambil menenteng pelita yang kunyalakan di siang hari dan takhenti-hentinya berteriak dengan isak suara yang parau; aku mencari Tuhan? Aku mencari Tuhan!. Seketika aku dikerumuni orang banyak ketika mereka mengaku percaya pada Tuhan, aku mengundang banyak gelak tawa, “apakah dia ini adalah orang gila yang hilang?, Tanya seorang tua berjanggut dan celananya sedikit ngatung yang katanya tokoh spiritual. Apakah dia tersesat seperti anak kecil? Apakah dia baru saja mengadakan pengembaraan? Apakah dia seorang yang teracuni nalar? Demikianlah mereka saling bertanya sinis dalam gelak tawa.&lt;br /&gt;Aku lalu melompat dan menyusup ketengah-tengah kerumunan dan menatap mereka dengan pandangan yang tajam. ‘mana Tuhan?, aku bertanya. ‘aku hendak berkata pada kalian. Kita telah membunuh Tuhan—kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya. Bagaimana mungkin kita telah melakukan perbuatan semacam ini? Bagaimana mungkin kita meminum habis lautan? Siapakah yang memberikan penghapus kepada kita untuk melenyapkan seluruh cakrawala? Apa yang kita lakukan jikalau kita melepaskan bumi ini dari mataharinya? Lalu kemana bumi ini akan bergerak? Menjauhi seluruh matahari? Tidakkah kita jatuh terus-menerus? Kebelakang, kesamping, kedepan, kesemua arah? Masih adakah atas dan bawah? Tidakkah kita berkeliaran melewati ketiadaan yang tak terbatas? Tidakah kita menghirup ruangan yang kosong? Bukankah hari sudah menjadi semakin dingin? Bukankah malam terus-menerus semakin meliputi kita? Bukankah pada siang hari lenterapun kita nyalakan? Tidakkah kita mendengar kebisingan para penggali liang kubur yang sedang memakamkan Tuhan? Tidakkah kita mencium bau busuk Tuhan? Ya, para Tuhan juga membusuk! Tuhan telah mati! Tuhan tetap mati! Dan kita telah membunuhnya!.&lt;br /&gt;Bagaimanakah kita—pembunuh para pembunuh—merasa terhibur? Dia yang maha kudus dan maha kuasa yang dimiliki dunia kini telah mati kehabisan darah karena pisau-pisau kita siapkan yang hendak menghapuskan darah ini dari kita? Dengan air apakah kita dapat membersihkan diri kita? Dengan ritual tobat apa, pertunjukan kudus apa yang harus kita adakan?&lt;br /&gt;Sampai disini, lalu aku terdiam dan kembali memandang para pendengar; merekapun diam membisu dan dengan penuh keheran-heranan melototiku. Akhirnya kubuang pelitaku ketanah dan pelita itu hancur, kemudian padam. ‘ aku datang terlalu awal’ atau ‘aku datang sudah terlalu terlambat’. Dalam gejala kebingungan dan nampak tercenung meninggalkan sosok khalayak ramai. Aku berjalan menuju makam Tuhan. Dan Masjid adalah tempat peristirahatan Tuhan karena nisan Tuhan kekal terpatri dalam kubah-kubahnya. Lalu aku berbisik pada jemaah yang sedang melakukan ritual sholat “ kalian telah melakukan ritual kematian Tuhan” —Requiem Aeternam Deo; semoga ia kekal dalam peristirahatannya.&lt;br /&gt;Apakah kalian masih ber-Tuhan? Setidaknya menganggap ia sebagai sesuatu yang serba kuasa? &lt;br /&gt;Mana Tuhanmu, sini biar saya tebas dengan golok!&lt;br /&gt;Bukankah makna hidup adalah pemahaman mendasar tentang adanya sebuah “sosok” diatas sebuah rasio. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;daspuy&lt;br /&gt;—lelakidisimpangke[gila]an&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-5291475753089425960?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/5291475753089425960/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=5291475753089425960' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/5291475753089425960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/5291475753089425960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2009/05/menziarahi-tuhan.html' title='MEN[ZIARAH]I TUHAN'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_6wLObppWAXU/ShzXVRj7YzI/AAAAAAAAAEY/XJHfq71_iqM/s72-c/Apuy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-7314111930947793460</id><published>2007-12-19T03:02:00.000+07:00</published><updated>2007-12-19T03:05:56.443+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Mentalitas [Hyper Kronis]</title><content type='html'>BUKU apa yang kalian kunyah hari ini? Atau tulisan siapa yang hendak dicumbu detik ini; atau teory apa yang merangsak masuk otak kalian saat ini? Ah...tentunya kalian sibuk bergelut dengan rentetan pertanyaaan. tsirt merek apa yang akan kaupakai; lipstik warna apa yang hendak membius para lelaki; atau siapa lagi yang jadi korban libido esok lusa. Carpe Diem sebatas nyanyian transendental, murka sapere aude Kant sebatas gantungan kunci.&lt;br /&gt;“Barang siapa yang tidak bisa geometri dilarang masuk” tertera di balik gerbang masuk Akademia Plato. Pukul 09:00 gembok yang merantai perpustakaan mulai dilepas, perpus konon lumbung khazanah intelektual; seperti di Alexandria; persimpangan embrio filsuf agung abad pertengahan; , city of God-nya Thomas Aquinas, Romeo and Juliet-nya Shakespeare, Hikmah al-Isyraq-nya Suhrawardi, atau Tawasin-nya Al-hallaj, disambung dengan Discourse and Method-nya Rene Descartes, Thus Spoke Zarathustra-nya Nietzsche, hingga Sein Und Zeit-nya Heidegger. Saking berjubelnya warisan itu hingga tak ada satu pun terpampang pada deretan rak buku, begitu sesaknya oleh tumpukan fragmen dakwah kapitalisme rongsokan, komunikasi emansipatoris kerdil, theologi insklusive penjila[tain].&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang apa Mahasiswa? apakah kalian merasa resah dan muak menatap kuantitas dan kualitas diperpustakaan kita? Pastinya kalian bisu atau tuli, karena perpus hanya sekedar media penyaluran birahi; sebatas tumbal tugas dosen; bahkan mencari korban libido selanjutnya; atau untuk cari tongkrongan baru. Pernahkah kalian mendengar Alegori Gua Socrates, Logica Aristoteles, Metafisika Sir.M.Iqbal, teori dekontruksi Derrida, atau Tuhan telah Mati Nietzsche. Pasti kalian tak mengenalinya! telinga kalian tersumbat kitab suci MP4, hobi mentransportasikan birahi dalam madat al-wujud, dan menstimulus otak dengan nyanyian oral. Kalian lebih suka berdialektika dengan sinetron, men[sintesis]kan pertandingan Arsenal versus Persib, berkelana menggagas epistemologi kadut.&lt;br /&gt;Apa yang didapat selama berwisata di ruang perpus? sekedar mencatat romantisme holocoust; hanya sekedar asketis bacot, menghapal teori relativisme absurd, atau memahami ontologi simbol sexualitas, terlebih hanyut dalam tragedi ekshibisionis bercampur seonggok tinja di otak kalian. “Pantes loba mahasiswa nuso pinter” padahal isi nya hanya tabula rasa. Retorika kalian memban[tai] sejarah yang dibanggakan, galilah liang lahat sebelum Zarathustra bangkit dari kubur dan memenggal kepala kalian masing-masing. Bersiaplah!? Atau kalian lebih asik masuk neraka penindasan birokrat tak berprikemanu[sia]an, atau kalian sendiri yang enggan mengaku sebagai manusia? ah..begitu pendiam kalian. Sampai-sampai kalianpun ogah merubah rutinitas jadi pengemis nilai. Mau jadi apa ketika waktu dihabiskan hanya ngabudah dihadapan jelangkung; otak koclak “sing era kanu jadi kolot, lain kuliahteh dibiayaan kukolot?” lain kitu!&lt;br /&gt;Deretan buku nampak berjajar, dari yang berjudul Filsafat, Ekonomi, Syariah, Ilmu Hadits, Fiqh, Dan teory dialektika huntu, teory komunikasi plus-plus, hingga cara cepat menjadi PNS, jalan pintas menjadi Dosen, konsep korupsi secara syariah, dan kiat-kiat melanggengkan tahta kerajaan meski tanpa kualifikasi dan otak kosong  “pantas banyak dosen/asdos yang kualitasnya dibawah standar” kamaqolaa Darwinisne “barang siapa yang kantongnya tebal atau punya akses politik Ia bisa naik takhta sekalipun otaknya koclak. Dan barang siapa yang tidak punya duit dan tidak ada akses politik, meskipun otak kaya Einstain jangan mimpi”. Bayangkan, miniatur Universitas yang tenggelam dalam manipulasi haus kekuasaan, apa yang akan terjadi?&lt;br /&gt;Mahasiswa dijadikan kerdil, selalu membanggakan ketololannya. Ulah siapa? A[pakah adannya konspirasi para suhu pemegang saham, mereka ingin membumihanguskan setiap militansi. Dan  apakah karena mahasiswanya enggan keluar dari lingkaran setan, terlalu nyaman dengan sihir para petinggi, atau mahasiswa terbius oleh romantisme nihilistik gaya Faraoh, atau nyambat Dyonisius dibalik tragedinya, bisa jadi terlena oleh kisah skenario telenovela jurig.&lt;br /&gt;Tak lupa, pagi buat kasir penjaga museum. Apakah bapak-ibu miris melihat manuskrip banyak yang raib; jadi menu utama  tikus; lapuk dimakan zaman alias bulukan; jauh dari kata layak, layaknya manuskrip-mu berasal dari abad pra-barang bekas. Apakah sudah tidak ada lagi common sense yang punya mata untuk melihat, dan intuitif dalam meratapi pemandangan yang mengerikan ini? Lantas apa yang jadi kesibukan bapak-ibu? Pastinya para bapak-ibu hanyut dalam rutinitas ngerumpi; asik ber-ekstase ritual asketis main game; berdzikir a-la info[tai]ment gosipisme. Yang pasti “makan ga makan asal ngumpul”.&lt;br /&gt;Kiamat sudah hampir dekat neng, akang, father dan mother!? Konon tanda-tandanya sudah nampak; lenyapnya kitab suci pegangan para pupuhu adat dan Filsuf; pemimpin yang nyeleweng; mahasiswa sudah muak menyentuh buku; ketika atas nama kebenaran kau agungkan ke-egoan komunalisme dan menganggap sesat pada jenis-mu. Apologi huntu selalu berdendang pada sebaris kausa peng-ti[ada] Creati[ive] ex Nihillo.&lt;br /&gt;Nyantai aja lagi!?. Tak ada yang mengusik! Biarkanlah kami yang membangunkan dari ketidaksadaran akan realitas yang hyper kronis stadium [no limits], kalian terlalu asik beronani gaya rektorat. Sekedar gumam yang kami baca dikumpulan ensiklopedi apatis museum kalian. Terima kasih atas manuskripnya yang langka tidak kami dapatkan di perpustakaan manapun, apakah kalian masih saja tertidur atas kebobrokan institusi yang kalian kultuskan.&lt;br /&gt;Buat para mahasiswa yang masih duduk santai dipembaringan, atau sedang ciuman dengan selingkuhannya, bahkan sedang masturbasi dengan play station, atau yang hobi wiridan SMS. “Requeim Aeternam Deo” melesap dalam banalitas hidup. Pantha Rei hujat Heraclitos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang senyap.&lt;br /&gt;Desember, 18th’2007[adzan Subuh&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-7314111930947793460?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/7314111930947793460/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=7314111930947793460' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/7314111930947793460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/7314111930947793460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/12/mentalitas-hyper-kronis.html' title='Mentalitas [Hyper Kronis]'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-8262141562457571403</id><published>2007-12-07T00:45:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T00:46:34.443+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>TUHAN?</title><content type='html'>Ayat-ayat mu tercabik-cabik&lt;br /&gt;          terkoyak-koyak&lt;br /&gt;          oleh keserakahan&lt;br /&gt;                     ambisi nafsu duniawi&lt;br /&gt;Dimanakah dirimu TUHAN?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dago, 23 Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TUHAN, Aku sering bertanya pada langit&lt;br /&gt;                    pada bumi&lt;br /&gt;                    pada setiap yang tersadari&lt;br /&gt; dimanakah engkau berada?&lt;br /&gt;Hati ini ngasih jawab :&lt;br /&gt;Tuhan ada dalam jiwa yang suci   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dago, 23 Desember 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEREMPUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu Goblog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dago, Juli 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEREMPUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia Perempuan Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dago, September 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-8262141562457571403?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/8262141562457571403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=8262141562457571403' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8262141562457571403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8262141562457571403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/12/tuhan.html' title='TUHAN?'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-1265284890801341247</id><published>2007-12-07T00:43:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T00:44:57.514+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Serat pakuat-pakait</title><content type='html'>KUMISALPEDITOX&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyakclak totos lalangit pangiuhan,&lt;br /&gt;nyalaleungir bari namprak kaluhur kanu gopur&lt;br /&gt;Munyunghul anu ajeug pageh&lt;br /&gt;manjangkeun leungeuna nuharejo kerngagupayan anu hirup&lt;br /&gt;sangkan nampi anu nolol kaluar matak kabita.&lt;br /&gt;Tapi laindei numurungkut bari jameudud mikiran nungalayang&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bakat benang kukasedih, budak cerik, indung bapana ngajerit, dulur salembur kabur,&lt;br /&gt;kurulang-kuriling neangan penempatan&lt;br /&gt;eta mang rupaken kahirupan manusa di alam dunia, silih pakuat-pakait bener-salah,&lt;br /&gt;luhur-handap, harep-tukang, lalaki-awewe, langit-bumi, hirup-paeh, nolol-nyungseb, kulah-cai, juru-sisi, bor-kapur kardus-esi, akar-tangkal, indung-bapak, kolot-budak, adi-lancek,&lt;br /&gt;nyai-akang, teteh-aa, nini-aki, abah-ambu, mojang-jajaka, agama-filsafat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-1265284890801341247?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/1265284890801341247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=1265284890801341247' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/1265284890801341247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/1265284890801341247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/12/serat-pakuat-pakait.html' title='Serat pakuat-pakait'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-3138694258159703538</id><published>2007-12-07T00:41:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T00:43:36.661+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Ngagelebug</title><content type='html'>kumisalpeditox&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhembus angin malam berdamping cerahnya bulan&lt;br /&gt;Berhembus angin siang bersandar terangnya cahaya matahari &lt;br /&gt;Berhembus angin darat berayu lambayan dedaunan&lt;br /&gt;Berhembus angin laut benarik tarian ombak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berhembus nafas dipagi hari ¼ dinginnya subuh&lt;br /&gt; Berhembus nafas disore hari ¼ dinginya ashar&lt;br /&gt; Berhembus nafas yang mendengkur lelapnya tidur&lt;br /&gt; Berhembus nafas yang sekarat 1/2nya kematian&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhembus angin malam ibarat terbakar disembur air&lt;br /&gt;Berhembus angin siang ibarat ½ kecepatan kipas angin&lt;br /&gt;Berhembus angin di taman tulang malam hari membuat bulu punduk merinding&lt;br /&gt;Berhembus angin perhubung lewat membuat hati kaget&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Berhembus nafasmu bau&lt;br /&gt; Berhembus nafas sang Naga membuat hancur Dunia&lt;br /&gt; Berhembus nafas knalpot membuat manusia keracunan&lt;br /&gt; Berhembus nafas lemari ES membuat manusia membeku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhembus angin dilautan membuat ikan takan pernah mati&lt;br /&gt;Berhembus angin ditepi gunung membuat pohon menjadi kokoh&lt;br /&gt;Berhembus angin dilangit membuat awan menjadi rapih&lt;br /&gt;Berhembus angin diangkasa membuat planet berputar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berhembus nafas makhluk dilautan keluar dari insang&lt;br /&gt; Berhembus nafas makhluk didaratan saling berhubungan antara tetumbuhan&lt;br /&gt; Berhembus nafas makhluk diudara membuat sayap menggeplak&lt;br /&gt; Berhembus nafas makhluk ditanah membuat menjadi gembur&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-3138694258159703538?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/3138694258159703538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=3138694258159703538' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3138694258159703538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3138694258159703538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/12/ngagelebug.html' title='Ngagelebug'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-3099378545849549655</id><published>2007-12-07T00:39:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T00:41:15.244+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Izinkan [aKu Kenal Kamu]</title><content type='html'>Sebuah refleksi atas tatapan kita kemarin-lusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disaat perjumpaan denganmu&lt;br /&gt;Menatap senyum-Mu adalah segalanya&lt;br /&gt;Hanya bagiku kaulah segalanya&lt;br /&gt;Yang berusaha menasihati dalam perjamuan ini.&lt;br /&gt;Tapi hanya sesaat kita berjumpa&lt;br /&gt;Setelah itu; kita berpisah dalam&lt;br /&gt;Arah yang berlainan&lt;br /&gt;Seperti kayu yang menjadi abu&lt;br /&gt;Lalu tertiup angin&lt;br /&gt;Aku bagaikan puing batu kelabu&lt;br /&gt;Sekarat dihadapanmu&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lepas digergaji waktu&lt;br /&gt;Dan merenungi !&lt;br /&gt;Setiap bayang-bayang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar Prolog;&lt;br /&gt;Bintang gemintang yang menghiasi gelap malam menebarkan khayalnya ke langit yang diselimuti kabut. Khayal yang melekat dilerung-lerung ingatannya memunculkan citra ke-Akuan yang merana dan menderita. Sambil menyaksikan bentangan sayap-sayap khayalnya aku berkata “apakah aku akan kehilanganmu, karena aku merasa memilikimu” khayalku adalah kesunyian yang paling menyiksa jiwaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesunyian; bulan menghilang&lt;br /&gt;Ketika malam menggenapkan nada burung&lt;br /&gt;Pada batang cemara sunyi.&lt;br /&gt;Ada yang berderai! Ketika;&lt;br /&gt;Seperti jiwa yang bersitahan&lt;br /&gt;Meredam amuk badai dalam gerimis terakhir&lt;br /&gt;Yang menyeret luka telanjang&lt;br /&gt;Keujung selatan paling sunyi-merekahlah kesumat&lt;br /&gt;Dipenghujung malam,&lt;br /&gt;Terdiam lukai setetes nista.&lt;br /&gt;Ketika terselimuti nyanyian subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang kita memaknai kebenaran sebatas realitas yang nampak, seringkali terjebak pada hal-hal bersifat inderawi. Sesuatu dikatakan real Apabila dapat  menyentuh kulit, sebatas mata memandang, alunan bunyi yang masuk lewat telinga dan lain sebagainya. Itu hanyalah gambaran bagaimana manusia dapat mengenal wujud realitas yang  material tidak menjelaskan kebenaran yang mutlak, kalau meminjam istilah Plato adalah bayangan dari dunia idea. Lalu timbul pertanyaan apakah realitas itu tetap atau berubah? adakah hubungan antara yang kekal dan abadi, di satu pihak, dengan yang berubah? di pihak lain karena Segala sesuatu terus berubah, tak ada yang diam. Realitas yang terus bergerak dianalogikan seperti aliran  sungai. Hidup terus berjalan [menjadi] tanpa kita pernah mengerti tentangnya kita tak bisa masuk dua kali ke dalam aliran sungai yang sama. &lt;br /&gt;Hanya ada satu yang benar-benar nyata, yang tidak berubah, yaitu Logos atau rasio (prinsip yang tak berubah atau sebab imanen dalam segala perubahan)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Siapakah Aku?&lt;br /&gt;Merayapi lembah gunung ada luka dalam duka, dilempar kedalam kawah memanjat tebing-tebing sunyi memasuki pintu mistery menggores batu dengan kata sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tubuhku lelah berlari dari kekaguman&lt;br /&gt;Untaian lisan; tak lebih dari sekedar bualan.&lt;br /&gt;Tulisan hanya pengantar lelap.&lt;br /&gt;Pada sebatang pohon,&lt;br /&gt;Kusandarkan mimpi atas tubuh yang terkoyak.&lt;br /&gt;Sebelum langit berhenti.&lt;br /&gt;Sekejap;&lt;br /&gt;Matapun tak mampu memandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika Gilang pertama kalinya melihat sosok aku yang urakan, kucel, dekil, dan gondrong tak ke urus. Pasti akan punya kesan negatif terhadap penampilanku, sah-sah saja bukan saja kamu yang beranggapan seperti itu bahkan hampir semua orang beranggapan apa yang kamu persepsikan tentang aku. Kenapa orang menstigmakan pandangannya seperti itu? Adakah yang salah dengan diriku? jika suatu objek dipersepsi hanya melalui bentuk visual, maka yang nampak hanyalah sebagian bentuknya saja karena kebenaran yang absolut berada di dunia idea. Dunia yang nampak hanyalah pantulan dari bayangan dunia yang sebenarnya. jangan-jangan semua apa yang kita anggap sebagai kebenaran hanya dilihat dari persepsi indrawi.tidak dalam kaidah subtansi yang sesungguhnya. Atau yang lebih parahnya lagi menurut pandangan orang lain. “Suatu kesalahan yang di ulang-ulang akan menjadi kebenaran”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti cucuran air mata&lt;br /&gt;Membuyar di kelopak pandangan.&lt;br /&gt;Bergemuruh hentakan,&lt;br /&gt;Sudut-sudut alam.Temaram siang itu;&lt;br /&gt;Nampak riuh disiram rintik hujan&lt;br /&gt;Menjadikanya segenggam&lt;br /&gt;Harapan yang telah mati;&lt;br /&gt;Mati dalam mengharapkan mu&lt;br /&gt;Sebagai dewi yang datang dari nirwana&lt;br /&gt;Tatapan;&lt;br /&gt;yang kau siratkan kemarin petang.&lt;br /&gt;Melambai dibarengi Seutas senyum,&lt;br /&gt;Kini; tertinggal Dalam kesadaraan&lt;br /&gt;Seiring nafas berhembus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau boleh jujur aku anti kemapanan, penampilanku selama ini adalah bentuk protes terhadap pandangan umum. ketika kebenaran hanya sebatas simbol maka nalar (pikiran) manusia telah hilang sebagai makhluk yang konon paling sempurna yang diciptakan Tuhan. Orang dikatakan baik atau sopan apabila ia berpakaian rapi, selalu pake kameja, rajin kemasjid. Padahal kita ga tahu apa yang ada didalam pikirannya atau dibelakang kita berbuat apa, yang tidak semestinya sebagai makhluk ber-akal. Bagiku kebaikan itu adalah proses menjadi.&lt;br /&gt;Adakah hari esok?&lt;br /&gt;Ku-kenal kamu dari jauh, bergetar hati melihatmu&lt;br /&gt;Matamu bening, suaramu bening&lt;br /&gt;Semangatmu hening, wajahmu lembut&lt;br /&gt;Senyummu lembut wujudmu getarkan rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam dibungkus selimut hitam, saat orang meringkuk dikedinginan dalam tidur lelap, Aku masih terjaga, duduk dibalik batu yang bisu di saksikan awan yang muram nampak bergejolak oleh goncangan badai. Ada sesuatu yang membuat aku enggan untuk melenyapkan diri dari alam ketersadaran, yang selalu hadir dan mengusiknya hingga akhirnya aku harus merenung dan memikirkan semua itu yang mesti ada jawaban.&lt;br /&gt;Dengan pengalaman aku mengenal kamu,&lt;br /&gt;Melalui ingatan wajah-mu masih terkenang,&lt;br /&gt;Kesaksian akan itu tak bisa terbantahkan.&lt;br /&gt;Berangkat dari rasa ingin tahu;&lt;br /&gt;Tersirat berbagai pertanyaan?&lt;br /&gt;Nalarku menarik pada kesadaran.&lt;br /&gt;Dengan logika; luruskan jalan kesimpulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah melalui jalan Skeptisme, Subjektivisme, Relativisme, Nihilisme, atau dengan mistisme, ah persetan dengan semua itu! Tiupan angin menusuk tulang, hawa dingin menyelimuti tubuh yang merangsek tulang, sesekali aku bergetar dan menggigil Berbatang-batang rokok telah kuhisap, dua gelas kopi hitam habis ku reguk, namun perasaan itu semakin besar menghujam hingga akhirnya aku pasrah dalam ketertindasan memaknainya. Sambil membatin aku berucap “kehilangan adalah kepedihan, berbahagialah engkau, wahai pecinta, yang tak memiliki apa-apa, maka tidak akan kehilangan apa-apa.&lt;br /&gt;Hati yang gusar,&lt;br /&gt;menatap rasa dingin.&lt;br /&gt;gemerlap cahya bulan; sebatas hiasan&lt;br /&gt;matahari tak cerah lagi&lt;br /&gt;tak ada lagi tiupan angin,&lt;br /&gt;bahkan mimpi-mimpipun akhirnya terkoyak&lt;br /&gt;pekat malam&lt;br /&gt;tak goyahkan jasadku&lt;br /&gt;tuk segera terlelap,eksistensi:&lt;br /&gt;sebatas nyanyian di padang syiria.&lt;br /&gt;Lorong pikiranku&lt;br /&gt;berujung di batas kematian,&lt;br /&gt;sang kekasih;&lt;br /&gt;kehembuskan ayat-ayat cinta dalam mimpimu.&lt;br /&gt;Ketika kau sadar, semuanya telah berlalu.&lt;br /&gt;Tak ada lagi cerita indah&lt;br /&gt;Tersisa hanyalah settitik buih pasir&lt;br /&gt;Ditelapak raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tak pernah dapat mengenal seseorang secara utuh pada pertemuan pertama. Kita butuh waktu untuk mengenal bagian terdalam dari diri seseorang. Pertama kali kita mengenali seseorang tentu berdasar kabar mengenai orang itu, kabar itu memberikan banyak praduga dalam diri kita. Lalu pada saat kita melihatnya secara langsung, sebagian praduga itu berguguran, karena melalui pandangan inderawi sendiri kita menemukan keindahan tubuh yang lebih dari apa yang digambarkan orang lain. Kemudian, dengan mencintai keindahan tubuh yang kita lihat, kita akan mencintai bukan lagi keindahan yang kita lihat itu melainkan juga sesuatu yang tidak kelihatan, yaitu jiwa yang indah. Dari sana kita menuju cinta akan pemikiran dan ide-ide yang indah, lalu kita bergerak menuju cinta sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ziarahku usai disini,&lt;br /&gt;Sebelum berpapasan dengan nafas-Mu&lt;br /&gt;Ijinkan aku melesap di petapaan&lt;br /&gt;tanpa ada tangisan.&lt;br /&gt;Usia bukan milik kita; Glang,&lt;br /&gt;Hanya satu, pintaku; Glang,&lt;br /&gt;Jalarkan sebaris Edellweis&lt;br /&gt;Senyummu dipusaraku. Aku&lt;br /&gt;Pergi ketempat yang damai nan kekal:&lt;br /&gt;Seabadi potretmu dihatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramaian yang selalu menggema seketika terasa diam, hampa, tanpa ada nyanyian manusia yang membicarakan hidupnya. Hanya ada aku yang terdiam dipojok reruntuhan jiwa, jatuh tertimpa kenyataan cinta yang enggan menyapa.  Yang dimana semua harapan-harapan pencarian kebenaran akan cinta musnah sudah tanpa ada yang tersisa lagi  dan akhirnya mati mengenaskan. Akankah cinta itu mewujud dalam wujudnya yang absolut ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciung Wanara, November 21 th 2007 [05;30 am]&lt;br /&gt;[lelaki Disimpang ke-Gilaan]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-3099378545849549655?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/3099378545849549655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=3099378545849549655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3099378545849549655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3099378545849549655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/12/izinkan-aku-kenal-kamu.html' title='Izinkan [aKu Kenal Kamu]'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-8482509024055730075</id><published>2007-12-07T00:37:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T00:38:44.177+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>men[cinta]imu</title><content type='html'>SYAHDAN, suatu hari seorang kakek berucap pada pemuda yang dicampakkan cintanya, “adakah engkau mencintai sesuatu yang diharapkan datang menyapamu: sekalipun berasal dari dunia antah-berantah?”. Pemuda itu hanya diam.&lt;br /&gt; Manusia seringkali dihadapkan pada persoalan paradoks hinaan dan pujian, sedihan dan kebahagiaan; yang berbaur dalam kefanaan. Cinta, selain dianggap sebagai omongan para bencong, pada kenyataannya memang tabu diperbincangkan. Pertanda manusia belum cukup dewasa menerima segala ketaksempurnaannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ada hal yang lebih menarik mengapa cinta ada di ruang privat: sebab di sana ada jerembab kategori perempuan dan lelaki; temali-keterikatan: sisanya hanya perpapasan antara “[Bu]Clitor dan P[ak]Enis”. Tapi bagaimana jika percintaan tak diasumsikan sebagai persekongkolan antardaging?&lt;br /&gt; Sartre pun juling menatap cinta, “Seseorang mencintai lawan jenisnya karena ingin menguasai yang dicintainya; baik pikiran, waktu, dan tubuh.” Maka cinta menghantam dari ketaksadaran kita. Dia datang, tak pernah diduga; lalu diam dalam struktur anatomi tubuh, mengkarat, dan mendarah daging! Ya, memang ini daging. Tapi Sartre mungkin lebih senang bilang: daging-akal-bulus.&lt;br /&gt; Tapi dapatkah jika cinta digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan: kekerasan yang secara diam-diam diidamkan bersama-sama?&lt;br /&gt; Ternyata manusia masih berkutat pada hal-hal sepele. Orang terkadang mencintai lawan jenis didasarkan pada kebutuhan biologisnya, bukan berasal dari cinta un sich, pada kesungguhan wujudnya. Bahkan, suami-istri yang saling mencintai sekalipun; ketika prosesi intim, yang berkata bukan cinta; tapi nafsu. “Senggama juga terjadi di kepala, Brow!” tiba-tiba Erica Jong teriak!&lt;br /&gt; Apakah cinta dan nafsu punya kesamaan, atau pembeda. “Tapi bagaimanapun,” ungkap pemuda itu akhirnya mengurai kata, “yang kini nyata adalah keduanya berakhir di persinggungan gesek dan kejang. Jadi mungkin cinta itu bahasa halusnya, dan nafsu bahasa kasarnya. Toh keduanya mempunyai tujuan yang tak terlalu beda, simulasi birahi: sisanya cuma mengaduk cairan luka. Hasrat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[lelakidisimpang [kegilaan]&lt;br /&gt;ciung wanara 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-8482509024055730075?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/8482509024055730075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=8482509024055730075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8482509024055730075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8482509024055730075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/12/mencintaimu.html' title='men[cinta]imu'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-3444309440276679054</id><published>2007-12-07T00:35:00.000+07:00</published><updated>2007-12-07T00:36:34.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>ADIOSSOLITERIUM</title><content type='html'>Mayz; bila ziarahku asai disini, sebelum akhirnya kulekatkan&lt;br /&gt;Nasib ini, izinkan aku melesap dipertapaan tanpa ada&lt;br /&gt;angisan. Usia bukan milik kita, may&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu, may;&lt;br /&gt;Jalarkan sebaris edellweis senyumu dipusaraku. Aku&lt;br /&gt;Pergi ketempat yang damai nankekal; seabadi potretmu&lt;br /&gt;dihatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki disimpang ke[gilaan]&lt;br /&gt;Julyduarebutujuh&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-3444309440276679054?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/3444309440276679054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=3444309440276679054' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3444309440276679054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3444309440276679054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/12/adiossoliterium.html' title='ADIOSSOLITERIUM'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-8695057255262773653</id><published>2007-11-30T02:55:00.000+07:00</published><updated>2007-11-30T02:57:03.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Teologi Keberagamaan Pluralisme Liberatif</title><content type='html'>Oleh Saeful Anwar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meskipun ada bermacam-macam, tujuannya adalah satu. Apakah anda tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju Ka’bah?....oleh karena itu apabila yang anda pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; namun pabila yang anda pertimbangkan adalah tujuannya, maka semuannya terarah hanya pada satu tujuan.”&lt;br /&gt;[Jalaludin Rumi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGAMA adalah obyek perbincangan dan pergerakan yang senantiasa terus menarik untuk didiskusikan sepanjang zaman, rentangan waktu dari hal-hal yang berbau mitos hingga dimana sains mendominasi dalam berbagai hal. Hal ini di sebabkan karena fungsi dan peran agama yang unik dan menarik, yaitu sebagai sesuatu yang berwajah ganda. Agama, di satu sisi menjadi pedoman kehidupan, perdamaian, dan tuntunan moralitas demi keselamatan baik individu maupun social secara universal. Akan tetapi, di sisi lain agama sering menjadi penyebab konflik, peperangan, kultus, dan kekacauan atau chaos bagi kelangsungan hidup umat manusia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, fenomena dan fakta yang terjadi di lapangan, agama sering dicampuradukkan dengan penafsiran keagamaan. Maksudnya; perbedaan itu sering berujung pada pemberian vonis kesalahan terhadap orang lain yang tidak sepaham. Adanya truth claim; pada kelompok sendiri, dan kelompok yang lain dianggap jauh menyimpang dari kebenaran diluar dari golonganya, agamanya, keyakinannya dan dicap sesat atau murtad (orang yang keluar dari agama), sedangkan yang menurut mereka benar adalah apa yang jalani menurut keyakinannya. Seperti apa yang dikemukakan oleh kelompok konservatif garis keras yang menolak fakta pluralisme, yang terobsesi pada sebuah fiksi bahwa agama mereka homogen dan murni dari unsur-unsur kebudayaan. Fiksi itu tentu saja berbahaya karena menjadi intoleran terhadap kemajemukan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada konteks ini tejadi klaim kebenaran (truth claim) secara eksklusif, dimana kelompok yang memiliki keabsahan karakteristik beragama seperti ini, keabsahan teologinya ada pada nya, dan keselamatan (salvation claim) hanya ada dan menjadi milik mereka pula. Memperhatikan tanggapan pesimisme Wilson terhadap keberagamaan seperti itu sesungguhnya merupakan kritik keras dan peringatan terhadap peranan semua agama. Bahwasanya dalam setiap agama pasti ada penganut yang memiliki potensi negatif dan destruktif yang membahayakan, yang mengancam pada tingkat kekacauan (chaos). Sungguh sangat ironis ketika agama sudah hilang semangat kemanusiaannya dalam suatu peradaban maka ia akan tampil sebagai instrumen yang dapat menhancurkan peradaban maka sudah pasti ia akan tampil sebagai instrumen yang menghancurkan manusia dan peradabannya. Munculkan klaim kebenaran dan penafsiran agama itu juga menjadikan para pemeluk agama dan tokoh agama berperilaku dengan menggunakan standar ganda (double Standards) kebenaran. Maksudnya baik orang Islam ataupun non Islam selalu menerapkan standar-standar yang berbeda untuk dirinya, biasanya standar yang bersifat ideal dan normative untuk agama sendiri, sedangkan terhadap agama lain, memakai standar lain yang lebih bersifat realistis dan historis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma Keberagamaan&lt;br /&gt;Penafsiran dan keberagamaan, pada dasarnya muncul sesuai dengan tingkat pengetahuan, lingkungan sosial dan kultural, serta keyakinan yang dibawanya sejak dari kecil (agama orang tua). Hingga dewasa ini, paradigma keberagamaan umat manusia umumnya bisa ditipologikan menjadi tiga golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, paradigma eksklusif, pandangan yang dominan ada pada kalangan ini, adalah bahwa agama merekalah yang menjadi satu-satunya jalan keselamatan, sedangkan agama lain semuanya menuai kesalahan. Bagi agama Kristiani, pandangan ini menganggap bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan untuk keselamatan. “akulah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” , sehingga muncullah perumusan istilah extra ecclesiam nulla salus (tidak ada keselamatan di luar Gereja) yang pernah dikukuhkan dalam Konsili Florence 1442. Sedangkan bagi kalangan Islam, landasan teologisnya adalah penafsiran secara tekstual pada ayat-ayat Al Quran tentang kebenaran tunggal agama Islam. “sesungguhnya agama (al-din) disisi Allah adalah Islam” dan ada ayat lain yang memperkuat ayat ini berbunyi “barang siapa mencari agama selain Islam, maka (agama itu) sekali-kali tidak akan diterima dari Dia, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi” Implikasi sosial dari pandangan-pandangan tersebut adalah tertutupnya pintu dialog dan kerja sama antar agama. Bahkan, bisa jadi keragaman pemikiran dalam agama sejenis tertutupi oleh dominasi sekelompok paham. Pluralisme adalah pondasi dalam membangun masyarakat demokratis, bukan paham yang merusak agama atau anti agama, yang merupakan statement bagi para penentang paham pluralisme yaitu kaum Tradisional, fundamentalis dan konservatisme yang selama ini mereka teriakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, paradigma inklusif, menurut kalangan ini agama-agama itu pada dasarnya semuanya berasal dari Yang Satu. Sedangkan perbedaan agama, hanyalah jalan menuju ke Yang Satu dengan mereka, seluruhnya ditulis oleh Allah Ta’ala bahwa menyesuaikan diri dengan pembawa, kaum penerima, bahasa, serta lingkungan geografis. Menurut pandangan Umar Sulaiman Al-asyqar, seorang sarjana Muslim yang berdomisili di Kuwait, memaparkan pandangaannya tentang kesatuan agama menegaskan bahwa agama yang diturunkan Allah kepada Nabi dan rasul adalah satu, yaitu Islam. Islam bukan nama untuk satu agama tertentu, tetapi adalah nama yang didakwahkan oleh semua nabi. Senada dengan apa yang dikatakan Nurcholish Madjid. “ Maka semua nabi itu dan para pengikut mereka adalah orang-orang muslim. Hal ini menjelaskan bahwa firman Allah dalam (Q 3:85 dan Q 3:19) tidaklah khusus tentang orang-orang (masyarakat) yang kepada mereka nabi Muhammad s.a.w diutus, melainkan hal ini merupakan suatu hokum umum (hukm amm, ketentuan universal) tentang manusia masalau dan manusia kemudian hari. Kesemuanya itu mengisyaratkan adanya titik temu agama-agama ini harus dijadikan sarana untuk membuka diri atau bersimpati terhadap kebenaran agama orang lain. Kalau Allah menghendaki, maka umat manusia itu menganut satu agama saja, tetapi Allah menciptakan beragam agama, agar bisa menguji siapa yang paling baik amalnya, yang diharuskan adalah berlomba-lomba dalam kebajikan (Fatabikhul khairat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, paradigma pluralis atau paralel. Menurut kalangan ini, setiap agama pada dasarnya berbeda dan mempunyai jalan keselamatan sendiri. Namun ada persamaan yang senantiasa ada, yaitu nilai-nilai perenial agama yang mengajarkan tentang kebaikan, perdamaian, melarang kejahatan, serta tolong-menolong dengan orang lain. Tokoh paradigma ini adalah John Harwood Hicks (1973) yang melakukan revolusi dalam teologi agama-agama. Menurut dia, teologi agama-agama harus senantiasa diperbarui guna menyesuaikan diri dengan pengetahuan manusia dan perkembangan zaman. Paradigma baru itu adalah dialog dan kerja sama antaragama untuk menciptakan kemanusiaan universal dan keselamatan sosial demi perdamaian di muka Bumi. Metafor yang mengukuhkan paradigma pluralisme agama adalah pelangi. Maksudnya, pada dasarnya semua agama mempunyai warna dasar yang sama, yaitu warna putih. Akan tetapi, warna ini sering tidak terlihat dari warna luarnya yang berupa hijau, biru , kuning, dan sebagainya, yang sebetulnya menyimpan warna putih juga (baca-Kristen, Budha, Islam, dan sebagainya). Warna dasar pelangi inilah yang dalam agama dinamakan sebagai "agama primordial" atau "nilai perenial".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, perbedaan agama pada kalangan ini diterima sebagai pertimbangan dalam prioritas "perumusan iman" dan "pengalaman iman". (Islam Pluralis, hal. 49-50). Sama apa yang dirumuskan oleh Sayyid Hossein Nasr, setiap agama pada dasarnya distruktur oleh dua hal tersebut. Sikap pluralis bisa diterima jika seandainya perbedaan antara Kristen dengan Islam diletakan dalam posisi yang lebih penting diantara keduannya. Islam mendahulukan perumusan iman, dan pengalaman iman mengikuti perumusan iman tersebut. Sedangkan dalam ke Kristenan mendahulukan pengalaman iman (dalam hal ini pengalaman akal Tuhan yang menjadi manusia pada diri Yesus Kristus, yang kemudian disimbolkan pada sakramen Misa dan Ekaristi) dan perumusan iman mengikuti pengalaman ini, dengan rumusan dogmatis melalui Trinitas.&lt;br /&gt;Ketiga tipologi paradigma keberagamaan di atas bukanlah hal yang kaku dan tetap. Akan tetapi, semuanya adalah persoalan pilihan kehidupan dan keyakinan. Apa yang kita anggap sesuai dengan keyakinan kita tentang konsepsi teologi tanpa menjustifikasi penganut lain yang tidak sepaham. Hal itu menjadi masalah tersendiri, ketika realitas sosial dan masyarakat yang ada menunjukkan fakta yang berbeda dengan keyakinannya. Artinya, paradigma keberagamaan itu bisa mengganggu orang lain dan kurang memberikan manfaat pada tatanan sosial yang ideal.&lt;br /&gt;Fakta dan keniscayaan pluralisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralitas adalah realitas yang betul-betul terjadi di sekitar kehidupan kita sehari-hari. Hal itu nampak pada pluralitas agama, budaya, latar belakang pendidikan, ras dan suku, serta kesenangan bahkan jalan hidup masing-masing manusia. Pluralitas atau keragaman berbagai hal itu sebetulnya memang sebuah hal yang alami tanpa melalui rekayasa atau kehendak manusia. Maksudnya, itu adalah kehendak Tuhan sebagai pencipta manusia dan seluruh kehidupan yang ada di muka bumi. Tentunya, dengan tujuan agar perbedaan itu diambil aspek positifnya sebagai jalan pemandu untuk bekerja sama, intropeksi diri, dan tolong-menolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keragaman di atas pada awalnya memang tidak menimbulkan persoalan atau gejolak sosial. Mari kita lihat apa yang yang merjadi konflik di Indonesia akhir-akhir ini, dimana konflik merebak dengan mengusung bendera agama dan ras, kalau kita menelaahnya sesungguhnya konflik tersebut berawal dari factor social, ekonomi, dan politik seperti kerusuhan bernuansa SARA menewaskan ribuan manusia seperti kerusuhan Ambon, timor-timur, Sambas dan lainnya adalah sebagian dari daftar panjang kerusuhan yang terjadi karena dilator belakangi oleh konflik agama. kerusuhan masaal yang terjadi tahun 1998 dimana ratusan gereja dan tempat usaha etnis China dibakar, dirusak dan dijarah, bahkan yang tidak manusiawi anak-anaknya diperkosa bahkan ada yang sampai dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang terjadi baru-baru ini adanya bom bunuh diri yang mengatasnamakan agama yang berjuang menegakan ajaran Tuhan dimuka bumi Pada dasarnya apayang dilakukan adalah hal yang bodoh kerena islam tidak mengajarkan kekerasan. Paradigma keber-Agamaan seperti itu patut dikatakan keliru karena agama diturunkan dari Tuhan untuk kepentingan manusia, bukan dari Tuhan untuk kepentingan Tuhan, dan bukan pula dari manusia untuk Tuhan. Melainkn dalam hal ini Tuhan berposisi sebagai sumber spirit moral. Dari Nya manusia berasal, kepadanya pula manusia akan kembali untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya selama hidup didunia. Agama pada dasarnya bersifat kemanusiaan tetapi bukan berarti kemanusiaan yang berdiri sendiri melainkan kemanusiaan yang memancarkan dari wujud Tuhan. oleh sebab itu, sebagaimana nilai kemanusiaan tidak mungkin bertentangan dengan nilai keagamaan maka nilai keagamaan mustahil menentang nilai kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi kecurigaan; jangan-jangan ada kekuatan lain yang menggerakannya sehingga yang muncul adalah konflik yang dibangun seakan-akan bermuatan SARA. Karena mereka sering dibarengi dengan keinginan untuk menguasai, (social, politik dan ekonomi) meminjam istilah Nietzsche - will to power -, sering menjadikan mereka menghalalkan segala cara. Penghalalan segala cara adalah naluri hewaniah manusia yang sering muncul ke permukaan. Padahal, ada sebuah nilai keluhuran manusia berupa akal sehat dan hati nurani yang harus senantiasa dipertimbangkan ketika melakukan sebuah tindakan.&lt;br /&gt;Nilai keluhuran dan kemanusiaan itu ketika diperhadapkan dengan realitas pluralitas, adalah sebuah sikap yang menghargai perbedaan disertai dengan kearifan menerima dan mengakui kebenaran orang lain. Dalam keberagamaan, sikap ini mewujud dalam implementasi paradigma pluralisme agama sebagaimana dijelaskan di atas. Oleh karena itu, dalam realitas pluralitas yang terbentang di hadapan kita, sebuah sikap pluralis dalam beragama adalah sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Amin Abdullah (1999), realitas pluralitas agama yang belum berlanjut pada pluralisme keagamaan itu, disebabkan oleh adanya hegemoni kepentingan dan egoisitas pada sekelompok orang atau golongan tertentu. Tindakan dan kepentingan itu juga sering mereka justifikasi dengan landasan teks-teks keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, penafsiran teks keagamaan itu sering mereka lakukan secara terpisah dengan realitas sosial yang terbentang di permukaan. Padahal, untuk menciptakan sebuah pluralisme keagamaan meniscayakan penafsiran yang mengompromikan antara aspek historisitas dan normativitas teks keagamaan (baca-kontekstualisasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan pluralisme yang dimaksudkan di sini bukan berarti mencampuradukkan atau membuat "gado-gado" agama, atau dalam istilah lain disebut sinkretisme yaitu pandangan yang mencampuradukan semua agama atau menjalankan ajaran semua agama sekaligus karena semuannya dianggap memberikan keselamatan (Jalaludin Rakhmat) ;namun justru penghargaan dan penggalian nilai-nilai kebenaran universal agama untuk kebaikan bersama. Seperti ditegaskan oleh Alwi Shihab, bahwa pluralisme bukanlah relativisme an sich, namun juga menekankan adanya komitmen yang kukuh pada agama masing-masing dan membuka diri atau bersifat empati terhadap kebenaran agama lainnya (Islam Inklusif, Mizan, 1997). Jadi, yang perlu digarisbawahi adalah sikap untuk menjunjung tinggi kebaikan bersama dan menghindari klaim tunggal kebenaran. karena setiap pemeluk agama lain terdapat keselamatan.&lt;br /&gt;Pluralisme keagamaan dan praksis sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esensi kebenaran sebuah agama sejatinya terletak pada jawabannya atas problem kemanusiaan. Sebab, sesungguhnya agama sejak awal mempunyai misi suci untuk menyelamatkan dan menuntun manusia menuju jalan kehidupan yang baik dan benar. Maka, pernyataan Gregory Baum (1999) yang menyatakan bahwa kebenaran agama terletak pada komitmen solidaritas dan visi emansipatoris, sangatlah relevan. Bila agama tidak menunjukkan kedua hal itu lewat penafsiran dan perilaku pemeluknya, maka lambat laun agama pasti menjadi komoditi yang tidak laku di pasaran. Bahkan akan sampai pada pembunuhan nilai-nilai spiritual seperti yang terjadi akhir-akhir ini dimana agama dikambing hitamkan penyebab berbagai konflik horizontal. Jika seorang pemeluk agama bentrok dengan pemeluk agama lain akan dianggap sebagai “sebuah tindakan melawan kezaliman” sedangkan jika orang yang berada di agama lain akan berpikiran sebaliknya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, pluralisme keagamaan haruslah juga menghadapkan dirinya dengan problem kemanusiaan kontemporer. Maksudnya, teologi pluralis haruslah mempunyai tujuan spesifik untuk membebaskan kesengsaraan dan penderitaan umat. Hal tersebut bisa dilakukan, jika para agamawan dan umat beragama mengembangkan - meminjam istilah Erich Fromm - keberagamaan yang humanistik. Artinya, mereka senantiasa peduli, peka, dan mempunyai komitmen terhadap penderitaan yang terjadi di sekelilingnya. Kepedulian dan kepekaan ini, menurut Paulo Freire, akan terwujud jika mereka memiliki kesadaran kritis dalam melihat setiap kejadian dan permasalahan.&lt;br /&gt;Bila teologi pluralis itu tidak dikembangkan dan dikawinkan dengan tujuan pembebasan kemanusiaan, maka ia akan sekadar menjadi obyek ilmu pengetahuan yang abstrak dan menggantung di langit; hanya menjadi obyek ilmu pengetahuan yang tidak mempunyai dimensi praksis. Padahal, paradigma ilmu sosial tradisional yang obyektif dari ideologi telah dirubuhkan oleh paradigma ilmu sosial kritis yang membebaskan (Jurgen Habermas, 1993). Maka, teologi pluralis sudah selayaknya mempunyai dimensi pembebasan dan tujuan ideologi untuk kepentingan sosial yang mencerahkan.&lt;br /&gt;Sebab, jika tidak dilakukan, teologi itu justru bisa dimanfaatkan oleh sekelompok agamawan guna melanggengkan status quo kekuasaan dan pemberangusan kritisisme masyarakat seperti yang terjadi menimpa umat Islam sekarang dimana hanya tunduk pada titah sang Kyai yang hanya mendasarkan agama secara tekstual tradisional, sehingga santrinya didorong dipaksa bersikap taklid terhadap keyakinan baik secara teologis maupun dalam tataran praksis.&lt;br /&gt;Sekedar Penutup&lt;br /&gt;Akhirnya, keberagamaan pluralis adalah sebuah agenda pekerjaan mendesak yang membentang di hadapan kita. Mengingat, banyak problem-problem ekonomi, politik, sosial, keamanan, dan kemanusiaan lainnya yang tidak lekas terselesaikan akibat ketidakseriusan sebagian orang. Maka, kaum agamawan dan umat beragama hendaknya memelopori sebuah praksis sosial yang berwujud pada kesadaran kritis dan keterlibatan pada upaya demokratisasi dan pengentasan krisis terutama krisis berfikir. Apa yang kita harapkan adalah munculnya pandangan-pandangan keagamaan yang lebih progresif, inklusif, dan kesaling pengertian antar agama, yang telah menjadi obsesi cultural maupun teologis kita di Indonesia.&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;Azra, Azyumardi. Reposisi Hubungan Agama dan Negara: Merajut Kerukunan Antar Umat. Jakarta: Kompas, 2002.&lt;br /&gt;Akbar S Ahmed. Postmodernisme and Islam, Terjemahan Afif Muhammad. Mizan, Bandung, 1998.&lt;br /&gt;Alwi Shihab, Islam Inklusif, Mizan, Bandung: 1999.&lt;br /&gt;Bulletin Kebebasan. Edisi 01,02,03 dan 04. Lembaga Studi Agama dan Filsafat. Jakarta; 2006&lt;br /&gt;Jurnal Emanasi, edisi 01, Lembaga Kajian dan Penulisan UIN SGD Bandung, 2001&lt;br /&gt;John Hickk, God and the Universe of Faiths, One World Publications Oxford, i993&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholish. Islam Doktrin Dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keislaman, Kemanusiaan, Dan Kemodernan, Paramadina, Jakarta, 1995, Cet 3&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholish. Pluralisme di Indonesia, jurnal Ulumul Qur’an, No 03, Vol VI i995&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholish. Masyarakat Religius, Paramadina, Jakarta, 1997&lt;br /&gt;Muhammad, Afif. Islam Mazhab Masa depan: Menuju Islam Non-Sekterian. Bandung: Pustaka Hidayah, 1998&lt;br /&gt;Rachman, Budhy Munawar. Islam dan Pluralisme; Nurcholish Madjid. Paramadina; Jakarta 2007&lt;br /&gt;Rachman, Budhy Munawar. Pluralisme dan Masalah Teologi Agama-agama, 1999&lt;br /&gt;Osman, Fathi. Islam, Pluralisme dan Toleransi keagamaan. Dalam pandangan al-Qur’an, kemanusiaan, sejarah, dan peradaban. Paramadina; Jakarta 2006&lt;br /&gt;Schoun, frithjop. Mengenai jejak-jejak agama abadi (Sur Les traces de la Religion perenne) diterbitkan pada tahun 1982&lt;br /&gt;Schoun, frithjop. Mencari titik temu Agama-agama, terj, Safroedir bahar dari judul asli, The Transenden Unity of Religion, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-8695057255262773653?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/8695057255262773653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=8695057255262773653' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8695057255262773653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8695057255262773653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/teologi-keberagamaan-pluralisme.html' title='Teologi Keberagamaan Pluralisme Liberatif'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-3947485248526482335</id><published>2007-11-29T22:21:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T22:23:08.686+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>ANAKKU, PRIA SIMPANANKU</title><content type='html'>Ratna, harus hamil tanpa seorang suami. Orangtuanya yang kaya dan dihormati, harus memikul rasa malu, akibat kecerobohan anaknnya. Padahal mereka telah menjodohkannya dengan seorang pria, anak dari temannya. Keluarga pria menerima perjodohan tersebut, walaupun dalam kondisi hamil. Namun keduanya sepakat, untuk menunda pernikahannya, disamping menunggu kelahiran si cabang bayi.&lt;br /&gt;Akhirnya Ratna melahirkan, ia pun pingsan akibat kelelahan. Namun si jabang bayi lahir dalam kondisi sehat dengan berjenis kelamin laki-laki. Pada saat itu, kedua orangtuanya mengambil si bayi, tanpa sepengetahuannya, dan menyerahkan bayi itu kepada saudaranya agar dirawat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratna pun mulai membuka kedua matanya, menatap sekitarnya, dan membalas senyuman orangtuanya, yang tersenyum bahagia akan kondisi Ratna yang mulai membaik. Luput dari perhatian itu, ia pun bertanya akan kondisi anak yang ia lahirkan.&lt;br /&gt;“Bagaimana keadaan anakku bu”? Tanyanya.&lt;br /&gt;“Anakmu tidak terselamatkan dan meninggal, sewaktu dilahirkan”. Jawab ibunya.&lt;br /&gt;Tidak terlihat keceriahan di wajah Ratna. Ia lebih banyak berdiam diri, meneteskan airmata, sedih akan musibah yang menimpa anaknya. Setelah menikah, orangtuanya menganjurkan untuk tinggal diluar negeri. Dengan harapan kesedihannya dapat terobati. Duapuluh tahun lamanya, akhirnya keduanya kembali ke Indonesia.&lt;br /&gt;Andi telah tumbuh dewasa, menjadi anak yang baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia tinggal bersama orangtua asuh, yang ia kenal sebagai orang tua kandungnya. Hari-harinya digunakan untuk berjualan, memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang pas-pasan. Disamping itu pun ia harus membagi waktunya untuk menggapai cita-cita dan karirnya.&lt;br /&gt;Sedangkan Ratna yang biasa hidup bebas, mulai kesepian dengan kesendiriannya, suaminya yang bekerja hingga larut malam, tidak bisa menemaninya terlalu lama. Sehingga ia pun bosan, mencari suasana untuk mengobati kesendiriannya, berkumpul bersama teman-teman seusiannya.&lt;br /&gt;Suatu ketika, Andi harus mengahadapi masalah yang sangat besar. Penyakit ayahnya mulai kambuh dan harus dioprasi. Untuk itu, ia harus mencari uang yang cukup besar jumlahnya, untuk biaya oprasi. Andi merasa bingung, hendak kemana ia menari uang yang begitu besar dalam waktu yang sangat singkat. Akhirnya ia mengambil inisiatif untuk menemui temannya, yang selalu membantunya dalam kondisi seperti itu. Disamping itu, ia tahu bahwa temannya Aldy sangat mudah mendapatkan uang yang besar jumlahnya dalam waktu yang sangat singkat.&lt;br /&gt;Andi bertemu dengan Aldy, mencoba menanyakan tentang pekerjaan, dan menjelaskan untuk apa ia butuh pekerjaan. Aldy pun menjelaskan mengenai pekerjaannya sebagai gigolo “lelaki penghibur”, yang pada akhirnya Andi pun menjadi terjerumus. Karena dengan itu, ia berpikir dapat menghasilkan uang yang banyak, tanpa waktu yang lama.&lt;br /&gt;Dalam sebuah arisan, Andi dipertemukan dengan tante-tante “Ratna” yang tiada buka adalah ibu kandungnya sendiri. Keduanya pun tidur bersama-sama dalam satu kamar, di sebuah hotel, mengerjakan sesuatu, seperti layaknya suami istri. Hampir setiap minggu mereka bertemu, melakukan apa yang seperti biasa mereka lakukan.&lt;br /&gt;Suatu ketika nenek sekaligus orang tua Ratna, mengunjungi saudaranya yang mengasuh dan membesarkan Andi. Dan bermaksud mempertemukan Andi dan ibu kandungnya “Ratna”. Keduanya pun (Andi dan Ratna) diundang di sebuah hotel, tanpa diberitahukan apa maksud dari undangan itu.&lt;br /&gt;Setelah keduanya datang, disamping keluarganya yang lain, Andi dan Ratna kaget, saat keduanya duduk berhadapan. Andi teroma, saat orangtua asuhnya mengatakan bahwa Ratna adalah ibu kandungnya. Andi keluar, menangis sambil menjerit seperti menyesali sesuatu. Tak bisa memaafkan dirinya, Andi bunuh diri, melompat dari atas hotel. Sedangkan ibunya “Ratna” menjadi gila.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-3947485248526482335?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/3947485248526482335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=3947485248526482335' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3947485248526482335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3947485248526482335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/anakku-pria-simpananku.html' title='ANAKKU, PRIA SIMPANANKU'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-4361307284968440979</id><published>2007-11-29T21:43:00.000+07:00</published><updated>2007-11-30T03:14:46.303+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>He heh......</title><content type='html'>[kumispheditox]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa senyuman?! Kayanya selintas tak terfikirkan istilah itu ke dalam benak kita. Yaa, itulah bahasa senyuman: tentang makna hidup dan kehidupan bijak. Mengapa orang jarang melakukan hal itu? Karena sering senyuman itu dilekatkan pada orang yang tidak normal. Justru senyuman punya banyak makna.&lt;br /&gt;Pertama, ia bisa menyapa orang lain. Senyuman tak usah membutuhkan tangan: sebab dalam melambai senyuman menjadi punya banyak makna yang beda. Ia cukup murah: ia membuat kebaikan hanya dengan dirinya sendiri, bibir. Emang ada gitu senyuman yang pake pantat? Ada. Apa? Kentut. Itu bukan senyuman tapi sapa. He heh....tapi bukankah senyuman puka makna juga menyapa? Ya, tapi persoalannya bukan begitu. Bayangin kalo nyapa pake pantat. Kayaknya celana punya lobang tiga ‘kan. Ah ribetttt.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ia bisa mengendalikan emosi, baik yang disebabkan oleh faktor eksternal maupun internal. Bahkan ia adalah penangkal egois. Senyum bisa membuat orang marah jadi serba salah. Sekaligus membuat orang berdosa: ya, senyum bisa bikin orang jadi salah sangka.&lt;br /&gt;Ketiga, ia bisa bikin awet muda: periang dan punya mimik yang cerah.&lt;br /&gt;Keempat, ia dapat menarik respon sopan dari orang lain.&lt;br /&gt;Kelima, mengatupkan bibir bisa dikatakan anti-sosial, namun bibir menganga adalah mempertontonkan aib: bukankah yang menempel di gigi adalah manifestasi dari prosentase maruk-rasuknya manusia?. Singkatnya, senyuman mampu memperlihatkan separuh diri kita.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-4361307284968440979?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/4361307284968440979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=4361307284968440979' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4361307284968440979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4361307284968440979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/he-heh.html' title='He heh......'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-6058857234092079704</id><published>2007-11-29T21:40:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T21:41:16.657+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>RUTINITAS</title><content type='html'>Malam terasa sunyi. Alunan lagu telah berhenti, mulai dari Fuck The Sistemnya-SOD sampai Naha Salah-nya Doel Sumbang. Jari-jari tangan menekan aneka hurup membentuk kata. Kata merangkai dengan kata menjadi kalimat. Kalimat saling menyusun menjadi bahasa. Bahasa demikian kita menyebutnya adalah media dimana jiwa dunia menjadi tak bernyawa. Tapi dengannya makna bukan lah hanya rasa. Ia adalah suara, bunyi, tanda bagi manusia. Mungkin dengannya manusia bisa menghadapi, memahami menjalani hidup di dunia.&lt;br /&gt;Scientific social Qura’ani, adalah sebagaian kata dari satu judul tulisan yang secara tiba-tiba mengingatkanku pada perjalanan selama ini mengeluti berbagai buku. Seperti tamu yang datang tak diundang  sebersit gagasan terlintas di kepala.&lt;br /&gt;Sudah lama kertas kuning tipis itu berada di atas tempat tidur. Sering terlihat tapi tak pernah bermakna lebih selain sebagai sebuah buku yang membuat kamar tidur “pabalatak”berantakan dan aut-autan. Membuat kasur tak dapat dipakai merebahkan badan, tidur. Menjadikan suasana ruangan tak nyaman. Membuat pemandangan tak sedap dilihat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat itu alangkah berbeda sekali. Tak jelas apanya yang beda. Ketika bukunya masih itu juga, ketika matanya masih ini juga, ketika ruangannya bertempat di situ juga, bahkan mungkin ketika letaknya masih seperti itu juga, segala sesuatunya menjadi lain.&lt;br /&gt;Itulah barangkali yang disebut dengan ketersingkapan. Sebuah hal berbeda yang sama sekali muncul dari sasuatu yang masih itu-itu juga. Itu juga barangkali yang disebut perubahan makna. Buku tipis yang asalnya bermakna sebagai sesuatu yang hanya sebagai setumpuk kertas bertuliskan  Scientific social Qura’ani berubah menjadi sesuatu yang membuat aku ingat dan kemudian punya keinginan besar untuk diperjuangkan. Bahkan aku menjadi tahu  juga dengannya apa yang menjadi orientasiku ke depan dalam belajar.&lt;br /&gt;Asburditas, itulah istilah yang aku ingat ketika berkaitan dengan apa yang dialami saat ini. Rutinitas adalah sebuah kenyataan yang memenjarakan manusia dari kesadaran akan pluralitas makna hidup di dunia. Sebuah jebakan sehingga manusia tak dapat memahami hidupnya di dunia secara utuh. Adalah tak aneh kalau bahwasanya dalam hal berikut situasinya yang berbeda kita mempunyai makna lain, kesadaran lain dan perasaan yang lain. Tapi dalam rutinitas tak semua di antara kita bisa memaknai dan menyadari satu hal dengan situasinya dan kondisinya yang berbeda sebagai sesuatu yang lain, sehingga kesadaran dan maknanya juga lain. Padahal hidup, dalam hal yang di isinya, dalam waktu yang direngganya, dalam ruang yang ditempatnya,sesutu senantiasa akan terus menjadi yang lain. Sesuatu senantiasa baru, kata mas Gun.&lt;br /&gt;Tapi apakah setiap orang bisa keluar dari rutinitas seperti itu. Jawabannya adalah ya dan tidak. Bagi seseorang ya, dan bagi yang lain mungkin tidak. Barangkali rutinitas yang seperti itulah yang dimasudkan Camus sebagai absurditas. Sebuah perjalanan hidup ketika mengalami dan menjalani hal yang sama tetapi tidak mendapat makna yang berbeda.&lt;br /&gt;Karena rutinias sendiri adalah suatu keniscayan dalam hidup maka sia-sialah kita berkeinginan untuk mengelak darinya. Satu-satunya hal yang dapat kita lakukan adalah menyelaminya. Kita hidup didalamnya dengan sebuah sikap untuk senatiasa sadar dan membuka diri terhadap apa yang hadir di dalamnya. Kita senantiasa terjaga dengan tidak membiarkan mata batin tertutup sehingga yang beda akan kelihatan beda walaupun itu mutlak dalam hal yang sama. Karena Sesuatu itu adalah beda maka yang sama-sama sebanaranya hanyalah anggapan kita yang sudah mendarah daging ketika menganggap sesuatu yang sama adalah sebagai sama. Padahal sekali lagi bahwa yang sama itu adalah beda. Tak ada yang sama. Semuanya adalah beda.&lt;br /&gt;Keluar dari absurditas bagiku adalah hidup dalam rutinitas dengan makna, kesadaran, jiwa dan diri yang berbeda. Saya adalah saya, yang dari sejak dilahirkan sampai sekarang adalah sesuatu yang berbeda, walaupun tak jarang pada saat tertentu serasa diri ini adalah itu-itu juga. Saya adalah saya yang sekarang, bukan saya dulu apalagi yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sancang, 02-05-07&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-6058857234092079704?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/6058857234092079704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=6058857234092079704' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/6058857234092079704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/6058857234092079704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/rutinitas.html' title='RUTINITAS'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-5249520440642384448</id><published>2007-11-29T21:37:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T21:38:48.375+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>BETAPA MEMUAKKAN</title><content type='html'>Di samping jalan, berdiri sebuah warung yang hampir menyerupai toko. Halaman depannya hampir berbatasan dengan trotoar. Tak jelas barang khusus apa yang dijual karena sebanarnya tempat itu selain bukan kawasan untuk jualan ada begitu banyak barang, sangat beraneka ragam. Ketaraturan tempat bukan sebuah permasalahan. Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini segala hal menjadi lumrah, seolah-olah tidak salah. Asalkan ada tempat untuk menyimpan barang, maka itu pun boleh lah. Yang terpenting adalah bagaimana bisa menyambung hidup. Soal tata letak ataupun seabrek aturan lainya yang ditetapkan oleh perda setempat adalah hal yang tak harus diutamakan. Melanggar atau tidak bukan lagi menjadi persoalan. Lebih mustahil lagi kalau mempertimbangankan kenyaman pengguna jalan. Tak tampak secara jelas siapa yang benar dan siapa yang harus disalahkan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, karena tidak ada uang receh untuk membayar ongkos angkot, aku membeli sebungkus kopi di sebuah toko di jalan Soekarno Hata. Dengan harapan agar ada uang receh untuk membayar ongkos angkot dengan uang pas. Mengapa membeli sambil menukarkan receh, karena aku berpikir bahwa kalau bukan uang pas biasanya sang supir suka menarip harga seenaknya. Akibatnya uang kembalianya seenak dewenya. Akan lebih baik kalau dibelikan kopi dari pada dimakan orang lain, sementara dalam hati sendiri tidak rela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar lacur, apa yang terjadi, harga kopi yang biasanya paling mahal 600-,/bks, di toko tersebut dijual seharga 750-, perbungkus. Karena membelinya dua bungkus, jumlah totalnya menjadi 1.750-,. Kalau dipersentasekan penjual tersebut mendapatkan untung sebesar 50% , kalau dari harga asalnya sekitar 500-,. Padahal di beberapa toko lain harga perbungkus bisa lebih murah dengan harga Rp. 500-. Aslinya, di agen paling-paling seharga Rp. 400-.&lt;br /&gt;Akhirnya, aku betapa kecewa dan sebalnya terhadap orang yang anjing itu. Dasar orang goblok, dasar orang bodoh, dasar manusia binatang, dasar..dasar...dasar!. Tapi, sebentar kemudian, aku berpikir, buat apa kesal, toh itu sudah terjadi. Kalau disesalkan malahan hati akan semakin sakit, bukannya membaik,pikirku terbersit. Aku berapologi, walaupun dalam hati, untuk mengobati rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, kalau dipikirkan kembali ternyata dari kejadian tersebut ada banyak pelajaran yang bermakna. Dalam situasi pahit sekarang ini, orang bisa saja tak peduli apa yang dilakukannya. Apakah hal tersebut merugikan orang lain atau tidak. Baginya, tindakan apa saja boleh. Standar baik dan buruk tidak lagi diperhitungkan, apakah dampaknya terhadap diri sendiri atau bagi orang lain. Yang penting adalah bagiku,,, bagiku dan bagiku.  Hanya bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah Negara yang sedang dililit kesusahan, Indonesia misalnya, kejahatan dalam berbagai bentuknya adalah hal yang lumrah terjadi dalam apa saja dan dimana-mana. Ditambah, kondisi mental yang buruk serta kesadaran yang dangkal akibat pembodohan dan pembiusan media, kondisi kehidupan seolah-olah tak pernah jauh dari peradaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain, pikiran negativeku terhadap sang supir adalah pertanda betapa kepercayaan hari ini menjadi suatu hal yang asing dan langka.Oh, betapa muaknya kondisi sekarang ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh syetan dan iblis, bukan dirimu yang membuat manusia berbuat kehinaan yang melebihi bintang [kalau diasumsikan bahwa bintang adalah makhluk rendah]. Tapi, manusialah yang menciptakan kalian. Kitalah manusia yang menciptakan syetan dan iblis. Atau kitalah yang memaksa syetan dan iblis untuk menggoda untuk berbuat tidak manusiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitalah, aku dan kalian semuanya yang telah dengan sengaja atau tidak telah mengisi kehidupan ini penuh dengan kebokbrokan. Maaf kami, oh wahai syetan dan iblis yang telah memfitnah kalian sebagai sumber dan penebar kejahatan di alam semesta yang luas nan indah ini. Sebenarsnya kamilah yang melakukan itu semua. Tapi kami tak sadar. Sekali lagi maafkan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-5249520440642384448?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/5249520440642384448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=5249520440642384448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/5249520440642384448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/5249520440642384448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/betapa-memuakkan.html' title='BETAPA MEMUAKKAN'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-7769159300300144220</id><published>2007-11-29T21:31:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T21:34:22.040+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Libido II</title><content type='html'>Hidup penuh dengan misteri untuk dimengerti. Ada hal-hal nyata dan terasa. Tapi anehnya tak masuk logika. Kadangkala jelas dialami tapi susah untuk mengerti. Bahasa yang tersusun dari kata seakan-akan tak dapat mewakili apa yang ada dalam alam nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sek adalah salah satu dari sekian banyak kenyataan di dunia yang umum dialami oleh setiap makhluk, termasuk manusia.  Keinginan untuk bersetubuh nyata ada dalam setiap keinginan yang mempunyai jiwa. Merangsang, adalah perasaan yang susah untuk dihilangkan. Akan selalu hadir. Nikmat dan sengsara bercampur menjadi satu. Sulit disebut apa nama rasanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang kali salah satunya, pada titik ini hidup adalah unik. Penuh dengan rahasia, tapi nyata. Ketika melihat tubuh yang seksi lawan jenis rasa penasaran menyergap masuk ke dalam kepala. Lamunanpun spontan melayang-layang tak tahu kemana. Berbagai pormasi layaknya dalam strategi sepakbola tercipta. Sambil duduk, berdiri, atau kaya adengan anjing gila pun ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang cukup aneh dalam kasus melihat tayangan sek. Melihat adegan porno tepatnya. Entah apa apa namanya, tapi yang jelas ketika melihat itu semua perasaan nikmat. Tegangan emosi pun naik tak tahu ukurannya. Bentuk tubuh dan adegan-adegan persetubuhan seolah-olah membawa kekuatan supra ajaib. Akibatnya, tak disadari air libido pun keluar tak terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas hidup ini penuh dengan teka-teki. Tapi bukan untuk ditakuti. Melainkan hanya untuk dijalani, dinikmati dan dihayati. Tak ada yang salah dalam hidup ini. Semuanya adalah karunia ilahi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-7769159300300144220?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/7769159300300144220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=7769159300300144220' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/7769159300300144220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/7769159300300144220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/libido-ii.html' title='Libido II'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-6360566014129713754</id><published>2007-11-29T21:28:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T21:29:42.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Bercermin</title><content type='html'>Satu kali dalam seumur hidup, kita pasti pernah bercermin. Apalagi yang dirumahnya ada kaca cermin paling tidak setiap kali akan berangkat kerja pada waktu pagi misalnya pasti akan bercermin. Tanpa ada kaca cermin bukan berarti tidak pernah bercermin. Untuk bercermin bisa digunakan berbagai media. Air bening pun bisa menjadi alat bercermin, seperti dalam cerita-cerita Ko ping kho, ketika seorang wanita dara remaja yang ingin melihat wajahnya yang konon jantik jelita. Kalau sadar, cerita orang lain mengenai diri kita juga adalah cermin.&lt;br /&gt;Berbicara tentang cermin pasti akan berkaitan dengan bayangan sesuatu yang dicerminkan. Sesuatu itu bisa kita atau bukan kita, benda misalnya. Sesuatu yang dicerminkan oleh alat bercermin disebut sebagai bayangan, suatu gambaran yang memiliki kesamaan tapi tidak persis sama dari apa yang sebenarnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercermin dalam kehidupan sekarang ini, ketika manusia sudah bisa menciptakan semua hal yang diperlukan adalah suatu perbuatan yang biasa. Sayangnya, bercermin tidak mempunyai makna lebih selain melihat nilai estetisnya sesuatu yang dicerminkan. Bercermin seperti itu barngkali adalah kegiatan yang kurang memiliki makna esensial dalam laitannya dengan lehidupan.&lt;br /&gt;Padahal, dengan bercermin kita seharusnya sadar paling tidak bahwa kita adalah setidaknya apa yang ada di dalam cermin. Di sisi lain. Zaman sekarang ini kita pun celakanya lebih yakin atas gambaran kita menurut apa yang ada dalam cermin ketimbang diri kita sendiri yang sehari-hari dialami.&lt;br /&gt;Sekarang ini, kita lupa bahwa dibalik kegiatan bercermin ada makna=makna lain yang bisa jadi sebelumnya terhijab karena kita terlalu memfoluskan bercermin hanya untuk melihat estetisnya sesuatu saja.  Padahal, dalam bercermin kita akan melihat siapa kita, seperti apa kita bahkan apa yang telah terjadi dalam diri kita. Dalam bercermin kita seharusnya sadar apa yang telah kita lakukan dan apa yang harus dilaksanakan.&lt;br /&gt;Tentu saja untuk itu semua sarat yang utama adalah bahwa dalam bercermin kita mau tidak mau harus berani jujur terhadap diri sendiri serta kenyataan. Seperti halnya kaca cermin yang tak pernah bohong atau memanifulasi dalam menampilkan bagiamana wajah kita walaupun tidak sebenarnya. &lt;br /&gt;Bercermin adalah satu titik momen yang dapat membawa kita untuk senantiasa berubah dan berubah. Berubah kearah yang lebih sempurna, sebagaimana tujuan dan harapan awal kita ketika hendak bercermin.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-6360566014129713754?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/6360566014129713754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=6360566014129713754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/6360566014129713754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/6360566014129713754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/bercermin.html' title='Bercermin'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-1791428390520304123</id><published>2007-11-29T21:22:00.000+07:00</published><updated>2007-11-30T03:16:43.386+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>SANG TAK TERDEFENISIKAN DAN SI YANG SELALU INGIN BERTANYA</title><content type='html'>TUHAN rasanya adalah suatu kata yang sulit didefenisikan, dengan rangkaian kata-katanya, lewat bahasa. Mungkin, halnya kata cinta, sulit sekali menerangkannya lewat jasa penalaran logika. Terlalu rahasia untuk dibuka lewat bantuan observasi fakta. Walaupun sulit, tapi anehnya, ia masih diimani manusia. Konon, manusia lebih percaya kepada ada-Nya ketimbang akan hidupnya di dunia. Aku sendiri pun  begitu sangat merasakan betapa dekat kehadirannya di tengah luasnya alam semesta ketika aku sedang semendalam meragukan-Nya, atau bahkan menolak-Nya.&lt;br /&gt;Mungkin, pembicaraan akan keberadaannya sama dengan usia manusia. Semenjak ia ada di alam semesta sampai sekarang, ketika manusia sudah mampu keluar dari bumi yang didiaminya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tuhan menjadi titik sentral kehidupan, kita pun sebagai manusia yang salah satu ciri utamanya adalah hasrat ingin tahu acapkali bertanya dalam hati nurani, sejauh manakah kepercayaan kita kepada-Nya. Atas alasan apa kita masih mempercayai-Nya? Mungkinkah hidup tanpa tuhan? Kalau ia ada, sebenarnya apakah Ia itu? Apakah benar kita diciptakan oleh-Nya, yang menurut ajaran Islam bahannya berasal dari Tanah, di mana manusia yang pertama adalah Adam kemudian Hawa sebagai pasangannya?&lt;br /&gt;Konon katanya, Tuhan adalah satu-satunya yang “ada”, selain ia tidak ada. Lalu dengan kekuasaannya, ia menciptakan alam semesta, entah apa tujuannya. Kemudian setelah itu ia menciptakan manusia sebagai penghuni dan sekaligus sebagai pemimpin atas semua makhluk yang ada di dalamnya. Konon juga, hanya dalam enam hari Tuhan menciptakan alam semesta dengan sangat rapih dan teratur. Ia berkata bahwa tak ada satupun ciptaan-Nya yang sia-sia, dari hal kecil hingga hal besar di luar jangkuan manusia.&lt;br /&gt;Para theolog yang seringkali diposisikan sebagai penyambung lidah Tuhan  mengatakan bahwa manusia sebagai wakilnya adalah seorang hamba yang mempunyai kewajiban untuk mentaathinya dalam setiap denyutan nadi dan hembusan nafas. Lalu kita pun bertanya apakah mungkin manusia sebagai mahluk dengan kemampuan daya ciptanya yang dahsyat, dimana baru-baru ini bentuk bayi pun bisa diatur semenjak dalam kandungan ibunya hanya sebagai budak belaka. Kalau benar Tuhan adalah maha kuasa lalu untuk apa aku berbakti kepadanya, tokh dia mampu melakukan segala hal, dia tidak membutuhkan apapun. Dimanakan posisi kemampuan manusia disamping-Nya. Bingung harus menjawabnya.&lt;br /&gt;Apakah sampai sekarang harus tetap begini? Tidak tahu, tidak ada jaminan juga bahwa jawaban yang ada sekarang pun betul-betul benar.&lt;br /&gt;Banyak para saintis dengan ketakjubannya atas alam semesta memberikan argumen atas keberadaan tuhan. Tapi itu semua adalah apologi-apologi belaka yang tidak berdasarkan fakta, walaupun mereka berbicara fakta. Benar kita tahu bahwa api panas berdasarkan pengalaman. Tapi pengalaman kita pun tak menunjukan bahwa apa yang menyebabkan api panas ada karena tuhan. Begitu juga penalaran logika telah banyak membetulkan keberadaan tuhan dengan alasan-alasan yang rasional. Tapi yang ironisnya, peneguhan pun sama imbangnya dengan penolakan. Apa yang dihasilkan akal tidak menjamin diyakini oleh semua orang atau sesuai dengan faktanya. Makin bingung. Adakah sesuatu yang sangat kuat untuk dijadikan pijakan dasar bagi kepercayaan kita kepada Tuhan sekarang?&lt;br /&gt;Ini akan semakin menarik dam semakin membingungkan ketika kita membicarakannya dengan mengunakan wacana ilmu-ilmu kontemporer yang ada. Namun, tokh tanpa wacana itupun nada dan iramanya tetap sama. Antara ada-tidak, percaya-tidak, kuat-tidak. Dan akhirnya,keduanya hanyalah interpretasi-interpretasi spekulatif belaka.&lt;br /&gt;Yang jelas, bagi kalangan tertentu,aku misalnya tanpa adanya kepercayaan kepada tuhan sebagai tempat berawal dan berakhir tak akan dapat hidup. Kalaupun bisa hidup terasa kosong.&lt;br /&gt;Mungkin untuk bertuhan tidak akan pernah membutuhkan alasan.&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah tidak mungkin benar juga apa yang dikatakan teman. Kira-kira seperti ini;Kita beragama  karena mungkin saja nanti sesudah mati surga itu ada. Neraka itu nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sancang, 27 September 2005&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-1791428390520304123?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/1791428390520304123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=1791428390520304123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/1791428390520304123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/1791428390520304123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/sang-tak-terdefenisikan.html' title='SANG TAK TERDEFENISIKAN DAN SI YANG SELALU INGIN BERTANYA'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-9148432601407850560</id><published>2007-11-29T21:13:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T21:16:25.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>MENULIS</title><content type='html'>Pada akhirnya, kita harus berani jujur terhadap diri sendiri, untuk apa menulis, menungkan gagasan demi gagasan, menghabiskan waktu untuk menyusun kata-kata menjadi kalimat bermakna, dipahami manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buku kering penuh dengan teori-teori untuk apa itu? Menulis tentang renungan pribadi atas penomena yang dilihat mata untuk apa itu? Menulis cerita pendek, puisi, atau sajak untuk apa itu? Untuk orang lain. Untuk orang lain, untuk apa itu? Kadang aku sendiri berpikir bahwa cerpen hanyalah sebuah tulisan penuh hayalan. Puisi dan sajak hanyalah tangisan hati dan kecengengan sang penulis. Sebenarnya, untuk apa, cerpent, piusi, atau sajak Itu? Dan terakhir untuk apa mempertanyakan itu?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau selama ini dengan menulis orang bisa terkenal, tapi untuk apa terkenal itu? Apakah penulis-penulis besar sendiri mengharapkan itu? Nietzscehe, misalnya sebagai salah seorang penulis sastra mutkhir hari ini, apakah ketika ia menulis ada niat ingin dikenal orang lain? Begitu juga, dengan menulis, orang bisa mendapatkan kekayaan. Tapi, apakah benar secara mutlak bahwa untuk mendapatkan uang salah satu caranya adalah dengan menulis? Bukan kah sering terjadi bahwa penulis tidak berkhir dengan duduk di atas kursi mewah nan megah, tetapi diatas kursi listrik dalam sebuah ruang ruang penjara.Untuk memberikan cermin kepada orang lain agar mereka menghargai hidup dengan menjalaninya secara baik dan benar. Tapi, apakah penulis sendiri telah mengahargai hidup dengan brbuat sepeti itu? Bukan kah banyak yang mengajarkan kabaikan dan kebenaran sementara hidupnya sendiripun berantakan dan kacau-kacau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, menulis tak memiliki nilai apa-apa selain untuk menghargai diri sendiri, dengan berubah ke arah yang lebih positif. Untuk mempermudah itu, terkadang orang yang lemah ingatan barangkali dengan menulis dapat membantu mengingat kembali serpihan-serpihan hidupnya agar mudah untuk perbaiki. Untuk memaknai hidup untuk merubah hidup ke arah yang lebih positif, untuk menghargai hidup agar lebih bermakna, menulis bukanlah satu-satunya jalan, menulis hanyalah salah satu alternatif saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali alasan praktis untuk apa menulis adalah untuk mengimpormasikan sesuatu yang belum diketahui atau menjelaskan sesuatu yang masih samar dan tersembunyi. Untuk itu pula lah menulis akan sedikit bermakna dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh, menulis hanyalah bernilai apabila menulis menjadi salah satu media untuk menyampaikan kebenaran. Kalau ada yang salah, apapun bentuknya, maka ungkapkanlah dengan menulis apa yang sesungguhnya benar. Karena kebenaran mutlak milik bersama, bukan hanya milik satu orang saja sehingga ketika ia tahu maka ada kewajiban memberi tahu kepada yang tidak tahu. Orang yang tahu bahwa sesuatu benar dan sesuatu yang lain salah  harus mengimformasikan kepada orang lain bahwa itu adalah salah dan ini benar atau sebaliknya, yang ini salah dan yang lain benar. Berangkat dari alasan itu , mungkin menulis adalah suatu kewajiban. Menulis adalah kewajiban untuk menyampaikan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa kebenaran? Tak dapat disangkal bahwa kebenaran adalah syarat mutlak agar hidup memiliki arti, makna dan berharga. Adakah di dunia ini manusia yang sanggup hidup kalau seandainya kebenaran tidak ada. Adakah di dunia ini, orang yang mau melanjutkan hidup kalau seandainya hidup itu sendiri itu tidak bermakna. Bermaknanya hidup ada karena adanya kebenaran makna hidup.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, apakah sesungguhnya benar, kita ingin menjalani hidup berdasarkan kebenaran, sehingga diharapkan akan bermakna atau berharga. Jangan-jangan, hanyalah omongan saja. Pada faktanya, kita tidak pernah peduli apakah hidup kita benar, bararti, bermakna atau berharga. Jangan-jangan, selama ini kita hidup hanyalah mengikuti bagaimana hidup menghidupi, bukan kita menghidupi kehidupan. Mengikuti semboyan iklan, jangan-jangan, selama ini kita tidak menjadikan 'hidup' lebih "hidup". Tetapi kita menjadikan 'hidup' menjadi tidak "hidup". Kita hidup, tetapi tidak hidup. Bukan hidup dan hidup. Hiduplah hidup!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-9148432601407850560?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/9148432601407850560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=9148432601407850560' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/9148432601407850560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/9148432601407850560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/menulis.html' title='MENULIS'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-690549079116948592</id><published>2007-11-29T21:04:00.000+07:00</published><updated>2007-11-29T21:12:43.978+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>TUHAN DALAM PENCARIAN MANUSIA</title><content type='html'>Pergeseran Pemikiran Manusia Tentang Tuhan&lt;br /&gt;Dalam membahas tuhan terdapat dua term yang harus dibedakan. Pertama, tuhan sebagai idea, gagasan atau pemikiran manusia tentang tuhan. Kedua, tuhan dalam pengertian dirinya sendiri yang tidak diketahui oleh umat manusia. Tuhan dalam pengertian pertama adalah hasil produk imajinasi penalaran seseorang yang didasarkan pada kenyataan alam semesta sejauh yang mampu ia pahami mengenai tuhan. Mereka memberikan istilah yang bermacam-macam, antara lain manna, dewa, tuhan atau allah. Tuhan dalam pengertian kedua adalah tuhan sebagai dzat-Nya sendiri. Ia terlepas dengan seluruh dimensi manusiawi. Dipersepsi atau tidak ia tetap tuhan dan hanyalah dia yang tahu akan dirinya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal mula adanya pemikiran mengenai tuhan dapat dirunut kebelakang sejak pertama kali manusia dapat berpikir. Secara umum, pemikiran tentang tuhan bermula dari konsepsi yang sangat sederhana samapai pada konsepsi yang sangat komplek dimana tuhan telah dipahami sangat abstrak. Dari pemahaman zaman kuno sampai dewasa ini abad kontemporer. Tahap-tahap ini tidak harus selamanya dipahami dalam pengertian periode zaman, tetapi akan lebih tepat kalau dipahami dalam pengertian taraf pemikiran umat manusia. Dewasa ini di daerah-daerah tertentu walaupun abad kontemporer masih ada kelompok yang masih bertuhan secara primitif. Corak pemahaman tentang tuhan lebih banyak ditentukan pada kemajuan pemikiran seseorang dalam zaman tertentu. Karena taraf berpikirnya sudah maju bisa jadi seseorang yang hidup ribuan tahun sebelum kita, memiliki konsepsi ketuhanan yang lebih abstrak dan rumit sebagaimana tuhan yang dipahami sekarang.&lt;br /&gt;Pergeseran pemikiran tentang ketuhanan melewati tiga tahap; animist, dinamist dan monoteist. Tahap Monoteist terbagi pada deis, theis dan pholyteis.&lt;br /&gt;Pada tahap animist manusia memahami tuhan sebagai kekuatan yang bersemayam dibalik benda-benda, umpamanya tuhan adalah kekuatan yang ada dibalik lautan. Mereka menyebutnya dengan istilah manna. Pada tahap ini manusia sudah dapat merasakan akan kekuatan diluar dirinya akan tetapi ia belum mampu mengkonsepsikan dalam bentuk tertentu. Tuhan dalam tahap ini adalah tuhan sebagai sebuah konsepsi yang kabur. Pada tahap dinamist, umat manusia sudah dapat memberikan suatu penafsiran seperti apa tuhan itu. mereka sudah dapat membuat symbol-simbol. Pada tahap ini tuhan sudah dipahami sebagai suatu kekuatan yang ada dalam benda-benda tertentu, umpanya dewi kesuburan dalam padi. Pada tahap ini tuhan tidak hanya satu tetapi banyak. Setiap tuhan memiliki kekhususan kekuatan tertentu, misalnya tuhan kebaikan dan tuhan kejahatan dalam paham zoroaster. Selain tuhan bersifat banyak, paham ketuhanan  dalam tahap ini berbeda-beda antara satu kelompok masyarakat dengan yang lain. Konsepsi tuhan dalam daerah tertentu akan berbeda dengan daerah lain. Dalam perkembangan selanjutnya, suatu masyarakat  menyatukan tuhan dalam suatu khirarkhi ketuhanan dengan adanya satu tuhan yang tertinggi. Paham ketuhanan semacam ini dapat kita temukan dalam system keprcayaan yunani kuno. Zeus adalah tuhan tertinggi yang dibawahnya terdapat tuhan-tuhan yang memiliki tugas-tugas tertentu. Atau dalam ajaran agama Hindu yang menjelaskan bahwa tuhan tertinggi adalah tuhan atau dewa Rama. pada tahap terakhir, tahap monoteis tuhan telah dipahami dalam konsep yang sangat abstrak. Tuhan adalah sesuatu yang menciptakan alam semesta. ia tidak dapat diumpakan dalam simboil-simbol tertentu ia juga melampaui manusia. Ia adalah satu, maha sempurna dan tak terbatas. Adanya tak tergantung pada keberadaan manusia.&lt;br /&gt;Tuhan pada tahap monoteis dipahami dalam tiga bentuk: pertama, dalam pemahaman deisme. Dalam paham ini tuhan adalah adalah pencipta dan tidak mengatur alam semesta. Seluruh peristiwa yang terjadi di dunia ditentukan oleh hukum alam sebagai suatu aturan yang tuhan ciptakan bersamaan dengan alam. Dalam kehidupan sekarang tuhan tidak pernah ikut campur. Kedua, dalam pemahaman teisme. Teisme mengajarkan bahwa tuhan adalah pencipta dan pengatur alam semesta. Tuhan hadir dalam kehidupan di dunia. Tak ada sesuatu pun yang terlepas dari kekuasaannya. Manusia tergantung pada tuhan. Dengan kata lain teisme adalah kebalikan dari deisme. Ketiga. Dalam paham pholyteisme. Dalam paham ini tuhan bukan sesuatu yang berada dibalik alam semesta. Akan tetapi tuhan adalah alam semsesta itu sendiri, tuhan adalah alam dan alam adalah tuhan. Alam dalam pengertian sebagai sebuah keseluruhan bukan sebagai bahagian sehingga dapat disimbolkan dalam bentuk tertentu, misalnya patung atau berhala dalam kepercayaan arab kuno atau jahiliah.&lt;br /&gt;Walaupun dari tahap animis sampai monoteis tuhan telah mengalami pergeseran pemaknaan, ada satu benang merah yang dapat ditarik sebagai konsepsi umum yang terdapat pada masing masing paham, yaitu tuhan adalah realitas tertinggi. Realitas tertinggi akan selalu dipahami berbeda-beda tergantung manusia yang mengkonsepsikan-Nya dengan konteks sosial yang membentuk. Mungkin system ajaran ketuhanan dimasa yang akan  akan lebih komplek, rumit dan sangat abstrak. Yang jelas gagasan tentang tuhan akan senantiasa ada terus mengalami perubahan, sejauh manusia mempercayainya. Tuhan pada dirinya hanyalah Ia yang tahu, Wallahu a’llam.                       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motivasi Untuk Bertuhan&lt;br /&gt;Terdapat berbagai analisa yang mecoba menjelaskan sehubungan dengan kecendrungan seseorang untuk mempercayai adanya realitas tertinggi yang pada umunya diistilahkan dengan tuhan. Analisa ini sesuai dengan kerangka pengetahuan ilmiah dewasa ini, yaitu paradigama positivistik lebih banyak didasarkan pada peilaku seseorang yang mempercayai-nya, khususnya dari perspektif ilmu psikologiy. Tidak bisa dinafikan bahwa konteks sosial masyarakat tertentu akan sangat berpengaruh pada motivasi seseorang dalam meyakini keberadaan tuhan dan pengkonsepsiaan-Nya.&lt;br /&gt;Dalam pendekatan psikologis adanya harapan kebahagiaan dan rasa takut menjadi factor utama mengapa seseorang mempercayai tuhan. Ketika seseorang merasa takut pada suatu objek dari luar dirinya, ia cendrung untuk mencari dan berlindung pada suatu kekuatan yang lebih kuat dan kuasa dari sesuatu yang ia takuti. Karena tuhan adalah dzat yang maha kuasa dan sempurna sebagaimana diajarkan oleh setiap agama, maka seseorang menemukan perlindungan bagi dirinya dalam diri tuhan. Selain adanya ketakutan dari luar, bisa jadi seseorang mempercayai adanya tuhan karena ia takut akan mendapatkan siksaan yang menyedihkan di kehidupan mendatang bagi orang yang menolok tuhan (kafir) dan berbuat maksiat. Demikian juga, ketika seseorang dalam kehidupan di dunia banyak mengalami berbagai penderitaan sehingga kehidupan adalah siksaan dan kenistaan akan dapat memunculkan suatu harapan baru bahwa dibalik kehidupan dunia ini ada suatu dunia yang memberikan kebahagiaan mutlak, yaitu Syurga dalam ajaran Islam atau Syurga maniloka dalam tradisi wayang golek. Walaupun di dunia ini ada kebahagian yang terdapat dalam berbagai bentuk, seperti kekayaaan, kekuasaan dan perkawinan, namun semua itu adalah fana dan menifu. Dunia dengan pernik-pernik kehidupan baginya  adalah ujian untuk mencapai kesempuranaan yang abadi.&lt;br /&gt;Selain dua factor diatas, bagi kalangan tertentu, kebutuhan akan nilai-nilai spiritual telah mengakibatkan seseorang percaya pada adanya tuhan. Bisa jadi dari sisi ekonomi, ia adalah orang yang kaya raya atau memiliki kekuasaan yang sangat berpengaruh. Dengan kata lain, dalam kehidupan di dunia ia mendapatkan kebahagian yang sempurna. Akan tetapi, ia tetap merasa ada yang kurang dalam dirinya. Konon, dalam tradisi Islam ada seorang  tokoh terkemuka sufi yang bernama Ibrahim bin Adham. Ia adalah saudagar kaya raya, berpengaruh, memiliki keimanan yang sangat tinggi dan tha’at dalam mengerjakan praktek-praktek keagamaan. Sekarang ini di beberapa negara maju sedang berkembang lembaga-lembaga yang memberikan pelayanan bimgbingan spritual. Atau ada beberapa ilmuan yang beralih haluan dari dunia keilmuan yang empirik-rasional masuk dunia tarekat yang sarat dengan spritual dan mistik.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argument Keberadaan Tuhan&lt;br /&gt;Apakah benar bahwa untuk percaya kepada tuhan dibutuhkan argument. Jawaban atas pertanyaan ini bisa ya dan juga bisa tidak. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita tidak membutuhkan alasan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Bahkan ada beberapa masalah ketika diberikan rasionalisasinya hal tersebut menjadi dangkal dan kabur. Dalam kehidupan sehari-hari juga ada beberapa tindakan yang harus diawali dengan alasan dan ada beberapa hal lain yang harus diawali dengan hanya ikhlas melaksanakan kemudian baru argumentasi yang jelas dan logis. Masalah tentang ketuhanan dan praktek keagamaan biasanya didasarkan pada hal-hal semacam ini.&lt;br /&gt;Pada dasarnya argument penalaran dibutuhkan untuk memutuskan atau menghilangkan keraguan antara ya dan tidak. Suatu argument penalaran diperuntukan untuk keyakinan diri sendiri dan agar orang lain percaya. Sebetulnya, argument tentang keberadaan tuhan lebih banyak dimaksudkan agar orang lain percaya dan yakin bahwa tuhan itu betul-betul ada. Bagi orang-orang tertentu (khususnya orang yang memilki pengetahuan terbatas) untuk percaya kepada tuhan bisa saja hanya cukup mendengar bahwa tuhan itu ada, merasakan keberdaaannya dengan hati  dan merasakan kemanfaatan atas berbagai dampak positif dari beberpa ajaran tertentu dalam sebuah agama, misalnya ibadah berderma.&lt;br /&gt;Dalam kajian filsafat agama terdapat beberapa argumentasi untuk membuktikan adanya tuhan; argument ontologis, kosmologis, theleologis dan moral. Kelima argumentasi ini intinya hanya tiga argumentasi; argumentasi sebab-akibat, theleologis dan moral. Argumtasi ontologis dan kosmologis masuk dalam kategori dalil sebab-akibat karena mendasarkan penalarannya pada hukum sebab-akibat.&lt;br /&gt;Argumentasi yang mendasarkan penalarannya pada hukum sebab-akibat pertama kali kemukan oleh Saint anselmust dan dikembangkan pada abad pertengangahan oleh S.T Thomas Aquinas dengan menggunakan cara berpikir Aristoteles. Dalam dunia muslim argumentasi semacam ini dikembangkan pula oleh al-Kindi, al-Farabi dan Ibn-Sina. Pada umumnya, mereka berpendapat bahwa adanya sesuatu pasti ada yang menjadi penyebabnya. Ada akibat pasti ada sebab. Adanya kehidupan menjadi bukti nyata akan adanya tuhan. Adanya gagasan tentang sesatu yang sempurna dalam setiap pemikiran umat manusia tentu ada dzat yang betul-betul ada sempurna yang menyebabkannya ada dalam setiap orang. tidak mungkin manusia yang tidak sempurna memiliki ide kesempurnan. Pasti dzat yang sempurnalah yang mengakibatkan kita memiliki idea kesempurnaan.&lt;br /&gt;Argumentasi theleologis mendasarkan penalarannya pada keharmonian alam. Alam adalah suatu kenyataan yang tersusun secara sempurna. Ia ditata dengan rancangan yang sangat ketat, didasarkan atas  hukum-hukum yang sangat pasti dan suatu perhitungan yang sangat tepat. Dengan demikian tata tertib dan kemajuan dalam alam menunjukan suatu akal dan maksud yang iamnent. Tujuan dari ketertiban alam semesta ini adalah rencana tuhan itu sendiri. Argumentasi moral lebih banyak disenangi orang karena penjelsannya langsung pada ranah psikologis. Alam telah membuat manusia takjub. Dan dengan perasaan inilah manusia akan mudah meyakini akan adanya tuhan sebagai seseuatu yang maha takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argument moral secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut; kalau pada manusia dalam dirinya sendiri ada perintah untuk melaksanakan kebaikan dan menjauhi keburukan yang pada pada dasarnya betul-betul timbul dari dorongan diri sendiri bukan hasil dari pengalaman maka perintah itu mesti berasal dari suatu dzat yang tahu akan baik dan buruk. Perbuatan baik dan buruk mengandung arti nilai-nilai. Adanya nilai dalam setiap diri manusia mengandung arti adanya pencipta nilai. Dzat pencipta nilai inilah yang disebut dengan tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan Dan Argument Kaum Atheis&lt;br /&gt;Berangkat dari asumsi bahwa setiap penalaran selalu memiliki sisi-sisi untuk dikritik, argument tentang keberadaan tuhan memiliki kelemahan-kelemahan yang dapat mengakibatkan gugurnya seluruh upaya pendasaran rasional atas keberadaan tuhan. Kelemahan-kelemahan itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Pertama, dalam argumentasi-argumentasi yang mendasarkan pada hukum sebab-akibat terdapat dua kelemahan. Pertama, hukum sebab-akibat adalah suatu hukum yang hanya didasarkan pada kepercayaan belaka, animall paith. Hukum sebab-akibat bukan suatu hukum yang didasarkan pada fakta bahwa satu benda menjadi sebab bagi perubahan benda lain. Betul bahwa tangan terasa panas setelah api menyentuh, tapi bukan api yang menyentuh tangan akan mengakibatkan tangan menjadi panas. Yang terjadi sebenarnya hanyalah kedekatan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Kedekatan tersebut kemudian diidentikan dengan suatu keyakinan bahwa satu peristiwa mengakibatrkan perubahan pada peristiwa lain. Kedua,  kalau seandainya hukum sebab-akibat adalah benar, pertanyayaannya adalah apa alasan bahwa sebab terakhir itu adalah tuhan. Bisa saja kita menginterpretasikan bahwa sebab terakhir dari materi adalah materi, bukan selain materi. Dengan demikian pernyatan bahwa sebab terakhir dari materi adalah tuhan adalah penyimpulan yang terlalu dipaksakan karena menafikan konklusi-konklusi lain.&lt;br /&gt;Kedua, dalam argumentasi moral sebagaimana dikemukakan oleh Imanuel kant, norma-norma moral tidak harus menunjukan akan adanya tuhan. Kant mengatkan bahwa eksistensi tuhan adalah postulat dari kehidupan moral;  yakni tuhan harus ada jika tata moral harus dipahami.  Selain kritik kant sendiri, kritik lain yang muncul adalah seumpamanya nilai-nilai  moral itu diakui, nilai-nilai tersebut dapat dijelaskan dengan kebutuhan dan kemauan-kemauan manusia atau dengan susunan watak manusia dan masyarakat.&lt;br /&gt;Ketiga, dalam argumentsi theleologis ada dua kritikan yang sangat tajam. Pertama, bukankah dalam alam semseta ini ada kejahatan. Kedua, apa alasan bahwa keteraturan alam itu mengharuskan adanya pencipta yang sangat teliti sehingga terciptanya alam semesta yang sangat tertata secara rapih. Bisa saja alam tercipta dari suatu materi yang sekaligus mengandung hukum-hukum di dalamnya, salah satunya adalah harmonisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Otoritatif: Iman&lt;br /&gt;Dari argumentasi serta bantahan-bantahan di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa penolakan akan adanya tuhan sama kuatnya dengan argumentasi yang menyatakan adanya tuhan. Bahkan penolakan akan adanya tuhan lebih kuat dari pernyatana adanya tuhan. Pertanyaannya sekarang adalah apakah keberadaan tuhan dapat dibuktikan dengan akal atau tidak. Kalau tidak, lantas apakah semua yang tidak dapat dipertangguh jawabkan secara rasional itu mengindentikan bahwa pernyataan adanya tuhan adalah bohong belaka. Dengan kata lain tuhan itu tidak ada karena tidak ada alasan raional yang dapat membuktikan.&lt;br /&gt;Terlepas dari apakah akal dapat membuktikan adanya tuhan atau tidak, bagi kalangan yang mempercayai adanya tuhan iman adalah solusi yang tepat untuk mempertahankan akan adanya tuhan. Iman pada awalnya diterima secara dogmatic tanpa alasan apapun, taken for oriented. Iman adalah fondasi dasar bagi seseorang untuk mempercayai adanya tuhan. Akan tetapi iman saja tidak cukup karena iman perlu penghayatan dan pemaknaan sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian iman butuh rasionalisasi untuk dapat dipahami apa sesungguhnya iman kepada tuhan itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR FUSTAKA&lt;br /&gt;Karen Armstrong; Sejarah Tuhan,  Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Helmi Umam; Dance Of God, Aviron, Jogjakarta&lt;br /&gt;Harun Nasution; Falsafat Agama, Bulan Bintang, Jakarta&lt;br /&gt;Lois.O. Kattosof; Pengantar Filsafat., Tiara Wacana, Jogjakarta&lt;br /&gt;Harold. H. Titus, Marylin S. Smith dan Ricard T. Nolan; Living Issues In Philosophy, terjemahan H.M. Rasjidi, Bulan Bintang, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-690549079116948592?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/690549079116948592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=690549079116948592' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/690549079116948592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/690549079116948592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/tuhan.html' title='TUHAN DALAM PENCARIAN MANUSIA'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-2099114444727355728</id><published>2007-11-29T20:55:00.001+07:00</published><updated>2007-11-29T21:00:17.476+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Adakah dan Bagaimana</title><content type='html'>Proses perjalanan sejarah umat manusia hidup di alam semesta sangat unik. Ruang dan waktu adalah satu parian tersendiri di dalamnya. Keduanya merupakan sesuatu dari  dua hal yang tak terpisahkan dari kesatuan manusia itu sendiri dengan dunia tempatnya berdiri. Manusia tak pernah bernafas di tempat yang tak-beruang dan tak diikat sang waktu. Begitu juga dengan yang ada di luar manusia, misalnya benda-benda (baik yang bergerak seperti hewan atau tumbuhan maupun benda-benda seperti batu) hanyalah akan menjadi sesuatu yang bermakna, sejauh semuanya berkaitan atau memiliki hubungan dengan kehidupan manusia. Pada dirinya sendiri segala hal sesuatu selain manusia adalah nol. Atau barangkali chaos, yang kemudian direkayasa manusia dengan struktur keterpahamian melalui 12 kategori apriori seperti dalam konsep Kantian yang tak lain adalah untuk suatu tujuan penaklukan dari kehendak untuk berkuasa, demikian Nietzsche mengklaim. Akibatnya tercipta suatu dunia yang teratur. Atau barangkali memang seperti esensialisme modern, yang mengimani bahwa ada sesuatu dibalik sedala sesuatu. Sesuatu yang tetap dan yang tak akan pernah berubah. Seperti yang aku katakan pada kawan sekelas, bahwa esesnsialisme modern kiranya terletak pada klaim akan adanya hukum ilmiah yang berada dibalik benda dan manusia itu sendiri, misalnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari asumsi pertama bahwa makna tergantung pada manusia kiranya kesimpulan jauhnya adalah bahwa  Manusia merupakan titik central kehidupan yang pada akhirnya alam semesta menjadi bermakna. Manusia adalah segala-galanya. Manusia dan hanya manusia. Pergerekan dan dinamika yang terjadi di dunia adalah implikasi dari tindakan manusia itu sendiri. Ketidak-baikan yang terjadi adalah pengaruh dari kehendak manusia. Begitu juga, Kalau kebaikan itu ada, maka semuanya dikembalikan kepada manusia.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari pernyataan di atas, maka pengetahuan, nilai-nilai,atau apapun juga yang memiliki keterkaitan dengan manusia, barangkali termasuk agama tak lain adalah hasil kreativitas manusia. Ini tercipta karena manusia di dunia tidak hanya sebagai objek. Tapi, plus sebagai subjek untuk dirinya sendiri. Manusia  adalah subjek-objek kehidupan. Tak ada yang ada di dunia selain manusia sebagai pecipta untuk dirinya sendiri, bukan untuk yang lain. Suatu posisi yang yang sangat unik sehingga pantas kalau perbincangan manusia tak atau mungkin tidak akan pernah selesai. Barangkali inilah sebagian dari isi klaim manusia sebagai makhluk misterius. Bukan hanya karena ia beraneka ragam. Tapi posisi itulah yang menjadikannya misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyatatan tersebut, sebagaimana dideskripsikan di atas, maka apakah kehidupan itu sebenarnya bagi manusia, ketika manusia adalah segala-galanya. Adakah nilai-nilai agung memiliki makna bagi mansuia. Atau apakah memang benar bahwa di dunia ada hal agung selain hasil manusia. Adakah dan apakah artinya nilai kebenaran, kebaikan, keadilan serta kebahagian bagi mansuia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan itu semua hanyalah omong kosong belaka. Sesuatu yang membuat manusia terlena dari fakta yang ada. Sesuatu yang kita jadikan penutup kebenaran dengan topeng kebenaran atau sebagai pelipur lara dari penderitaan atas kepahitan dunia. Kalau benar bahwa semuanya ada dan bukan merupakan hasil kreatif manusia, bagaimanakah mengetahui dan menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari makhluk pertama [kalangan agamawan, Islam, Kristen dan Yahudi sepakat bahwa manusia pertama yang hidup di dunia adalah Adam dan Hawa] sungguh perjalanan manusia telah melawati ruang dan waku yang sangat panjang. Standar ukur atau hitungan waktu tidak mampu memprediksikan sudah berapa lamakah manusia hidup mengembara di alam semesta. Tak ada jawaban pasti. Sejarawan hanya bisa menyelesaikannya dengan perkiraan-perkiraan. Salah satunya adalah dengan membuat pendikotomian corak kehidupan manusia, seperti pase pra sejarah dan sejarah atau sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses panjang tersebut sudah tak terhitung aneka ragam peristiwa terjadi. Kekalahan dan kemenangan suatu bangsa atau penderitaan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari dua asumsi tentang manusia; manusia adalah makhluk berpikir dan berbudaya,rekaman-rekaman mengenai berbagai peristiwa disusun secara sistematis. Kemudian jadilah apa yang kita kenal sekarang dengan sejarah. Begitu juga dengan semakin meningkatnya tingkat pengetahuan manusia, ilmu terntu muncul yang khusus meneliti dan mengkaji aspek sejarah manusia. Lahirlah satu cabang ilmu sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan sejarah kita melihat bahwa pergolakan antara satu kelompok atau bangsa berusaha untuk mendominasi yang lain. Yang kuat dia yang menang. Sebaliknya yang lemah mereka harus dicoret dari sejarah. Pada akhirnya sejarah tak lain adalah cerita para pemenang. Kemajauan, Kemegahan atau kesejahteraan selalu didegung-dengungkan dan diceritakan kepada anak generasi penerus untuk dijadikan contoh bagaimana menajalani kehidupan masa depan. Tak jarang pada pase selanjutnya, ketika yang menang sejarah berubah. Yang kalah akan dibalik cerita faktanya, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pada faktanya seperti itu, apakah ada kebenaran dalam sejarah. Dengan kata lain, apakaha cerita-cerita yang dimuat dalam buku sejarah adalah benar pada faktangya memang terjadi. Pada kenyataannya, adalah suatu hal yang tak dapat ditutup-tutupi bahwa kebenaran suatu peristiwa harus disumpat oleh para penguasa. Kematian adalah hal yang lumrah bagi setiap orang yang berusaha menguak kebenaran faktanya. Dengan asumsi bahwa ilmu penegtahuan adalah untuk merubah sejarah, maka apakah penelitian sejarah tak lain adalah upaya untuk merumuskan sejarah yang ingin ditegakan. Kebenaran fakta bukanlah sebagai tujuan tetapi kepentinganlah yang jadi alasan. Pada akhirnya, kita juga bisa bertanya, apakah pantas dijadikan landasan kehidupan. Yang dimaksud adalah bisakah sejarah salah satu bahan bagi umat manusia untuk merencanakan masa mendatang. Meminjam istilah agama, sejarah dijadikan ibrat'.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ini harus dipertanyakan, sebab pada paktanya klaim-klaim yang menyatakan bahwa hal-hal agung itu ada dan bukan hasil kreatifitas manusia, tapi ada sesuatu di luar diri manusia yang menciptakannya, entah itu tuhan dalam teologi atau ada dengan sendirinya dalam paham materialisme dan naturalisme, senantiasa ada keterlibatan manusia di dalamnya. Kalau manusia adalah subjek dalam itu semua, maka apakah itu semua adalah hasil manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahu harus menjawab apa. Hanyalah entah dan bagaimana yang aku punya. Aku kemudian berpikir bahwa jangan-jangan sebenarnya kita sedang mengarungi kehidupan hanya dengan bermodalkan satu kata, “entah”, meminjam istilah Gunawan Muhammad.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-2099114444727355728?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/2099114444727355728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=2099114444727355728' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/2099114444727355728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/2099114444727355728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/adakah-dan-bagaimana.html' title='Adakah dan Bagaimana'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-7774787388222688706</id><published>2007-11-22T23:06:00.000+07:00</published><updated>2007-11-22T23:08:18.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Mengapa???</title><content type='html'>Mengapa kita banga dengan mekarnya kembang&lt;br /&gt;Di suatu taman milik orang lain&lt;br /&gt;Keindahan yang membuat kita lupa atas semua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah lebih baik&lt;br /&gt;Kita bersyukur atas kejelekan sendiri&lt;br /&gt;Tanpa itu tak ada kebaikan&lt;br /&gt;Kebobrokan, kebodohan, atau seibu satu lainya&lt;br /&gt;Dari kekurangan kita&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah tak mudah untuk mengakui itu semua&lt;br /&gt;Sama seperti sulitnya mendambakan kesempurnaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya kebaikan adalah sisi lain dari kejelekan&lt;br /&gt;Sebaliknya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-7774787388222688706?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/7774787388222688706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=7774787388222688706' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/7774787388222688706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/7774787388222688706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/mengapa.html' title='Mengapa???'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-382874158415643214</id><published>2007-11-22T23:02:00.000+07:00</published><updated>2007-11-22T23:03:45.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>KAKEKTUA</title><content type='html'>Di atas hitamnya jalan aspal&lt;br /&gt;Seorang kakek tua berjalan&lt;br /&gt;Menarik gerobak kayu berat tak-terkirakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan megapit dua penarik roda&lt;br /&gt;Tangannya bergetar&lt;br /&gt;Mulutnya tak "diam'&lt;br /&gt;Bergetar, bergetar, bergetar&lt;br /&gt;Gerakan bukan diperintahkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang kaki bengkok berhadap-hadapan&lt;br /&gt;Berjalan bersampingan dengan putaran roda kendaharan berharga milyaran&lt;br /&gt;Menginjak, menginjak tanpa alas atau pembatas&lt;br /&gt;Panas-panas, panas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untaian kata seolah tak dapat di sewa seandainya dunia bisa&lt;br /&gt;Bahasa tak mewakili apa yang dirasa&lt;br /&gt;Tanda seolah-olah bukanlah simbol atas apa yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata tak dapat menucurkan air tanda derita&lt;br /&gt;Jiwa serasa tak merasa atas apa yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sangup, tak sangup, tak sanggup&lt;br /&gt;Melihat apa yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di sini&lt;br /&gt;Di tempat yang dianugarahi sang dewata&lt;br /&gt;Mengapa, yang ada adalah neraka&lt;br /&gt;Di sini, di sini&lt;br /&gt;Di tempat agama-agama terbesar ada&lt;br /&gt;Mengapa yang ada adalah durjana&lt;br /&gt;Di sini, di sini&lt;br /&gt;Di tempat terkaya di dunia&lt;br /&gt;Mengapa yang ada adalah sengsara dan derita&lt;br /&gt;Di sini, di sini&lt;br /&gt;Di tempat, bernama bangsa&lt;br /&gt;Yang seharusnya adalah kita&lt;br /&gt;Mengapa yang ada hanyalah mereka bahkan dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, di tempat ini&lt;br /&gt;Yang seharusnya ada adalah tidak ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, dia, dialah yang mampu menerima kenyataan dunia&lt;br /&gt;memperjuangkan derita tanpa bergantung kepada Dia&lt;br /&gt;dia, dialah kakek tua renta&lt;br /&gt;Bangga atas apa yang diterima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dia adalah dia&lt;br /&gt;Tidakkah, aku atau kita bercermin pada dia&lt;br /&gt;Kalu tidak, tidak kah aku atau kita adalah raga tanpa jiwa&lt;br /&gt;Bahkan orang gila&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-382874158415643214?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/382874158415643214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=382874158415643214' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/382874158415643214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/382874158415643214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/kakektua.html' title='KAKEKTUA'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-3489713011848329076</id><published>2007-11-22T22:51:00.001+07:00</published><updated>2007-11-22T22:57:17.555+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>WARNA-WARNI</title><content type='html'>Memang, hidup unik&lt;br /&gt;tawa, canda dan gembira&lt;br /&gt;kesedihan, kekecewaan dan keputusasaan&lt;br /&gt;Kebingungan seolah-olah tak mau ketinggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kehidupan&lt;br /&gt;Setiap orang akan mengalaminya&lt;br /&gt;Tak ada kekecualian&lt;br /&gt;Satu atau dua detikpun tak akan terlewat&lt;br /&gt;Orang kaya atau orang miskin&lt;br /&gt;Dewasa dan orang sudah lanjut usia&lt;br /&gt;Ada cinta, ada benci&lt;br /&gt;Ada kagum dan ada bangga&lt;br /&gt;Bahkan ada juga yang ada tapi tak dapat diadakan dengan kata&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang dituntut untuk menghadapi&lt;br /&gt;Tak dapat mengelak&lt;br /&gt;"Hatta" bersedia atau tidak&lt;br /&gt;Hanya yang berjiwa besarlah yang dapat bahagia&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-3489713011848329076?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/3489713011848329076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=3489713011848329076' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3489713011848329076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3489713011848329076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/warna-warni_22.html' title='WARNA-WARNI'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-2633316878640921326</id><published>2007-11-22T22:39:00.001+07:00</published><updated>2007-11-22T22:41:28.972+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>PERJALANAN</title><content type='html'>Liku-liku kehidupan terus berjalan&lt;br /&gt;Detik-detik waktu terus bergerak tanpa tersela&lt;br /&gt;Kejadian demi kejadian datang silih berganti&lt;br /&gt;Kompleksitas hidup seolah menjadi warna tersendiri&lt;br /&gt;Bukti bahwa dunia betapa  penuh misteri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore terasa sepi&lt;br /&gt;Alunan suara musik terdengar keras berbunyi&lt;br /&gt;Sayup-sayup terdengar suara kendaraan melaju melewat&lt;br /&gt;Lamunan pun melayang mencoba menangkap semua yang terjadi&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesosok penghuni alam semesta bernama manusia termenung dalam sunyi&lt;br /&gt;Memikirkan atas apa yang telah dan sedang teralami&lt;br /&gt;Dunia memang banyak menyimpan teka-teki&lt;br /&gt;Ada yang telah berhasil diungkap&lt;br /&gt;Ada yang masih terendap jiwa alam buana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan datang bertubi-tubi&lt;br /&gt;Tanpa berhenti dan bisa ditutupi&lt;br /&gt;Kebenaran terhijab sayap setan&lt;br /&gt;Kebohongan dunia membuat manusia tersesat tanpa sadar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang masa silam&lt;br /&gt;Saat dunia seolah menyeret pada keputusasaan&lt;br /&gt;Hari-hari seolah enggan untuk memberi kebahagiaan&lt;br /&gt;Secerca harapan selalu menuai kegagalan&lt;br /&gt;Mimpi menghantui&lt;br /&gt;Impian terasa bagaikan siksaan dalam keterjagaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba segalanya berubah&lt;br /&gt;Keajaiban datang&lt;br /&gt;Menawarkan sesuatu yang diimpikan&lt;br /&gt;Namun tak pernah terbayangkan&lt;br /&gt;Impianpun mewujud jadi kenyataan&lt;br /&gt;Kegembiran dengan harapan bercampur,berpadu&lt;br /&gt;Seolah ingin memudar keluar dan berkata&lt;br /&gt;Merdeka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini semuanya serasa tak pernah ada&lt;br /&gt;Hampir tak pernah teringat&lt;br /&gt;Semuanya serasa tak pernah berbeda&lt;br /&gt;Sekarang dan dulu seakan-akan adalah satu&lt;br /&gt;Tak pernah ada dua masa dengan dua dunia&lt;br /&gt;Inikah namanya kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik demi detik seolah baru dan baru&lt;br /&gt;Tak ada dulu atau yang akan datang&lt;br /&gt;Yang ada hanya sekarang dan disini&lt;br /&gt;Semuanya terasa sama&lt;br /&gt;Asing, dan penuh tanda tanya&lt;br /&gt;Walaupun ingat, seolah tak pernah terjadi&lt;br /&gt;Semua seolah berlalu dan berlalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesederhanakah hidup ini&lt;br /&gt;Tak mungkin&lt;br /&gt;Bisakah setiap hembusan napas terasa penuh makna&lt;br /&gt;Kesedihan seolah tak pernah menimpa&lt;br /&gt;takkala kebahagian memberikan kesenangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajarlah untuk hidup&lt;br /&gt;dalam setiap detik kehidupan&lt;br /&gt;Renungkan dan ambillah hikmahnya&lt;br /&gt;Kita hidup sekarang dan disini&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-2633316878640921326?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/2633316878640921326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=2633316878640921326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/2633316878640921326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/2633316878640921326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/perjalanan.html' title='PERJALANAN'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-4529954250697669673</id><published>2007-11-22T22:26:00.000+07:00</published><updated>2007-11-22T22:28:53.266+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>KASIH</title><content type='html'>Ia mati di atas ranjang&lt;br /&gt;Ditemani penyakit&lt;br /&gt;Disaksikan erangan kesakitan &lt;br /&gt;Dalam pengapanya ruangan&lt;br /&gt;Bau obat-obatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mati di atas hitamnya jalan&lt;br /&gt;Di rampok, dibunuh ditindas kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ia mati, putusnya kehidupan&lt;br /&gt;Atas nama tuhan&lt;br /&gt;Memperjuangkan kejayaan &lt;br /&gt;Berperang membunuh atau dibunuh&lt;br /&gt;Katanya mulia&lt;br /&gt;Dengan motif benci&lt;br /&gt;Berakhir sadis dan hilangnya nyawa &lt;br /&gt;Yang ada adalah anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mati  atas nama kemerdekaan&lt;br /&gt;Perjuangangan untuk sebuah kebebasan&lt;br /&gt;Berkibarnya sang saka bendera di atas cakrawala&lt;br /&gt;Sebuah pengorbanan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening, riuh resah &lt;br /&gt;Bak air permukaannya tenang&lt;br /&gt;Dalamnya gemuruh dan riuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin mati diatas pangkuanmu &lt;br /&gt;Dalam dekapan nan belaian&lt;br /&gt;Tangan dan pelipis pipimu menenangkan resah jiwaku&lt;br /&gt;Dalam kesempurnan&lt;br /&gt;Menuju yang maha tak-terdefenisikan &lt;br /&gt;Tempatku berawal dan kembali&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-4529954250697669673?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/4529954250697669673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=4529954250697669673' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4529954250697669673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4529954250697669673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/kasih.html' title='KASIH'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-5172212403182449011</id><published>2007-11-22T22:07:00.000+07:00</published><updated>2007-11-22T22:09:08.908+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>HITAM</title><content type='html'>Sancang, i4, i2, o5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat dunia dengan kacamata hitam&lt;br /&gt;Tersingkaplah bayangan kenyataan, serba hitam&lt;br /&gt;Akupun menjadi hitam. Hidup pun menjadi serba hitam&lt;br /&gt;Apakah dunia ini berwarna hitam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah di sini dan sekarang&lt;br /&gt;Dulu adalah guru&lt;br /&gt;Masa depan adalah tujuan&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah berharap mendapatkan permata intan&lt;br /&gt;Kalau sebutir pasir belum pernah dimanfaatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih memilih menderita dari pada bahagia&lt;br /&gt;Padahal keinginan sejati adalah bahagia&lt;br /&gt;Pantaskah aku berbuat itu semua&lt;br /&gt;Apa yang  harus aku lakukan sekarang&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-5172212403182449011?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/5172212403182449011/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=5172212403182449011' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/5172212403182449011'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/5172212403182449011'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/hitam.html' title='HITAM'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-8454987172245920677</id><published>2007-11-22T21:55:00.002+07:00</published><updated>2007-11-22T22:03:14.992+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>ILAHII</title><content type='html'>Sancang, i6, i1, o5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam terasa dingin&lt;br /&gt;Kesunyian menyergap dalam&lt;br /&gt;Susana tenang&lt;br /&gt;Iringan lagu menenangkan hati&lt;br /&gt;Syahdu dan merdu berpadu menjadi satu&lt;br /&gt;Aku duduk menuliskan keadaan diriku&lt;br /&gt;Merenungkan atas apa yang aku rasakan&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuliskan penggalan peristiwa yang telah dilakukan&lt;br /&gt;Mencari kebijaksanaan diantara deretan perbuatan&lt;br /&gt;Kosong rasanya hidup ini&lt;br /&gt;Semuanya terasa seperti dengan sebelumnya&lt;br /&gt;Hampa tiadak ada yang ada berbeda.&lt;br /&gt;Stagnan dalam setiap laju detik yang terus berjalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilahi dalam dirimu aku berada&lt;br /&gt;Hidup di bawah kasih sayangmu&lt;br /&gt;Kebebasanku adalah kemutlakan dirimu&lt;br /&gt;Keterikatanku adalah kekuasaanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ialahi tempatku berada&lt;br /&gt;Kepadamu aku bersimpuh dan mengadu&lt;br /&gt;Memohon petunjuk atas hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilahi kepadamu dalam pengampunanmu aku pasrah&lt;br /&gt;Menyadari atas segala kekhilafan yang telah hambamu lalukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilahi bimbinglah kepanaan ini dengan rahmatmu&lt;br /&gt;Menuju kesempurnaan&lt;br /&gt;Menjalani kehidupan sesuai dengan ridhamu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-8454987172245920677?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/8454987172245920677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=8454987172245920677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8454987172245920677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8454987172245920677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/11/ilahii.html' title='ILAHII'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-188597439831563086</id><published>2007-10-02T00:11:00.001+07:00</published><updated>2007-10-02T00:13:51.491+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>PROSA TANPA TUHAN</title><content type='html'>- Homicde (split with Balcony)&lt;br /&gt;BOOMBOX MONGER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov mencari poros molotov yang tak lebih busuk dari kritik kapitalisme George Soros senyawa dari nyawa kreator dan sendawa para insureksionis berkosmos ruang diluar buruh dan boss, dan kertas Pemilu yang kau coblos dimana komrad ku mengganti logos dan kamus dengan batu Sisifus memutus selang infus negara dan institusi sampai mampus pada lahan bertendensi kooptasi Sony dan empty-V dan para radio penyedot phallus fasis bertitah 'harus',&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PROSA TANPA TUHAN&lt;br /&gt;mengayunkan pedang pada sayap setiap Ikarus dengan hirarki dalam modus operandi layak Kopassus microphone bagi kami adalah pemisah kalam dengan pembebasan yang mengkhianati milisi tanpa seragam koloni, hiphop philantrophy seperti Upski resureksi boombox yang sama pada Madison Park awal delapan puluhan membawa ribuan playlist dari Chiapas, Kosovo dan Jalur Gaza Seattle dan Praha, Checnya, Genoa, Yerusalem, Dili dan Tripoli untuk api militansi aktivisme yang meredup pasca molotov terakhir terlempar di Semanggi obituari dari lini terdepan milisi pada garis batas demarkasi jelaga resistansi lulabi penghitam langit tanpa teritori logika tanpa kuasa perwakilan yang layak dikremasi ketika senjata bermediasi, ketika ekonomi dan valas berubah sosok menjadi tirani jelajahi setiap kemungkinan dengan kain kafan modernisasi prosa beraliansi dengan dekonstruksi surga-neraka rakitan, militansi tanpa puritan Verbal Homicide, Rock-Steady Bakunin, MC Klandestin pada peta sirkuit boombox para B-boy kami adalah Fretilin dalam kacamata Bakin /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhnovist yang melukis realisme sosialis diatas kanvas Dada Post-Mortem Hip-Hop takkan pernah berkaca bersama Fukuyama dialektika kami tanpa radio dan visualisasi anti-HBO tanpa agenda politik partai yang membuat Mussolini membantai D'Annunzio juga korporasi multinasional yang menjadikanmu lubang senggama kooptasi kultur tandingan yang berunding dalam gedung parlemen Partai Komunis Cina yang mereproduksi Walter Benjamin ke tangan setiap seniman Keynesian yang mensponsori festival insureksi dengan molotov cap Proletarian® instruksi harian dalam mekanisme kontrol pergulatan menuju amnesia lupakan Colombus, karena Bush dan Nike® telah menemukan Amerika® inkuisisi mikrofonik dalam kuasa estetika yang merevolusikan pola konsumsi menjadi intelektualisme organik seperti Gramsci ekonomi membuat kami mendefinisikan otonomi pada mesin foto kopi rima anti-otoritarian memandikan bangkai Hiphop® yang tak pernah kau otopsi  membaca peta kekuasaan seperti KRS-ONE dan MC Shan sambil meludahi modernitas seperti Foucault diatas neraka Panopticon ketika Moralitas® telah berubah menjadi candu seperti Marxisme® dan Agama® maka MC mengambil mikrofon dan melahirkan tragedi dari puncak Valhalla karena Ardan® dan kalian hanya akan melahirkan kombinasi busuk seperti Iwan dan Djody, dikotomi antara Farakhan, Amrozy, dan Nazi bongkar paksa setiap parodi labirin eforia sensasional Harry Roesli B-boy semiotika artifak simultan antara ekstasi dan revolusi setiap properti privat adalah galeri dan merubah eksistensi menjadi pertahanan paling ofensif para Darwinis yang menolak menjadi partisan /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat saat awal 80-an, entah tahun berapa tepatnya, didekat sebuah SD Inpres dekat rumah terdapat sebuah lapangan volley dimana setiap sore diadakan acara breakdance yang selalu saya tonton sebelum saya pulang sekolah. Saya tak pernah bisa breakdance dan memilih untuk duduk dipojok dekat sebuah tape besar yang memasok ritme bagi mereka yang berpartisipasi di atas lembaran kertas kardus. Saya selalu ingin memiliki tape jenis itu, yang tak pernah saya dapatkan hingga setahun kemudian, justru saat demam breakdance sudah mulai habis, ketika ayah saya pulang dari pasar loak di Cihapit membelikan sebuah boombox sebesar jendela dan sebuah soundtrack film Tari Kejang sebagai hadiah ulang tahun. Saya sangat bangga dengan boombox itu terlebih ketika melihat boombox yang hampir mirip dipakai LL.Cool.J untuk sampul album pertamanya, 'Radio,  hingga hampir setiap hari saya bawa kemanapun saya bermain, meski tanpa baterai sekalipun. Dan memang demam breakdance melenyap, karena 'era'-nya sudah lewat dan 'Jack The Ripper', 'King of Rock' dan 'Rebel Without A Pause'  pun tidak cocok untuk breakdance dan boombox itu berubah fungsi menjadi sebuah tanda tak langsung untuk mengatakan bahwa lagu yang diputar teman tetangga saya sucks. Wham sucks, Lionel Richie sucks. Memasang musik hingga indikator volume memerah. Dua dasawarsa telah lewat, boombox itu telah rusak dihajar umur. Namun kami besar bersama hiphop yang sama yang pernah diputar di tape itu. Hiphop yang notabene sebuah kultur asing yang kami tak memiliki tradisinya, bukan wayang golek dan bukan kecapi suling. Hiphop yang sama yang mengenalkan kami dengan sebuah semangat menghajar kebosanan dan cara-cara verbal dan fisik menampar status quo dan sekaligus sebuah rasa cinta pada kehidupan. Hiphop yang bukan 'bling-bling' yang kami dengar di radio akhir-akhir ini dan yang berotasi di MTV Non Stop Hits. Ini semua membuat kami berandai-andai membayangkan jika seorang B-boy menenteng boombox, lagu apa yang akan mereka putar supaya dapat mewakili mereka merepresentasikan identitas mereka, album apa yang layak diputar sebagai soundtrack keseharian mereka sehingga dapat berbagi semangat dan perasaan pada setiap kawan yang mereka jumpai sekaligus seolah menampar setiap tikus-tikus konservatif yang mencoba menyuruh mereka mematikan boombox tersebut. Kemudian bayangkan kata 'B-boy' digantikan dengan 'setiap orang', jika memang benar konon 'setiap orang' memiliki hasrat. Hasrat yang sama yang kami rasakan hari ini ketika kami menginginkan sesuatu. Sesuatu yang bukan bagian dari sebuah dunia lama yang usang, status quo yang menghalangi kami mendapatkan hasrat. Hasrat untuk lepas dari tirani ekonomi, hasrat untuk lepas dari kontrol, lepas dari imbas kebijakan para segelintir elit dan opresi otoritas, lepas dari kewajiban sok moralis, dari ketakutan terhadap bom yang setiap saat dapat meledak didepan teman dan keluarga kami, lepas dari usaha-usaha penyeragaman dunia, dari kontrol dan imbas manusia-manusia yang berlomba berkompetisi untuk mengejar hasrat-hasrat mereka, dari hegemoni negara dan korporasi, lepas dari kooptasi para mencret-mencret dasamuka bisnis untuk kemudian membayangkan setiap orang bekerjasama, berko-operasi untuk setiap kebutuhan dan hasrat mereka. Sebut itu utopia. Namun yang pasti hasrat itu kali ini harus kami capai bukan dengan sekedar duduk dan menunggu karena saya yakin ia tak akan pernah datang dalam bentuk kado ulang tahun. Now I got the brand new box and i'm about to pass it. Make sure everything remains raw then gimme ya playlist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini adalah sebuah altar, secara nyata atau secara metafor, dan kita berada diatas sebuah reruntuhan yang masih tetap mencoba membangun dirinya kembali dengan tumbal-tumbal sejarahnya. Reruntuhan semua ide-ide totalitarian yang sekarang bergerak sibuk ber-resureksi atas nama tata dunia baru, demokrasi, moral, massa, rakyat, agama, surga, perkembangan ekonomi, bunga bank dan pesona deodoran. Sebagian mendomplengi globalisasi dan sebagian bergerak diatas tribalisasi. Perang lama dengan elit baru yang selalu membutuhkan serdadu, pahlawan, reproduksi mesin-mesin perang mereka dan tentu saja, tumbal. History 'is history'!! Representasi dan identitas menjadi sebuah persembahan dalam ritual mutlak bagi altar manusia modern. Kualitas tak dituju melalui kuantitas, tetapi kuantitas merefleksikan kualitas itu sendiri.Tak heran mengapa imej begitu memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Resureksi atau lebih tepatnya lagi revival dari ide-ide totalitarian tak lebih dari perwujudan romantisme seperti halnya sosok seorang Megawati yang dirindukan oleh para pengikut Soekarno. Sebuah 'cover song' yang telah begitu menjijikan untuk dapat menjadi sebuah 'hit' kembali!! Who needs ideology if the ideas are in everyone's mind? Terlalu lama manusia menjadi objek dari ide-ide tanpa pernah memperlakukan dirinya sebagai subjek dari ide itu sendiri. Terlalu sentimentil dalam memilih produk yang mampu merepresentasikan dirinya tanpa pernah menggali potensi kekuatan dibalik redefenisi atau bahkan dekonstruksi, terlalu lama menjadi bagian dari sebuah entitas yang bernama 'massa' tanpa menyadari eksistensi dirinya sebagai seorang individu. Jika 'in-versi' hanya akan melahirkan kooptasi lainnya seperti halnya Punk-Rock® dan upaya-upaya in-versi lainnya, maka versi membutuhkan sebuah sub-versi. Karena takkan pernah cukup untuk hanya membalikkan sesuatu tanpa pernah menyentuh maknanya. Sesuatu yang terbalik tidak selamanya memiliki kapasitas negatif. Tetapi, seperti ucapan Ani DiFranco bahwa, 'every tool is a weapon if you hold it right'. Sebotol Coca Cola akan memiliki makna yang berbeda jika terisi bensin dan secarik kain. Reruntuhan altar ini dapat menjadi sebuah 'mosh pit' bagi segala sesuatu yang tak pernah dicap valid dalam kamus definisi jika manusia dapat menjadi 'Master of Ceremony' bagi dirinya sendiri. Track yang kami buat pada suatu sore ketika seharian memutar KRS-One, Quasimoto, Morbid Angel dan Carcass, pada hari yang sama ketika kami membaca sebuah artikel di sebuah harian tentang adanya rencana pemerintah membuat undang-undang yang akan mempidanakan seseorang yang tidak ikut pemilu dan mempengaruhi orang lain untuk ikut tidak mencoblos pada hari 'kiamat' itu. Hell yeah, seems like next year is madd interesting. Got ideas, anyone?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;PURITAN (GODBLESSED FASCISTS)&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;adalah bagaimana manusia menyebut nama tuhannya : “tebas lehernya dahulu baru beri dia kesempatan untuk bertanya” pastikan setiap tema legitimasi agama seperti hak cipta supaya dapat kucuci seluruh kesucianmu dengan sperma persetan dengan Surga® sejak parameter pahala diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa kini leherku-lah yang membuat golokmu tertawa target operasi di antara segudang fasis seperti FBR di Karbala karena aku adalah libido amarahmu yang terangsang dalam genangan darah selangkangan Shanty jika kau menyebut parang bagian dari dakwah melahap dunia menjadi pertandingan sepakbola penuh suporter yang siap membunuh jika papan skor tak sesuai selera para manusia-unggul warisan Pekan Orientasi Mahasiswa paranoia statistika agama, wacana-phobia ala F.A.K B-A-K-I-N tak pernah bubar, mewujud dalam nafas kultural persis wakil parlemen yang kau coblos dan kau tuntut bubar partai bisa ular, belukar liberal Gengis Khan mana yang coba definisikan moral persetankan argumentasi membakar bara masalah dengan kunci pembuka monopoli anti-argumen komprehensi satu bahasa instruksi air raksa mereduksi puisi hingga level yang paling fatal kehilangan amunisi, sakral adalah ambisi wadal modernisasi, program labelisasi Abu Jahal distopia yang tak pernah sabar untuk menuai badai aku bersumpah untuk setiap jengkal markas yang kalian anggap layak bongkar dan setiap buku yang nampak lebih berguna jika terbakar jika setiap hal harus bergerak dalam alurmu yang sakral sampai api terakhir pun, neraka bertukar tempat dengan aspal batalyon pembenci Gommorah sucikan dunia dengan darah menipiskan batas antara kotbah dengan gundukan sampah jika membaca Albert Camus menjadi alasan badan-leher terpisah lawan api dengan api dan biarkan semua rata dengan tanah lubang tai sejarah, memang dunia adalah kakus raksasa nikahi bongkah kranium kerdil berpinak ludah jika idealisme-mu tawaran untuk mengundang surga mampir berikan bendera dan seragammu, kan kubakar sampai arang terakhir sratus kali lebih dangkal dari kolom Atang Ruswita seribu kali lebih busuk dari tajuk majalah Garda untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir diperapian tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi  jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap yo, fasis yang baik adalah fasis yang mati fasis yang baik adalah fasis yang mati fasis yang baik adalah fasis yang mati tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini ditulis pada pertengahan tahun 2001 lalu. Ketika terjadi fenomena pemberangusan gerakan 'pro-dem' (whatever the fuck that means), dan sweeping plus pembakaran buku-buku yang dicap 'kiri' oleh beberapa golongan yang berlindung dibalik topeng moral agama dan nasionalisme. Tak hanya sekedar itu, dengan dukungan propaganda massif lewat media massa (para elit mereka notabene merupakan pemilik beragam media massa lokal), mereka juga melakukan penganiayaan, pemukulan, penculikan bahkan penyerangan dan pembongkaran markas-markas aktivisme di beberapa kota. Pada awalnya hanya sebagian kecil saja yang memberanikan diri menentang mereka secara terang-terangan namun pada akhirnya gelombang fasis baru ini direspon dengan perlawanan di basis akar rumput pada hampir setiap kota. Beberapa kawan menyarankan untuk tidak merilis lagu ini karena alasan klise; masyarakat kita adalah masyarakat religius, namun kami berargumen bahwa fasisme tak ada hubungannya dengan religius atau tidaknya sebuah masyarakat. Kultur religius tak harus dibarengi dengan tabiat Mussolini dan Stalin, dan kami pikir setiap orang pun dapat membedakan antara agama dan fasisme, terutama mereka yang selalu membuka ruang bagi perdebatan dan argumentasi. Kecuali memang jika kita dikelilingi oleh para fasis atau dalam kata lain masyarakat kita hari ini adalah wujud lain dari gabungan pasukan Ariel Sharon dan Neo-Nazi. Itu sudah beda masalah. Lagu ini kami dedikasikan pada mereka yang pada hari-hari tersebut berada digaris depan, mulai dari Medan, Lampung, Jakarta, Bandung, Jogja hingga Surabaya. Keep ya head up, brothers. Stay Strong.&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;SEMIOTIKA RAJATEGA&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;MC hari ini lebih banyak memakai topeng dari Zapatista hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika bicara tentang skill dan kompetisi, mengobral sompral jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar MC butuh federasi dan breakbeats berdasi untuk sekantung wacana basi dan eksistensi MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi Saigon amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon sarat kritik, kosong esensi seperti kotbah kyai Golkar bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar gelora manuver rima Kahar Muzakar tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis krisis identitas, menyebut teman nongkrongnya 'niggaz' sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas berusaha setengah mati menjadi negasi berlindung dibelakang pembenaran interpretasi, basa-basi mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi melemparkan invitasi MC pada setiap rima dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga MC adalah negara yang membuat  kontradiksi tak pernah final tanpa menifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal dan masih jauh dibawah horizon minimal memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional hadirkan konfrontasi maka MC lari mencari pengacara dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media yang membuat kau dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;///representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan tapi pasti kalian dapatkan jika kalian menginginkan konflik atas nama kebanggaan bidani bacot murahan tentang imortalitas hiphop seperti liang dubur pahlawan kesiangan yang membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur karena aku adalah seorang kapiten neraka mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah kalian ancam kami dengan lulabi akidah paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas label adalah reduksi, komoditas residu industri kultural hegemoni, membidani oponen dalam posisi Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer Mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur memenej kalbu tanpa retorika Aa Gymnastiar menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[] MC Yang sama petantang-petenteng sekarang membawa aikon biz lebih banyak daripada anggota Slank Kalian para martir hiphop, patriot tai kucing Yang membela lubang pantat logika dengan darah Siapkan microphone kalian dan siapkan untuk menutup lubang tai sejarah dan bagi kalian yang menginterpretasikan lagu ini untuk kalian.. Lebok tah Anjing! []&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-188597439831563086?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/188597439831563086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=188597439831563086' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/188597439831563086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/188597439831563086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/prosa-tanpa-tuhan_01.html' title='PROSA TANPA TUHAN'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-4587363862893991146</id><published>2007-10-02T00:11:00.000+07:00</published><updated>2007-10-02T00:12:23.801+07:00</updated><title type='text'>PROS</title><content type='html'>- Homicde (split with Balcony)&lt;br /&gt;BOOMBOX MONGER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov mencari poros molotov yang tak lebih busuk dari kritik kapitalisme George Soros senyawa dari nyawa kreator dan sendawa para insureksionis berkosmos ruang diluar buruh dan boss, dan kertas Pemilu yang kau coblos dimana komrad ku mengganti logos dan kamus dengan batu Sisifus memutus selang infus negara dan institusi sampai mampus pada lahan bertendensi kooptasi Sony dan empty-V dan para radio penyedot phallus fasis bertitah 'harus',&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;PROSA TANPA TUHAN&lt;br /&gt; mengayunkan pedang pada sayap setiap Ikarus dengan hirarki dalam modus operandi layak Kopassus microphone bagi kami adalah pemisah kalam dengan pembebasan yang mengkhianati milisi tanpa seragam koloni, hiphop philantrophy seperti Upski resureksi boombox yang sama pada Madison Park awal delapan puluhan membawa ribuan playlist dari Chiapas, Kosovo dan Jalur Gaza Seattle dan Praha, Checnya, Genoa, Yerusalem, Dili dan Tripoli untuk api militansi aktivisme yang meredup pasca molotov terakhir terlempar di Semanggi obituari dari lini terdepan milisi pada garis batas demarkasi jelaga resistansi lulabi penghitam langit tanpa teritori logika tanpa kuasa perwakilan yang layak dikremasi ketika senjata bermediasi, ketika ekonomi dan valas berubah sosok menjadi tirani jelajahi setiap kemungkinan dengan kain kafan modernisasi prosa beraliansi dengan dekonstruksi surga-neraka rakitan, militansi tanpa puritan Verbal Homicide, Rock-Steady Bakunin, MC Klandestin pada peta sirkuit boombox para B-boy kami adalah Fretilin dalam kacamata Bakin /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makhnovist yang melukis realisme sosialis diatas kanvas Dada Post-Mortem Hip-Hop takkan pernah berkaca bersama Fukuyama dialektika kami tanpa radio dan visualisasi anti-HBO tanpa agenda politik partai yang membuat Mussolini membantai D'Annunzio juga korporasi multinasional yang menjadikanmu lubang senggama kooptasi kultur tandingan yang berunding dalam gedung parlemen Partai Komunis Cina yang mereproduksi Walter Benjamin ke tangan setiap seniman Keynesian yang mensponsori festival insureksi dengan molotov cap Proletarian® instruksi harian dalam mekanisme kontrol pergulatan menuju amnesia lupakan Colombus, karena Bush dan Nike® telah menemukan Amerika® inkuisisi mikrofonik dalam kuasa estetika yang merevolusikan pola konsumsi menjadi intelektualisme organik seperti Gramsci ekonomi membuat kami mendefinisikan otonomi pada mesin foto kopi rima anti-otoritarian memandikan bangkai Hiphop® yang tak pernah kau otopsi  membaca peta kekuasaan seperti KRS-ONE dan MC Shan sambil meludahi modernitas seperti Foucault diatas neraka Panopticon ketika Moralitas® telah berubah menjadi candu seperti Marxisme® dan Agama® maka MC mengambil mikrofon dan melahirkan tragedi dari puncak Valhalla karena Ardan® dan kalian hanya akan melahirkan kombinasi busuk seperti Iwan dan Djody, dikotomi antara Farakhan, Amrozy, dan Nazi bongkar paksa setiap parodi labirin eforia sensasional Harry Roesli B-boy semiotika artifak simultan antara ekstasi dan revolusi setiap properti privat adalah galeri dan merubah eksistensi menjadi pertahanan paling ofensif para Darwinis yang menolak menjadi partisan /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat saat awal 80-an, entah tahun berapa tepatnya, didekat sebuah SD Inpres dekat rumah terdapat sebuah lapangan volley dimana setiap sore diadakan acara breakdance yang selalu saya tonton sebelum saya pulang sekolah. Saya tak pernah bisa breakdance dan memilih untuk duduk dipojok dekat sebuah tape besar yang memasok ritme bagi mereka yang berpartisipasi di atas lembaran kertas kardus. Saya selalu ingin memiliki tape jenis itu, yang tak pernah saya dapatkan hingga setahun kemudian, justru saat demam breakdance sudah mulai habis, ketika ayah saya pulang dari pasar loak di Cihapit membelikan sebuah boombox sebesar jendela dan sebuah soundtrack film Tari Kejang sebagai hadiah ulang tahun. Saya sangat bangga dengan boombox itu terlebih ketika melihat boombox yang hampir mirip dipakai LL.Cool.J untuk sampul album pertamanya, 'Radio,  hingga hampir setiap hari saya bawa kemanapun saya bermain, meski tanpa baterai sekalipun. Dan memang demam breakdance melenyap, karena 'era'-nya sudah lewat dan 'Jack The Ripper', 'King of Rock' dan 'Rebel Without A Pause'  pun tidak cocok untuk breakdance dan boombox itu berubah fungsi menjadi sebuah tanda tak langsung untuk mengatakan bahwa lagu yang diputar teman tetangga saya sucks. Wham sucks, Lionel Richie sucks. Memasang musik hingga indikator volume memerah. Dua dasawarsa telah lewat, boombox itu telah rusak dihajar umur. Namun kami besar bersama hiphop yang sama yang pernah diputar di tape itu. Hiphop yang notabene sebuah kultur asing yang kami tak memiliki tradisinya, bukan wayang golek dan bukan kecapi suling. Hiphop yang sama yang mengenalkan kami dengan sebuah semangat menghajar kebosanan dan cara-cara verbal dan fisik menampar status quo dan sekaligus sebuah rasa cinta pada kehidupan. Hiphop yang bukan 'bling-bling' yang kami dengar di radio akhir-akhir ini dan yang berotasi di MTV Non Stop Hits. Ini semua membuat kami berandai-andai membayangkan jika seorang B-boy menenteng boombox, lagu apa yang akan mereka putar supaya dapat mewakili mereka merepresentasikan identitas mereka, album apa yang layak diputar sebagai soundtrack keseharian mereka sehingga dapat berbagi semangat dan perasaan pada setiap kawan yang mereka jumpai sekaligus seolah menampar setiap tikus-tikus konservatif yang mencoba menyuruh mereka mematikan boombox tersebut. Kemudian bayangkan kata 'B-boy' digantikan dengan 'setiap orang', jika memang benar konon 'setiap orang' memiliki hasrat. Hasrat yang sama yang kami rasakan hari ini ketika kami menginginkan sesuatu. Sesuatu yang bukan bagian dari sebuah dunia lama yang usang, status quo yang menghalangi kami mendapatkan hasrat. Hasrat untuk lepas dari tirani ekonomi, hasrat untuk lepas dari kontrol, lepas dari imbas kebijakan para segelintir elit dan opresi otoritas, lepas dari kewajiban sok moralis, dari ketakutan terhadap bom yang setiap saat dapat meledak didepan teman dan keluarga kami, lepas dari usaha-usaha penyeragaman dunia, dari kontrol dan imbas manusia-manusia yang berlomba berkompetisi untuk mengejar hasrat-hasrat mereka, dari hegemoni negara dan korporasi, lepas dari kooptasi para mencret-mencret dasamuka bisnis untuk kemudian membayangkan setiap orang bekerjasama, berko-operasi untuk setiap kebutuhan dan hasrat mereka. Sebut itu utopia. Namun yang pasti hasrat itu kali ini harus kami capai bukan dengan sekedar duduk dan menunggu karena saya yakin ia tak akan pernah datang dalam bentuk kado ulang tahun. Now I got the brand new box and i'm about to pass it. Make sure everything remains raw then gimme ya playlist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia ini adalah sebuah altar, secara nyata atau secara metafor, dan kita berada diatas sebuah reruntuhan yang masih tetap mencoba membangun dirinya kembali dengan tumbal-tumbal sejarahnya. Reruntuhan semua ide-ide totalitarian yang sekarang bergerak sibuk ber-resureksi atas nama tata dunia baru, demokrasi, moral, massa, rakyat, agama, surga, perkembangan ekonomi, bunga bank dan pesona deodoran. Sebagian mendomplengi globalisasi dan sebagian bergerak diatas tribalisasi. Perang lama dengan elit baru yang selalu membutuhkan serdadu, pahlawan, reproduksi mesin-mesin perang mereka dan tentu saja, tumbal. History 'is history'!! Representasi dan identitas menjadi sebuah persembahan dalam ritual mutlak bagi altar manusia modern. Kualitas tak dituju melalui kuantitas, tetapi kuantitas merefleksikan kualitas itu sendiri.Tak heran mengapa imej begitu memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Resureksi atau lebih tepatnya lagi revival dari ide-ide totalitarian tak lebih dari perwujudan romantisme seperti halnya sosok seorang Megawati yang dirindukan oleh para pengikut Soekarno. Sebuah 'cover song' yang telah begitu menjijikan untuk dapat menjadi sebuah 'hit' kembali!! Who needs ideology if the ideas are in everyone's mind? Terlalu lama manusia menjadi objek dari ide-ide tanpa pernah memperlakukan dirinya sebagai subjek dari ide itu sendiri. Terlalu sentimentil dalam memilih produk yang mampu merepresentasikan dirinya tanpa pernah menggali potensi kekuatan dibalik redefenisi atau bahkan dekonstruksi, terlalu lama menjadi bagian dari sebuah entitas yang bernama 'massa' tanpa menyadari eksistensi dirinya sebagai seorang individu. Jika 'in-versi' hanya akan melahirkan kooptasi lainnya seperti halnya Punk-Rock® dan upaya-upaya in-versi lainnya, maka versi membutuhkan sebuah sub-versi. Karena takkan pernah cukup untuk hanya membalikkan sesuatu tanpa pernah menyentuh maknanya. Sesuatu yang terbalik tidak selamanya memiliki kapasitas negatif. Tetapi, seperti ucapan Ani DiFranco bahwa, 'every tool is a weapon if you hold it right'. Sebotol Coca Cola akan memiliki makna yang berbeda jika terisi bensin dan secarik kain. Reruntuhan altar ini dapat menjadi sebuah 'mosh pit' bagi segala sesuatu yang tak pernah dicap valid dalam kamus definisi jika manusia dapat menjadi 'Master of Ceremony' bagi dirinya sendiri. Track yang kami buat pada suatu sore ketika seharian memutar KRS-One, Quasimoto, Morbid Angel dan Carcass, pada hari yang sama ketika kami membaca sebuah artikel di sebuah harian tentang adanya rencana pemerintah membuat undang-undang yang akan mempidanakan seseorang yang tidak ikut pemilu dan mempengaruhi orang lain untuk ikut tidak mencoblos pada hari 'kiamat' itu. Hell yeah, seems like next year is madd interesting. Got ideas, anyone?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;PURITAN (GODBLESSED FASCISTS)&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;adalah bagaimana manusia menyebut nama tuhannya : “tebas lehernya dahulu baru beri dia kesempatan untuk bertanya” pastikan setiap tema legitimasi agama seperti hak cipta supaya dapat kucuci seluruh kesucianmu dengan sperma persetan dengan Surga® sejak parameter pahala diukur dengan seberapa banyak kepala yang kau pisahkan dengan nyawa kini leherku-lah yang membuat golokmu tertawa target operasi di antara segudang fasis seperti FBR di Karbala karena aku adalah libido amarahmu yang terangsang dalam genangan darah selangkangan Shanty jika kau menyebut parang bagian dari dakwah melahap dunia menjadi pertandingan sepakbola penuh suporter yang siap membunuh jika papan skor tak sesuai selera para manusia-unggul warisan Pekan Orientasi Mahasiswa paranoia statistika agama, wacana-phobia ala F.A.K B-A-K-I-N tak pernah bubar, mewujud dalam nafas kultural persis wakil parlemen yang kau coblos dan kau tuntut bubar partai bisa ular, belukar liberal Gengis Khan mana yang coba definisikan moral persetankan argumentasi membakar bara masalah dengan kunci pembuka monopoli anti-argumen komprehensi satu bahasa instruksi air raksa mereduksi puisi hingga level yang paling fatal kehilangan amunisi, sakral adalah ambisi wadal modernisasi, program labelisasi Abu Jahal distopia yang tak pernah sabar untuk menuai badai aku bersumpah untuk setiap jengkal markas yang kalian anggap layak bongkar dan setiap buku yang nampak lebih berguna jika terbakar jika setiap hal harus bergerak dalam alurmu yang sakral sampai api terakhir pun, neraka bertukar tempat dengan aspal batalyon pembenci Gommorah sucikan dunia dengan darah menipiskan batas antara kotbah dengan gundukan sampah jika membaca Albert Camus menjadi alasan badan-leher terpisah lawan api dengan api dan biarkan semua rata dengan tanah lubang tai sejarah, memang dunia adalah kakus raksasa nikahi bongkah kranium kerdil berpinak ludah jika idealisme-mu tawaran untuk mengundang surga mampir berikan bendera dan seragammu, kan kubakar sampai arang terakhir sratus kali lebih dangkal dari kolom Atang Ruswita seribu kali lebih busuk dari tajuk majalah Garda untuk semua idiot yang berfikir semua ide dapat berakhir diperapian tak ada dunia yang begitu mudah untuk kalian hitamputihkan mendukung keagungan layak Heidegger mendukung Nazi propaganda basi, wahyu surgawi dengan bau tengik terasi  jika suci adalah wajib dan perbedaan harus melenyap maka jawaban atas wahyu parang dan balok adalah bensin, kain dan botol kecap yo, fasis yang baik adalah fasis yang mati fasis yang baik adalah fasis yang mati fasis yang baik adalah fasis yang mati tunggu di ujung jalan yang sama saat kalian mengancam kami /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini ditulis pada pertengahan tahun 2001 lalu. Ketika terjadi fenomena pemberangusan gerakan 'pro-dem' (whatever the fuck that means), dan sweeping plus pembakaran buku-buku yang dicap 'kiri' oleh beberapa golongan yang berlindung dibalik topeng moral agama dan nasionalisme. Tak hanya sekedar itu, dengan dukungan propaganda massif lewat media massa (para elit mereka notabene merupakan pemilik beragam media massa lokal), mereka juga melakukan penganiayaan, pemukulan, penculikan bahkan penyerangan dan pembongkaran markas-markas aktivisme di beberapa kota. Pada awalnya hanya sebagian kecil saja yang memberanikan diri menentang mereka secara terang-terangan namun pada akhirnya gelombang fasis baru ini direspon dengan perlawanan di basis akar rumput pada hampir setiap kota. Beberapa kawan menyarankan untuk tidak merilis lagu ini karena alasan klise; masyarakat kita adalah masyarakat religius, namun kami berargumen bahwa fasisme tak ada hubungannya dengan religius atau tidaknya sebuah masyarakat. Kultur religius tak harus dibarengi dengan tabiat Mussolini dan Stalin, dan kami pikir setiap orang pun dapat membedakan antara agama dan fasisme, terutama mereka yang selalu membuka ruang bagi perdebatan dan argumentasi. Kecuali memang jika kita dikelilingi oleh para fasis atau dalam kata lain masyarakat kita hari ini adalah wujud lain dari gabungan pasukan Ariel Sharon dan Neo-Nazi. Itu sudah beda masalah. Lagu ini kami dedikasikan pada mereka yang pada hari-hari tersebut berada digaris depan, mulai dari Medan, Lampung, Jakarta, Bandung, Jogja hingga Surabaya. Keep ya head up, brothers. Stay Strong.&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;SEMIOTIKA RAJATEGA&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;MC hari ini lebih banyak memakai topeng dari Zapatista hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika bicara tentang skill dan kompetisi, mengobral sompral jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar MC butuh federasi dan breakbeats berdasi untuk sekantung wacana basi dan eksistensi MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi Saigon amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon sarat kritik, kosong esensi seperti kotbah kyai Golkar bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar gelora manuver rima Kahar Muzakar tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis krisis identitas, menyebut teman nongkrongnya 'niggaz' sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas berusaha setengah mati menjadi negasi berlindung dibelakang pembenaran interpretasi, basa-basi mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi melemparkan invitasi MC pada setiap rima dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga MC adalah negara yang membuat  kontradiksi tak pernah final tanpa menifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal dan masih jauh dibawah horizon minimal memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional hadirkan konfrontasi maka MC lari mencari pengacara dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media yang membuat kau dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;///representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan tapi pasti kalian dapatkan jika kalian menginginkan konflik atas nama kebanggaan bidani bacot murahan tentang imortalitas hiphop seperti liang dubur pahlawan kesiangan yang membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur karena aku adalah seorang kapiten neraka mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah kalian ancam kami dengan lulabi akidah paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas label adalah reduksi, komoditas residu industri kultural hegemoni, membidani oponen dalam posisi Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer Mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur memenej kalbu tanpa retorika Aa Gymnastiar menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[] MC Yang sama petantang-petenteng sekarang membawa aikon biz lebih banyak daripada anggota Slank Kalian para martir hiphop, patriot tai kucing Yang membela lubang pantat logika dengan darah Siapkan microphone kalian dan siapkan untuk menutup lubang tai sejarah dan bagi kalian yang menginterpretasikan lagu ini untuk kalian.. Lebok tah Anjing! []&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-4587363862893991146?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/4587363862893991146/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=4587363862893991146' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4587363862893991146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4587363862893991146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/pros.html' title='PROS'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-3436651895220005</id><published>2007-10-01T23:34:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T23:36:18.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Anjing</title><content type='html'>“jing, kenapa SIA pada bonyok?”&lt;br /&gt;“bantuin gue dong. Si Gong kakak kelas kita mukulin gue.”&lt;br /&gt;“anjing!. Si Gong?, sendirian?”&lt;br /&gt;“enak aza!. Gue dikeroyok sama mereka!”&lt;br /&gt;“temen-temen sekarang juga kita kudu bales itu si Gong!”&lt;br /&gt;“setuju……..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jing bersama temen-temen sekolahnya kemudian mencari SI Gong, setelah terlebih dahulu mempersiapkan batu, pisau, pentungan dan senjata untuk melakukan PEMBALASAN. Genap lima buah motor beringan menuju markas Si Gong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“gong!. Keluar!”&lt;br /&gt;“ada apa lo?, teriak-teriak!”&lt;br /&gt;“SIA nungarana Gong anjing?”&lt;br /&gt;“eh goblog!. Hayang dipaehan kuaing!”&lt;br /&gt;“NAON SIA ANJING!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jing dan temantemannya langsung memukuli orang tersebut. Perkelahianpun dimulai!. Tidak lama menjelang dari dalam warung keluar Gong dan teman-temannya dengan MEMBAWA SENJATA masing-masing!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“jebrod!”&lt;br /&gt;“trang..trang. trang!.”&lt;br /&gt;“modar sia anjing!”&lt;br /&gt;“jelebot!”&lt;br /&gt;“wadaaaaw”&lt;br /&gt;“ANJING!”&lt;br /&gt;“jebret”&lt;br /&gt;“blesss”&lt;br /&gt;“aaa…..!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gong jatuh tersungkur, dengan perut mengeluarkan darah panas, wajahnya babak belur dan beberapa biji giginya terlihat copot. Melihat Gong tersungkur Jing dan kawan-kawan segera melarikan diri, menancap motornya masing-masing. Teman-teman Gong tidak melakukan pengejaran tapi memburu Gong yang terluka. Setelah itu mereka semua pun lari TERBIRIT meninggalkan Gong sendirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tau rasa tu si Gong!”&lt;br /&gt;“jing! Elo udah puas blum?”&lt;br /&gt;“cukup!, tapi kalo si Gong masih kurang ajar. Kita mesti ngasih dia pelajaran lagi!”&lt;br /&gt;“bunuh aza, Jing!”&lt;br /&gt;“bunuh?”&lt;br /&gt;“lo takut Jing!?”&lt;br /&gt;“aing kan anak jendral, sorry aza harus takut sama si Gong!”&lt;br /&gt;“bener Jing, bunuh aja sekalian!, biar kapok!”&lt;br /&gt;“gampang gue yang urus”&lt;br /&gt;“Jing, lo dipanggil Kepala sekolah sekarang!”&lt;br /&gt;“ngapain tuh si bangsat manggil-manggil gue?!”&lt;br /&gt;“pengen lo hajar kali!”&lt;br /&gt;“tungguin disini bro. Gue mo ngasih bogem buat tu kepsexs!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;beberapa hari setelah kejadian tersebut, Jing dipanggil oleh kepala sekolah atyas peristiwa penusukan tersebut, kepala sekolah itu menapatkan informasi dari teman-teman Gong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ada apa pak?. NYEBELIN BANGET SICH LO!”&lt;br /&gt;“Jing!, kamu diadukan oleh kakak kelasmu kepada pihak berwajib.”&lt;br /&gt;“polisi?”&lt;br /&gt;“ya… polisi”&lt;br /&gt;“trus napa?”&lt;br /&gt;“Jing!…”&lt;br /&gt;“udah dech, gue gak takut sama polis-polisan. Gue kan anak jendral.”&lt;br /&gt;“tapi Jing,..”&lt;br /&gt;“gue bilang udah ya udah!. Diem aja lo!. Atow lo mau gue pecat jadi kepala sekolah?”&lt;br /&gt;“baiklah Jing!”&lt;br /&gt;“apa…baiklah?”&lt;br /&gt;“lalu???”&lt;br /&gt;“lo harus ngelindungin gue dan temen-temen gue atau lo BAKAL TAU RASA!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jing malah mengancam kepala sekolah dan berlenggang dari ruang kepala sekolah dengan sebatang rokok ditangannya. Setelah keluar dari ruang itu, Jing menuju CS-nya kemudian berteriak:”FREEDOM!…ANJING!…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FREEDOMFORNOL&lt;br /&gt;Digawean ku: BADRANAYA&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-3436651895220005?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/3436651895220005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=3436651895220005' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3436651895220005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3436651895220005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/anjing.html' title='Anjing'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-3550611022760146862</id><published>2007-10-01T23:30:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T23:32:47.479+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>JEJAK-JEJAK KHIANAT</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Arinie Harfadinie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam untaian sepi dan bimbang yang kian menjadi-jadi, telah kutemukan kedunguanmu. Kusambut seramah rumah tunggu. Lebar-lebar kubukakan untuknya arti kehadiran. Aku sebijak nafsuku. Tak peduli pada rindu! Aku sebijak nafsuku. Persetan dengan manjamu! Maaf, dunia kalian begitu kejam wahai lelaki! Tak banyak perempuan mempertanyakan kalian. Itu mungkin karena kelelakian memang kedok ketakutan. Lelaki bersembunyi dan menyembunyikan lembutnya pada seonggak kulit kasar dan embel-embel herois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku tak tahu kenapa aku harus meninggalkanmu. Tapi aku juga tak punya alasan untuk tetap mempertahankan apa yang sudah terbina. Aku bukan perempuan sabar dan aku takkkan bisa menerima tawaranmu untuk kembali belajar sabar pada guru tersabar. Sudahlah, mari berdamai dengan kenyataan dan jangan salahkan keadaan! Sudahlah, lupakan rencana-rencana cinta kita yang kau susupkan ke dalam puisi-puisimu! Aku tak tega menyiksamu terlalu lama. Jangan kejar aku atau berharap aku datang lagi! Buka matamu, kenanglah burukku! Kencangkan telingamu, ingat selalu sisi muakku! Aku bukan aku yang kau kenal dulu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang butuh teman. Tapi bukan teman yang bisanya makan teman. Aku korban keganasan filsafat yang bejat. Saksi atas kebrutalan tanya yang tak terkendali. Sering makan hati dan mulai benci diri sendiri. Pernah aku berniat bunuh diri. Tapi tuhan punya cara yang selalu tak terduga dan aku dibiarkannya untuk menggagalkan niatku. Untung tak ada yang tahu, jadi tak perlu malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling menarik dariku sebagai seorang perempuan adalah  wajahku. Selanjutnya postur tubuh yang dulu katamu selalu bikin tegang urat rindu dan senyum yang diciptakan dua bibir rekahku yang tak pernah berkenalan dengan produk-produk pemalsu keindahan. Tapi aku tahu kalau cinta atas dasar ukuran dada dan atas lihai pinggul saja, bukanlah cinta! Beruntung aku pernah punya kekasih yang selalu menomersekiankan tampilan fisik yang kelak jadi makanan ulat-ulat kubur. Tapi aku kurang beruntung mendapatkan kekasih yang bisanya cuma bikin puisi. Bukan karena tak menghargai hobinya meramu desah, tapi orang-orang yang sudah melampaui batas, sebaiknya belajar menghargai orang-orang yang belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu aku perempuan paling bahagia. Paling merasa diwanitakan dan paling punya cara untuk mensyukuri anugerah cinta. Laki-laki itu sebenarnya sama sekali ngga’ sama dengan konsep-konsepku tentang laki-laki dalam benakkku. Ngga’ atletis. Ngga’ romantis. Ngga’ berkepribadian. Miskin. Jelek. Seram dan ngga’ seIman. Tapi kemampuannya dalam menipuku, sempat membuatku terkapar. Berkali-kali aku kuwalahan menghadapi rayuan maut dan nakal bibirnya. Berkali-kali juga aku tak bisa menolaknya. Laki-laki itu telah memperkosa jilbabku. Kemana aku mesti melapor dan minta perlindungan hukum? Bukankah di mata hukum, cinta tak pernah dimaktubkan dalam pasal-pasal kekeliruan? Bukankah laki-laki itu cuma bertindak kurang ajar dengan jilbabku saja dan akupun ikut menikmatinya? Bukankah kalau itu memang dosa, itulah dosa termanis? Bukankah kalau itu memang salah, Tere juga bilang kalau itu adalah salah terindah? Dalam situasi seperti ini, tampaknya hanya diri sendiri sajalah yang bisa dijadikan sandaran dan meja pengaduan sesalku. Aku siap mempertanggunngjawabkan kemarin, hari ini dan esokku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah! Aku tak punya pilihan selain menghindar dari belenggu cintanya. Itu bukan karena aku sudah tak cinta. Melainkan karena aku memang seorang pengkhinat yang sejak lahir hobby menyakiti laki-laki. Ya, kuakui itu! Kalian tahu apa dan dimana nikmatnya menyakiti hati laki-laki, wahai perempuan? Sini mendekat dan akan kubisikkan sesuatu yang baru kucuri dari altar cinta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta itu barang murah. Bisa diobral semau kalian kok. Jangan berdramatisir! Jangan berpikir yang tidak-tidak dan sok suci lagi mensucikannya! Cinta itu bukan bagian terpenting yang mesti dipentingkan sedemikian penting. Bukan judul besar ketertundukan manusia pada rahasia-rahasia yang tak pernah bisa dipahaminya. Perempuan, kalian jangan bodoh! Buat apa bermain dengan nyala yang dijamin mampu membakar kelembutan dan garis takdir sendiri? Buat apa menyimpan mimpi tentang putri yang diselamatkan pahlawan bertopeng ganteng. Jangan pusingkan sangka dan menghabiskan tenaga hanya untuk membedakan topeng dan raut muka musuh di balik topeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, sudah ngga’ zamannya aku dan kalian mempertanyakan arti bahagia dan kelumit ngalah untuk menang. Kalau kalian tak nyaman dalam peluknya, lari saja! Cari ganti dan jangan bicara tentang etika lagi! Ingat, jumlah kalian sudah semakin banyak. Itu artinya, saingan dan persaingan makin memperjelas kenyataan! Tunda dulu kesetiaan! Raup keuntungan dan kumpulkan keuntungan dari laki-laki yang ingin kalian jadikan santapan makan malam. Masalahnya, kalau tak menyantap, maka kalian pasti akan disantap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, laki-laki mau mabuk atau tidak mabuk dua-duanya pecundang! Buktinya, dunia yang sedang kita tempati ini adalah dunia mereka! Adalah klise yang menyakitkan jika aku kembali bilang bahwa sejak semula perempuan itu memang masyarakat terpinggir yang hadirnya hanya untuk menyempurnakan kelelakian saja! Kita cuma diminta bikin anak dan dipandang sebagai mesin pencetak dan pemuas! Lalu, apa arti kebermaknaan kalau begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mesti jahat. Kita mesti jadi pengkhianat. Kita mesti tanggalkan senyum untuk mendapatkan hak kita lagi. Jangan menunggu hujan turun saat orang punya payung dan bisa berteduh di bawah atap gedung. Omong kosong kalau perempuan mesti diam dan bersahaja dalam kelembutan! Omong kosong kalau kita serahkan keperawanan kita hanya untuk membuktikan dan mengiyakan pesan-pesan cinta! Maaf, Kontak kelamin adalah murni urusan libido dan kemasuk doa biologis! Karena itulah aku berpesan ; Jangan sok suci! Sebab yang sok, biasanya memang tak suci! Nikmati saja! Bahkan bukankah penderitaan takkan menghasilkan apa-apa selain desah dan keinginan kita untuk minta tambah dan dikerjai lagi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, kalian jangan lemah dan melemahkan diri lagi! Berkhianatlah! Jadilah pengkhianat yang paling bejat dan hadiahi laki-laki itu sekuntum laknat! Terbanglah dari satu pelukan ke pelukan lain! Eh maaf, maksudku dari satu dompet ke dompet lain. Atau kalau mereka tak punya dompet, hapalkan saja nomor rekening atau nomor PIN Atm mereka! Telanjangi isi kantong mereka sebelum mereka sadar akan perbuatan mereka saat dan setelah kita ditelanjangi! Manjakan diri kalian di atas kejayaan dan lipatan rupiah mereka. Perbudak mereka dan suruh mereka menjadi pelayan yang baik dan selalu stand by kapanpun kalian butuh tenaga mereka. Minimalnya, jadikan mereka supir antar jeput. Ya, ini memang analog yang mesti kalian panjangkan tafsir dan ta’wilnya. Kalian tak boleh picik dan licik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ach… aku cuma mau bilang kalau aku baru saja menawarkan sisi lain di balik hingar bingar jerit waktu. Sebagai perempuan, aku berhasil dan wajar menepuk dada saat menyakiti laki-lakiku. Yang paling bisa kubanggakan, aku sakiti mereka dengan senjata mereka sendiri. Caranya gampang kok, adu domba dan bikin mereka cemburu atau setidaknya menyesal pernah mengenal kita. Pakai laki-laki lain untuk mengusir mereka dari kehidupan cinta yang terekayasa dalam langkah cengeng mereka!&lt;br /&gt;Halalkan segala cara untuk memperjuangkan apa yang mesti diperjuangkan!&lt;br /&gt;Perempuan, bergabunglah bersamaku dan mari merapatkan barisan dan berjuang untuk selamanya tidak pasrah mendapat shaf di belakang! Acuhkan dosa dan sakit hati mereka! Sebab kalau tak begini, kita yang akan terus tersiksa! Sudah lama dan aku bukan orang pertama yang mengajak kalian untuk belajar berontak dan mencoba bangun dari rela panjang kita. Atas nama dendam dan sakit hati, silahkan menjual apa yang bisa kita jual. Gadaikan apa yang memang layak digadaikan! Sekali lagi, bergabunglah dan jangan pernah berjuang sendiri-sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan, sudahi tetek bengek kebingungan dan ketidakmengertian kalian! Hidup dan dunia lebih dari sekedar untuk dimengerti. Dunia kita, ya, dunia kita bukan dunia yang mesti mengabaikan bingung dan bukan juga dunia yang mengedepankan pengertian. Dan akupun hampir tak mengerti sedang apa aku hari ini dengan tulisan seperti ini. Tapi aku sadar bahwa aku yang menulisnya dan pengalamanku yang memaksaku untuk tetap menulisnya. Kita terlalu muda untuk terus bercanda. Tapi kita juga terkadang mesti melampaui usia kita sendiri. Doaku akan selalu menyertai kalian, wahai perempuan-perempuan yang bingung karena tak pernah kebingungan! Sayup dan samar sebilah jaga di ruas tanya membahana ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idza waqoatil Waqiah&lt;br /&gt;Laisa liwak’atiha Kadzibah&lt;br /&gt;Khafidhatu-r-Rafi’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Timoer Bandung,&lt;br /&gt;      September 05&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-3550611022760146862?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/3550611022760146862/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=3550611022760146862' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3550611022760146862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/3550611022760146862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/jejak-jejak-khianat.html' title='JEJAK-JEJAK KHIANAT'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-8881116415314005885</id><published>2007-10-01T23:17:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T23:18:50.299+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Retak</title><content type='html'>Gumaman Retak,&lt;br /&gt;Ratapan luka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicaralah ! Terkadang kita lupa bahwa di sekitar kita ada nafas yang mengerang gelisah. Dan aku merasakan basahnya air mata yang menetes sepanjang peristiwa. Entah dengan kalian. Masihkah mulut-mulut mengunyah makna kerinduan, kemuakan, kejijikan, bahkan cinta? Atau bagaimana benak dan bayang-bayang ‘hitam’ kita menghentikan tanya yang terbuncah dari tanya tanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tiba-tiba aku tersentak oleh bentak sunyi yang menyorotiku dengan perih di setiap langkah. Haruskah aku menangisi kalian yang terus berteriak memanggilku. Dan aku memilih memati di kamar yang penuh dengan jendela-jendela kejemuhan. Adalah di mana angin menyampaikan berita tentang semua. Adalah kepekatan. Adalah Air mata pikirku yang tak akan bisa kau hentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekedar angkuhku meneguhkanku. Tanpa jari-jemari yang mengelus jiwaku. Biar pun awan di luar sana mengancam bencana bagi hidupku. Atau aku dan kamu, kalian, mimang sama-sama angkuh untuk mengarungi samudra harapan buta.&lt;br /&gt;Aku bukan takut menoleh, apalagi mampir menghitung mimpi-mimpi kalian, kamu, bahkan malamku tak tertambatkan. Jujur saja aku benci. Biarkanlah langkahku untukku. Jangan kau usik dengan beribu aroma yang tak pernah membuatku tertarik. Apa yang kau tawarkan di malamku telah membusuk di tahun-tahun yang lalu. Adalah di mana aku harus memuntahkan segalanya. Kini aku tak percaya dengan dongeng-dongenmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, seberapa dahsyat kata-kata busuk ini. Kalau saja bintang-bintang menyapa luka-luka yang terus merintih di dinding-dinding cinta, cita, pikiran dan rasa. Jika langit hujan huruf-furuf yang tak usah kita eja. Di sini ada sekarung doa yang terus bergelayut mencari makna. Menjadi kidung-kidung yang terus menafsir semesta. Adalah pertanyaan, tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar aku hitung berdasarkan abjad-abjad. Atau aku memang menentang matamu yang biru. Sudah cukup jauh aku bercanda dengan imaji, intuisi dan pikiran yang kau suguhkan dikala matahari terbit. Dan sudahlah lama aku menerima cerita busuk malam yang terus menodongku dengan pekat.&lt;br /&gt;Adalah puisi. Adalah sajakmu. Adalah cintaku. Adalah kemuakanku. Adalah kecemburuanku yang terus mengajari aku tentang air mata, luka, dan ringkih jiwa yang tak tertautkan. Terserah bagaimana kau menilai. Atau jika aku mati kau baru kertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah…&lt;br /&gt;Kini aku tak bisa mengakhiri. Apalagi sekuntum bunga menjadi duri di setiap jejakku. Dan aku membuangnya tapi tak melupakannya. Biarlah yang menjijikkan ini menjadi jalan setapak menuju samudranya sendiri.&lt;br /&gt;Aku tahu kehidupan tak ada kesimpulannya. Salahkah bila mata air memancar tanpa kita harapkan. Biar dahagaku mencium tangismu. Atau apakah setiap sesuatu pasti ada sebabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan kalian…&lt;br /&gt;Di tapak malam, mengugunkan luka&lt;br /&gt;Senja di ujung kemuakanku&lt;br /&gt;Membuncah,&lt;br /&gt;Menjadi sungai yang menuju pada samudranya&lt;br /&gt;Jalanku, jalanku, … aaah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘06&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-8881116415314005885?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/8881116415314005885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=8881116415314005885' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8881116415314005885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8881116415314005885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/retak.html' title='Retak'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-2997744082865573387</id><published>2007-10-01T23:14:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T23:16:07.181+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Igau</title><content type='html'>Igau Kentuckian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjinjing doa kesana-kemari&lt;br /&gt;Seungkap harap dalam hasrat&lt;br /&gt;Tanyalah pada Ibrahim&lt;br /&gt;Bagaimana ia mencari Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berfikir dalam merasa&lt;br /&gt;Semedikan diri pada tanya yang meruntuhkan&lt;br /&gt;Sabda-sabda sebelumnya yang diyakini&lt;br /&gt;Kini, lahar kesia-siaan saja&lt;br /&gt;Sebagai kopi hangat dalam hidupku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hal inilah yang kutemukan dikamar kecil&lt;br /&gt;Setelah shubuh kutelan mentah-mentah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepucuk Pernyataan, Elia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elia,&lt;br /&gt;Kau titikkan sebercak cerita pada ketiak benakku&lt;br /&gt;Bahwa lorong-lorong kehidupan penuh dengan tanya yang tak selesai&lt;br /&gt;Dan aku harus menjadi&lt;br /&gt;Seperti Muhammad yang berani menabahkan diri&lt;br /&gt;Di tengah kaum jahiliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini biarkan aku mentashbihkan jiwaku&lt;br /&gt;Merukukkan hasrat dan harapku&lt;br /&gt;Mensujudkan segala inginku&lt;br /&gt;Karena tak ada yang mampu meng-imankan&lt;br /&gt;Kecuali Dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kamar Ini Aku Selalu Menanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kamar ini aku selalu menanti&lt;br /&gt;Mentuma’ninakan cinta&lt;br /&gt;Dan kasih yang merobohkan seluruh dendam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku atau kamu masih berhutang&lt;br /&gt;Di sepanjang perjalanan kita&lt;br /&gt;Marilah kembali…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Untuk Para Kekasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenangmu wahai para kekasih&lt;br /&gt;Dari layar sejarah aku telan&lt;br /&gt;Kesetiaan, kesabaran dan cinta&lt;br /&gt;Yang kau bungkus dengan rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘getarku mungkin tak sampai’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapakali aku bercakkan tintamu&lt;br /&gt;Pada buku harian&lt;br /&gt;Ternyata selalu percuma saja&lt;br /&gt;Dosa dan doa kini mulai mengkabur&lt;br /&gt;Oleh keinginan dan hasrat yang meraja&lt;br /&gt;Mampirlah! Mampirlah!&lt;br /&gt;Wahai para kekasih&lt;br /&gt;Peluklah jiwaku yang menggigil&lt;br /&gt;Di tengah gelombang hidupku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau dunia ini tetap aku acuhkan&lt;br /&gt;Wahai para kekasih&lt;br /&gt;Mampirlah!&lt;br /&gt;Di sini semakin tak terarah&lt;br /&gt;Dimana jejak yang harus diikuti&lt;br /&gt;Dan yang harus dihindari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setangkai Jiwaku&lt;br /&gt;- Buat Orang Tuaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang tuaku&lt;br /&gt;Aku kirim bungaku untuk-Mu&lt;br /&gt;Tapi aku tak tahu ini bunga apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduanku adalah benih persetubuhan&lt;br /&gt;Embun dan bunga di telapak matahari&lt;br /&gt;Untuk-Mu aku ingin kembali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang tuaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang malam aku mengunyah yang sudah terjadi&lt;br /&gt;Dan sabdamu belum sempat kulipat di hati&lt;br /&gt;Semuanya telah terbuka antara luka dan dosa&lt;br /&gt;Kini, aku harus diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keangkuhan rinduku menggetarkan&lt;br /&gt;Seribu hasrat pada-mu&lt;br /&gt;Tenggelam dan tenggelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini, wahai sang tercinta!&lt;br /&gt;Ada keributan antara raga dan jiwa&lt;br /&gt;Antara anak-anak dan orang tua&lt;br /&gt;Sehingga geletar yang merajut makna&lt;br /&gt;Tak terdengar mengkidung sebuncah pun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang malam menangiskan diri&lt;br /&gt;Sesujud penyesal di hamparan hening dan nama-mu&lt;br /&gt;Kini, aku harus diamkah?&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-2997744082865573387?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/2997744082865573387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=2997744082865573387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/2997744082865573387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/2997744082865573387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/igau.html' title='Igau'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-2061136220534383027</id><published>2007-10-01T21:29:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T22:56:59.926+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Sastrawan Muda</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fani: Generasi Baru Sastrawan Muda UIN Sunan Gunung Djati Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman Sewaktu Kecil, itu judul yang menjadikan Fani Ahmad Fasani resmi menjadi sastrawan muda versi Suara Mahasiswa UNISBA. Berawal dari lomba pembuatan cerpen bulan Juni 2005 yang lalu, dengan juri sejumlah sastrawan Nasional, antara lain Seno Gumira Ajidarma, Jacob Soemardjo, dan Anjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya para pemenang lomba tersebut dibukukan dengan Judul Cover: Dilarang Menangis, yang berisi 13 judul tulisan. Fani, adalah mahasiswa Jurusan Aqidah Filsafat, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lounching dan sekaligus bedah buku yang diterbitkan Kaki Buku pada tanggal 07 Januari 2006 itu berlangsung mulai pukul 10.00 sampai dengan 13.00 di Gedung Student Center UNISBA Jln. Taman Sari No.01 Bandung. Fani mengulas dan menjawab sejumlah pertanyaan audien. Dialog berkisar dengan proses kreatif dan dunia kepenulisan serta saling berbagi kiat menulis dengan para pemenang lomba tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil dari para pemenang yang bisa hadir dan menjadi pembicara pada waktu itu antara lain wakil dari UNISBA, UPI dan UIN Bandung. Sedangkan wakil dari Juri dihadiri oleh Saudari Anjar, seorang penulis perempuan yang sekaligus redaktur majalah Spice bersama Fira Basuki.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-2061136220534383027?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/2061136220534383027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=2061136220534383027' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/2061136220534383027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/2061136220534383027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/sastrawan-muda.html' title='Sastrawan Muda'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-4158720592680481576</id><published>2007-10-01T21:20:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T21:24:06.141+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Tuhan Yg Diaykini</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh Ahmad Gibson &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, dalam perspektif empirik, bukan bagian dari kehidupan real manusia. Ia, dalam kehidupan manusia, ada sejauh diyakini. Hadir dalam realitas keyakinan (imani). Yahh.. diyakini keberadaannya (dengan tanpa argumen). "Sekedar" diyakini sebagai Dzat (...eksistensi) yang menjadi sebab bagi eksistensi lainnya; sebagai eksistensi yang mengatasi segala sesuatu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitas keyakinan, Tuhan hadir sebagai realitas tanpa warna (buram), tak tersentuh, tak terkatakan, tak terkonseptualisasikan. kalau pu Ia hadir sebagai "kosepsi sederhana dalam lubuk keyakinan kita", konsepsi itu tampak sebagai bayang2 dari sesuatu yang tidak ada wujudnya...... Tuhan hadir dalam keyakinan seperti sebuah stempel yang "entah" siapa yang mencantumkannya, kita biasa menyebutnya sebagai fitrah, hadir sebagai wujud kasih sayang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena Tuhan hadir dalam dimensi keyakinan yang unspeakable, maka manusia berusaha untuk merumuskannya dalam pikirannya. Suatu proses berpikir seperti menyambungkan titik-titik yang jumlahnya tak terhingga. Titik yang tentunya memiliki bentuk dan ukuran yang sama. Titik-titik itu (yang ada dalam relung keyakinan kita) tidak jarang membuat pikiran kita terantuk-antuk. Bentuk akhir dari pemikiran kita dalam upaya untuk menyambung-nyambungkannya hanya memiliki satu referensi, yaitu keyakinan itu sendiri.... Oleh karena itu, wajar bila setiap orang memiliki pikirannya masing-masing tentang apa/bagaimana itu Tuhan.....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-4158720592680481576?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/4158720592680481576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=4158720592680481576' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4158720592680481576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4158720592680481576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/tuhan-yg-diaykini-dan-yg-dipikirkan.html' title='Tuhan Yg Diaykini'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-8720427322658248580</id><published>2007-10-01T21:00:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T21:04:02.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi'/><title type='text'>Merinding</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;merinding rasanya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;kau bilang seperti itu (jangan-jangan kamu juga nggak pernah maknain takbir kamu, dan ketika mendengar bergetar, maka jangan-jangan kamu malah beriman.... ke.... kamu ngerti kan? masa sekolah al-Azhar nggak cerdass...seeh??!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ada yang unik (kamu salah satunya), kata temanku, persoalan itu nggak ada yang mau ngobrol langsung, jadi kebenyakan orang cuma berani intip, melempar tuduh, dan sembunyi mulut-kalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Nggak perlu gusar kawan. aku pengen nimbrung cuma karena aku dan kamu sama-sama punya rasa beriman, gitu lohhh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kamu bilang: kalo ucapan itu keluar dari ateis itu wajar! tapi itu keluar dari "rekan se-iman (yang sama punya syahadatain)". pertanyaannya: karena kamu tahu mereka juga beriman, termasuk sudah syahadatain, kenapa kamu nganggap ungkapan itu nggak layak??!! (jangan-jangan kamu pun ragu atas keyakinanmu sendiri kalo mereka adalah orang-orang yang beriman, hanya saja kamu takut, karena keimanan mereka 'melampaui' cara kamu beriman. biasa aja deh, nggak baik tuhhh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah kamu punya point bagus, karena kamu nggak ngerti, maka kamu nanya, "apa seeh maksudnya kalimat itu??" (ternyata kamu cerdas juga yahhh, gimana nggak kok, banyak orang yang pinter dalil tapi...kamu tahu lah masa yang nguli-pengetahuan [iman?] di al-Azhar nggak ngerti jalannya ceritaku....hebat, kamu nggak kayak gitu, itu baru ikhwan). konon, kita nggak boleh ngikutin apa yang nggak tahu ilmunya, kamu tahu kan ayat itu?? (pasti dong al-Azhar...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ohhh iyyaa, friend, kamu bilang kalo: kalimat itu nggak boleh dida'wahkan pada orang lain agar nggak dianggap sesat dan menyesatkan". wuihhh bener tuhhh.... tapi pertanyaannya: siapa orang lain itu? apakah kawanku bilang di pasar ikan, burung, atau terminal. nggak dehhh, tapi di hadapan orang yang pake pakaian putih hitam dengan co-card (jadi nggak pada orang kuli pabrik, meski mungkin pakaiannya sama); tapi di sebuah aula institusi pendidikan yang sedang "ngegodok-pikirandanhati" dengan jargon "revitalisasi gerakan mahasiswa guna membangun kampus ilmiah dan religius" (ada nggak kira-kira jargon itu di terminal, atau tempat umum lainnya yang pake kata "mahasiswa", ??! TIDAK!). oleh karena itu, menurut aku, kawan mereka yang nyeleneh itu, kita kudu mendefinisikan siapa "orang lain" yang kamu maksud!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seperti yang aku uraikan, maka jika itu di depan mahasiswa (konon, calon-calon orang yang pantang untuk ragu dan nggak sebel sama mikir) dan bertempat di sebuah institusi pendidikan: maka itu adalah ajang yang sifatnya ilmiah, dan oleh sebab itu karena tugas mahasiswa adalah menggugah, menyadarkan kesadaran mereka (para mahasiswa yang sedang digodok itu dari kekanak-kanakannya, juga dari sempitnya mikir waktu di aliah, pesantren, mungkin), "para orang-orang yang nyeleneh itu", merasa berkewajiban melakukannya. dan kamu tahu, bagaimana sikon politis dan kultur saat itu ( ohh gitu kronologinya..., kira-kira kamu bilang gitu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah, maka dari itu, aku juga sempet mikir, mungkin kamu juga, kenapa acara yang bersifat internal kampus, kok bisa yah ada di masyarakat (lebih ngeri ada di pengajian ibu-ibu lho??!). oleh karena itu, menurut pengakuan kawanku itu, keping cd yang ada dimasyarakat itu datang dari BEM sendiri (yang konon sempet nggak ngaku, menurutnya itu dari TIAS FUUI, padahal akhirnya terbongkar setelah sang kameramen sadar kalo yang ada di keping cd di masyarakat itu adalah hasil ngeshoot-nya, jadi saat setelah acara tersebut, sang kameramen pulang karena ayahnya sakit, dan VHS itu dititipkan kepada kawannya, konon seorganisasi yang juga sang kameramen punya persoalan internal). nah, versi cd yang beredar itu ternyata diedit oleh....aku lupa lagi. jadi, "orang lain" yang kamu definisikan adalah masyarakat! jadi yang menda'wahkan pernyatan itu, menurutku, adalah orang-orang yang membawa area acara internal itu ke "orang lain" yang kamu definisikan tadi itu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-8720427322658248580?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/8720427322658248580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=8720427322658248580' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8720427322658248580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/8720427322658248580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/merinding.html' title='Merinding'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-5222408702119373341</id><published>2007-10-01T20:46:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T20:48:33.309+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Sajak</title><content type='html'>Sajak-Sajak SUTISNA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amparan katineung | Berhati lembut | Cincin |&lt;br /&gt;Galuh Katresna | Kadeudeuh | Kekasihku | Kelam | Perjalanan | Puisi Malam | Pupujaning Ati | Sang Dewi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Amparan Katineung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalingding asih dimumungung gunung&lt;br /&gt;Ngahibaran sagara rasa nu teu wasa&lt;br /&gt;Nyingahareupan guligahna panghareupan&lt;br /&gt;Duriat manteng ngagalindeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nganteurkeun lamunan ka alam maya&lt;br /&gt;Ngajak lalyaran dina amparan kembang hareupan&lt;br /&gt;Nu kiwari tinggal carita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhati lembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerimis malam jatuh didedaunan&lt;br /&gt;Mengiring mimpi-mimpi menuju keindahan&lt;br /&gt;Kala siang panggung derita terus menghantam&lt;br /&gt;Di perempatan kehidupan umat manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkati dunia&lt;br /&gt;Oh yang maha agung&lt;br /&gt;Sinari cahaya dirinya dengan cintaMu&lt;br /&gt;Karena ia berhati lembut&lt;br /&gt;Selalau merindukan wajahnya pada sesama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cincin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemerlapnya sutra di pikiranmu&lt;br /&gt;Menutup kepedihanmu&lt;br /&gt;Yang penuh dengan perih&lt;br /&gt;Engkau tak rela ditelan harimau yang lapar&lt;br /&gt;Yang setiap saat dihadapanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tataplah keadaan cinta yang kau miliki&lt;br /&gt;Jangan merengek pada kehidupan&lt;br /&gt;Hadapilah dunia apa adanya&lt;br /&gt;Berjuang, berjuang dan berjuanglah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galuh Katresna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wewejaning ati nu ngesian geurenteus hate kahirupan&lt;br /&gt;Panggupay rasa&lt;br /&gt;Panggugah carita kaputus asaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabobot sapihanean mangrupi tatanan hirup&lt;br /&gt;Pamo ulah kabawa-bawa ku ala massa&lt;br /&gt;Komo deui kajurung ku hawa nafsu ngumbar amarah&lt;br /&gt;Matak pegat di tengah jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu matak kaduhung&lt;br /&gt;Badan nu katempuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadeudeuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lir ibarat cai ibun nu ragrag ka patanaman&lt;br /&gt;Niisan ka kembang anu sumedang ligar&lt;br /&gt;Mihareup pangjajap kadeudeuh anu pageuh&lt;br /&gt;Nancep moal ingkah balilahan&lt;br /&gt;Moal sakoneng daun pare&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujunan pupunden asih&lt;br /&gt;Tebih jauh kalangitan&lt;br /&gt;Anggang bulan ka bentang&lt;br /&gt;Sagara rasa teuwae sirna&lt;br /&gt;Nyeceh pageuh dina fikir&lt;br /&gt;Nu hiji waktu bakal di ukir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasihku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan merasa sendirian dalam hidup&lt;br /&gt;Duhai kekasihku&lt;br /&gt;Derita yang engkau tanggung&lt;br /&gt;Adalah perjalanan hidup&lt;br /&gt;Senja kala engkau pun akan tersenyum&lt;br /&gt;Melihat mimpi-mimpimu menjadi kenyataan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanglah air sungai yang mengalir&lt;br /&gt;Air mengalir mengikuti tempat&lt;br /&gt;Serta kehadiranya dinantikan&lt;br /&gt;Oleh segenap mahluk&lt;br /&gt;Bercerminlah pada air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunai bagaikan dalam onggokan tong sampah&lt;br /&gt;Penindasan selalu datang menghantam&lt;br /&gt;Ia tak peduli siapa yang ada dihadapannya&lt;br /&gt;Mukanya merah kelabu&lt;br /&gt;Bibirnya selalu melafalkan asma Tuhan&lt;br /&gt;Kejahatanya sangat licin&lt;br /&gt;Ia memperdayai orang-orang dengan dalih agama&lt;br /&gt;Menjual aya suci demi kekuasaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia kini menuju kehancuran&lt;br /&gt;Tindakan biadab bagai barang mainan&lt;br /&gt;Dipermaikan dan selalau dipermaikan&lt;br /&gt;Hidup pun adalah permainan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa menyangkal takdir telah mengungkung kita&lt;br /&gt;Tak disadari hidup penuh dengan bumbu-bumbu kepalsuaan&lt;br /&gt;Aromanya adalah janji-janji manis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah dirimu selalau ditikam sang takdir&lt;br /&gt;Akankah engkau bangkit&lt;br /&gt;Atau malah terdiam&lt;br /&gt;Hingga engkau mati konyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera bangkit sebelum terlambat&lt;br /&gt;Sang fajar telah menantimu&lt;br /&gt;Kehalusan segera datang&lt;br /&gt;Menjelma menjemputmu&lt;br /&gt;Kemarilah&lt;br /&gt;Oh sang waktu&lt;br /&gt;Aku merindukanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daun kering berjatuhan dari rantingnya&lt;br /&gt;Terhempus badai pasir yang mengaung&lt;br /&gt;Meluluhkan kedamain dunia yan baru tercipta&lt;br /&gt;Singgasana malam merintih dalam kesunyia&lt;br /&gt;Terdiam dalam berjuta bahasa&lt;br /&gt;Ditikan oleh panasnya nafsu dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya bisa pasrah pada sang takdir&lt;br /&gt;Yang merengguk kebebasanya&lt;br /&gt;Yang menikam dengan jeruji-jeruji kebenaran&lt;br /&gt;Atas nama cinta&lt;br /&gt;Atas nama agama&lt;br /&gt;Atas nama kemanusiaan&lt;br /&gt;Dirimu dianiaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupujaning Ati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renggat galih nu katampi&lt;br /&gt;Milari kaasih nu teu ngajadi&lt;br /&gt;Neangan pangdumukan rasa&lt;br /&gt;Ka diri nu tunggelis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngabebenah diri ku keclakna cimata&lt;br /&gt;Inget gesan diri nu teu ngajadi&lt;br /&gt;Rusak di teureuy anak zaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urang muja sukur ka sanghyang widi&lt;br /&gt;Maca tasbih sareng kalimat tahmid&lt;br /&gt;Ngeusian hate anu sumpek&lt;br /&gt;Ku rupa-rupa pasualan dunya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Dewi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyummu membalut luka dijiwamu&lt;br /&gt;Yang lama diterjang bala tentara kejahatan cinta&lt;br /&gt;Bara api kedurjanaannya&lt;br /&gt;Mencengkram jiwa-jiwa manusia&lt;br /&gt;Menjerat hingga dibuatnya tak berdaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkitlah&lt;br /&gt;Hadapi kekjaman dunia dengan rengkuhan cinta&lt;br /&gt;Kalahkan setanisme yang ada didirimu&lt;br /&gt;Berdirilah&lt;br /&gt;Wahai sang dewiku&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-5222408702119373341?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/5222408702119373341/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=5222408702119373341' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/5222408702119373341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/5222408702119373341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/sajak_01.html' title='Sajak'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-617328074796132189</id><published>2007-10-01T20:29:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T20:34:01.242+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Sajak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sajak 2 Selintas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sajak Modjo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu ini terserak diladang harap&lt;br /&gt;Di indah taman kasih&lt;br /&gt;Sayang adam pada hawa&lt;br /&gt;Kuambil tiap kepingnya&lt;br /&gt;Bersama resah badai menyapu&lt;br /&gt;Ataukah saja biarkan mereka terbang&lt;br /&gt;Karena akit kunjung menganga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Diriku hanyalah huruf,yang tak pernah menjadi kata&lt;br /&gt;Tak terangkai dalam kalimat, tak tertulis dalam karangan&lt;br /&gt;Aku hanya jalang, merangkak jalan berbatu merentas&lt;br /&gt;Hari berliku melintas laut bergelombang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya karangan narasi tuhan&lt;br /&gt;Disisipi kata perintah dan larangan&lt;br /&gt;Langkahku menuju titik keabadian&lt;br /&gt;Yang diawali dari aneka kelahiran&lt;br /&gt;Dan ketidak tahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modjo&lt;br /&gt;Mahasiswa Aqidah Filsafat smester empat dan aktivis LPIK&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-617328074796132189?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/617328074796132189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=617328074796132189' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/617328074796132189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/617328074796132189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/sajak.html' title='Sajak'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-1098443038515612271</id><published>2007-10-01T20:27:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T20:33:48.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sajak'/><title type='text'>Solilokui</title><content type='html'>Sajak-Sajak M Arkan Rahmatullah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solilokui 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang aku ingin melipat jasad..&lt;br /&gt;Di keheningan malam yang senyap..&lt;br /&gt;Menunggu dan menunggu,&lt;br /&gt;Sebuah jeda yang semakin sayu..&lt;br /&gt;Perempuan..&lt;br /&gt;Dan hadirmu beningkan solilokui ini,&lt;br /&gt;Sebab dalam sunyi,&lt;br /&gt;Aku tak bisa bernyanyi sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Solilokui 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang sempat tak terucap,&lt;br /&gt;Meski hening belum menyergap..&lt;br /&gt;Di sini, si surau yang berpeluh,&lt;br /&gt;Seribu dendam jatuh,&lt;br /&gt;Seperti firman yang jauh..&lt;br /&gt;Saudaraku..&lt;br /&gt;Ternyata dalam sunyi,&lt;br /&gt;Kita harus bernyanyi sendiri..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solilokui 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca solilokui ini,&lt;br /&gt;Hanya ada jelaga tak berperigi..&lt;br /&gt;Aku ingat pernah menelan api,&lt;br /&gt;Mengalirkan nyali,&lt;br /&gt;Mengubur nurani, hingga mati&lt;br /&gt;Dalam hari-hari yang nyeri..&lt;br /&gt;Sedang aku ingin kembali,&lt;br /&gt;Kembali menantang mentari..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solilokui 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan solilokui ini hanya&lt;br /&gt;Hamparan gulita rasa percuma&lt;br /&gt;Batas upaya diri di jelang senja&lt;br /&gt;Sebelum lelap hadir menerka..&lt;br /&gt;Namun, tidakkah ia pernah berarti,&lt;br /&gt;Retakan sesal dan nestapa yang mengunci&lt;br /&gt;Setelah mauvaise foi ini tak lagi berdiri&lt;br /&gt;Pada sejuk, pada api..&lt;br /&gt;Dan sekali lagi, aku hanya harus berhenti..!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-1098443038515612271?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/1098443038515612271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=1098443038515612271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/1098443038515612271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/1098443038515612271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/solilokui.html' title='Solilokui'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-373377720825365690</id><published>2007-10-01T20:15:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T21:25:52.521+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Kau Tentu Lebih Tau</title><content type='html'>&lt;a href="http://sirunggawir.wordpress.com/2007/08/26/kau-tentu-lebih-tahu/" target="_blank"&gt;Fani Ahmad Fasani*&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tentu lebih tahu apa yang telah kau lakukan padaku. Aku tidak bermaksud mendukungmu untuk duduk di kursi tengah persidangan, lagipula dimanapun itu, tak pernah suatu persidangan mengutuh-genggam sebentuk keadilan. Dalam hal ini, aku tak akan pernah berbicara atas nama keadilan, ataupun sekedar upaya meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pada akhirnya apa yang kulakukan sekarang (dengan tulisan ini) tentu lebih otoriter daripada sebuah persidangan. Karena toh bahasa tulisan tak pernah bisa diintrupsi, kau boleh saja berhenti untuk tidak menyelesaikan membacanya dan kemudian menganggapnya bukan apa-apa, tapi entah bagaimana kepercayaanku telah terlanjur terikat-urai dengan siasat kata-kata terhadapmu. Kau berhak mengelak enteng saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jauh lebih sulit menentukan sinetron mana yang harus ditonton, antara pukul 18.00-22.00 dari hari Senin-Jumat misalnya, apalagi jika terpaksa harus menentukan yang mana yang lebih omong kosong. Kali ini akupun mungkin terjebak pada logika sinetron yang bertele-tele demi terpenuhinya episode dan hasutan pasar, tapi percayalah.. ketabahanku tak akan sampai menyaingi enam jilid “tersanjung”, dan aku tak sampai hati membayangkan suatu kegagalan komunikasi seperti berikut;&lt;br /&gt;“Sayangku, mimpiku tentangmu telah mengambil alih seluruh waktu tidurku, dan bayangan wajahmu telah begitu terpahami maksud anganku..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagi-lagi kau katakan hal itu, kalimat itu telah kau pakai pada duapuluh delapan episode yang lalu”.&lt;br /&gt;“Kurasa aku hanya mengatakan sekali ini dan hanya padamu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, mungkin kau perlu melihat lagi cuplikan dari episode-episode yang lalu. Saat ini aku sedang tak berselera untuk mengampuni kelupaanmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, maaf.. kiranya kamu tidak suka dengan kalimat favoritku”. Sudahlah, aku tak mau memperparah keadaan dengan berlarut-larut dalam hal ini. Lagipula kisahku sendiri mesti kuanggap lebih penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ragu rajin bertamu untuk apa yang pernah kau lakukan padaku. Suatu sikap sadar menanggapi mimpi-mimpi yang mungkin tidak terdaftar dalam salah satu dari 1.640 kali setahun. Maksudku mimpi yang mengatasi pagi, tapi akhirnya malah terbengkalai saat waktunya sarapan. Disuap terakhir kitapun teringat tentang jejak-jejak di bantal yang mesti ditafsir ulang ketika matahari bertanya tentang keteguhan harap alih-alih jenjang lapar-dahaga sewaktu. Ah, aku menyeka segala yang tersisa saat kau menunjuk di daftar sikap tentang ketabahan Will Smith yang telah sukses melewati nasib najis penjual scanner portable dengan merk The Pursuits of Happyness. Hari masih panjang katamu, tak usah berlebihan menanggapi gumam piring yang telah licin kali ini. Tak bisakah hanya tersenyum lebar seperti bayi tetapi menggigit selayak buaya? Ah, yang dapat menyaggupinya hanya Cool Hand Luke, bahkan roman Dr. T saat ditindas hujan tak dapat kusaingi. Akupun tak menduga ketika hari menjelang siang kau mengunci jendela, menjemur kasur dan cerita dari jalin mimpi itu menguap di maafmu. Aku tahu, terlalu banyak dekap yang lebih akrab untuk rasa pantasmu. Merela-paksa rencana yang pernah untuk segera hangus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak perlu lagi berurusan dengan apa yang telah kau lakukan padaku, untuk apa mengusik arang dan abu kecuali demi menanam anggrek seperti yang ibuku lakukan. Atau kita anggap saja cerita lama itu telah terbukukan dalam kenangan, atau dalam pelajaran merawat luka? Kemudian seringkali aku terombang-ambing dalam rindu kesumat terhadapmu! Kemudian, entah dengan cara apa mesti berterima kasih padamu, karena tanpa pernah-mu tak mungkin sebundel kisah dapat menjelma. Namun sialnya aku tak mampu untuk menumpuk-ratakannya bersama kisah lain yang sebelumnya kukenali, tentang putri salju ataupun Jaka Tarub. Karena dalam bundel kisahmu, kau menanam seribu satu Syahrazad yang menumpulkan pedang penuntasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku harus mulai percaya pada “ini memang seharusnya terjadi padaku”. Bahwa yang terjadi adalah; aku hanya melakonkan suatu peran dalam narasi yang telah diatur oleh suatu pihak yang belum tentu dapat kupahami arah maksudnya. Bagaimanapun, sejengkal tabah mesti mengungguli keluasan dendam. Atau aku berjalan ke arah lain supaya berani beroposisi dengan fakta? Misalnya tentang kesediaanku menjelma apa saja dalam tutur kisah yang mana saja, suatu peran yang mampu menyaingi cerita saat ini dan mengatasi kesementaraan percaya. Aku mendamba cerita yang memberikan peluang luas untuk tindakan-tindakan keji yang mengkhianati kemestian alur. Baiklah, aku mulai dengan merampas korek api dari gadis kecil disuatu malam natal yang dingin penuh salju, membiarkannya mati lebih cepat dari dugaan cuaca, tanpa sepeluangpun khayalannya tertambat pada makanan lezat, ia tak lagi mampu mencetuskan sebayang keindahanpun tanpa korek apinya. Kalian akan setuju padaku, bahwa tak kurang menyenangkan untuk menyaksikan kematian dalam derita yang menyengat seperti ini, gadis kecil itu mampus saat titik dingin menggergaji tulang-tulang dari hidup yang tak memberikan se-lirik-belah matapun. Sebatang korek tersisa ditanganku, sebagai kenang-kenangan betapa kekejian nasib memang telah berlaku untuk orang selain aku, namun tiba-tiba seekor kera putih bermata hijau berkelebat merampas sebatang terakhir korek api itu, akupun mengejar kera sialan itu. Ia berlari gesit mulai dari buku cerita hingga Alengka. Kera itu, Hanoman yang doyan terbang dan membakar. Aku berebut sebatang korek api itu dan berusaha menyaingi kesaktian anugerah dewa-dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa kau ambil korek apiku?”&lt;br /&gt;“Agar Alengka membara!”&lt;br /&gt;“Untuk apa kau bakar Alengka?” Tanyaku.&lt;br /&gt;“Demi menyelamatkan Shinta!” Jawabnya tegas.&lt;br /&gt;“Lalu, setelah itu?”&lt;br /&gt;“Kupersembahkan Shinta untuk kembali terbakar disaksikan Rama”&lt;br /&gt;“Haha.. Kalian bodoh! Untuk apa membakar terlalu banyak hal hanya demi menyelamatkan seorang sundal? Atau kalian melakukan semuanya hanya demi logika pembakaran?” Bentakku padanya. Hanoman marah terhadapku, kini aku yang dikejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kehedak dewa. Dan dewa tak akan keberatan jika sebelum kulaksanakan titahnya aku membunuh seorang tengik sepertimu dulu. Kau yang akan pertama kali kubakar!” Katanya penuh amarah. Hanoman meloncat menerkamku, akupun menghindar dan mencoba berlari. Aku merasa putus asa berada dalam pengejaran mahluk sakti dan gila akan pembakaran. Aku kemudian bersembunyi diantara tumpukan kayu dan berharap menjadi sebongkah kayu saja. Setidaknya takkan merasakan letupan di sekujur dagingku saat terbakar. Aku berusaha percaya bahwa aku memang hanya sebongkah kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun dan merasa heran telah berada di sebuah rumah. Seorang tua tersenyum kepadaku, ia mengaku sebagai orang yang menyelamatkanku dari nasib yang membara, ia kemudian memungutku, memahatku, mengadopsiku dan memanggilku dengan sebutan Pinokio, akupun pura-pura setuju. Katanya, sebelum bentuk pahatan hidungku selesai tadi, aku keburu bangun, dan untuk menyempurnakannya aku disarankan untuk banyak berbohong. Kumulai dengan membohongi seorang gadis berkerudung merah saat kuperkenalkan diri sebagai orang yang tertunda makan siangnya, kukatakan bahwa catering langgananku adalah seorang nenek yang pelupa. Sikerudung merah itu berkata bahwa kotak yang dibawanya adalah kotak makan siang Pandora dan tak boleh dibuka kecuali olehnya. Aku memasang muka memelas dan merayu gadis itu untuk memberikan kotak yang dibawanya. Tiba-tiba seekor serigala muncul dan menghampiri si kerudung merah, serigala itu membisikan kalimat-kalimat panjang padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi saat-saat dimana kesejatian cinta menjadi mungkin!! Demi akhir bahagia di setiap cerita!! Aku tahu kau hanya mahluk kayu dengan jantung rapuh, dan aku punya koneksi di kerajaan rayap!!” Si kerudung merah meradang tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ancamanmu takkan membuatku takut!” Kataku pura-pura berani.&lt;br /&gt;“Selama kau menginjak tanah, kau tak akan bisa lari dari ancaman rayap. Mereka mampu melahapmu dengan cara keji dan menyakitkan!”. Sejauh ini aku tak bisa lagi melanjutkan kepura-puraan dan terpaksa bentuk hidungpun menjadi taruhan, akupun meminta maaf dan menawarkan tiga ekor babi atau tujuh liliput sebagai ganti rugi, tapi ia memintaku sepotong rusuk kiri Peter Pan yang tak terlalu bengkok, dan tulang rusuk itu harus diambil saat ia merasa bosan dan kesepian. Karena katanya, tulang rusuk seseorang yang disiksa rasa bosan bisa menjelma sesuatu yang berharga. Peter Pan lah yang paling mungkin didera rasa bosan, karena ia tak pernah tua. Menurutku, permintaannya lebih sulit dari membangun seribu candi.&lt;br /&gt;Meski suatu kekejian yang pada awalnya aku rencanakan, tapi pembunuhan hanyalah bentuk kekejian yang terlalu gamblang, aku merasa berat melakukannya. Lagipula aku merasa bukan bidangku jika aku harus mencabik perut seseorang dengan pisau tajam, kemudian me-matahpaksa-kan jajaran iga-iga, kemudian menimbang yang mana yang sedikit lebih lurus dan pantas untuk dipersembahkan. Kekejian seperti itu terlalu langsung dan mudah dipahami, apalagi untuk ukuran orang sekelas Rambo. Aku membutuhkan perkakas yang luar biasa, yang tak tajam tapi bisa membuat proses ini menjadi lebih rumit dan sulit dipahami. Aku teringat tongkat ajaib milik Ibunda Peri. Aku mungkin bisa meminjam atau menyewanya untuk tugas ini. Akupun berangkat ke rumah Cinderella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya aku datang di saat yang tak tepat, Ibunda Peri dan Cinderella sedang dalam percekcokan. Tadinya aku mengira masalahnya timbul karena sedikit perbedaan waktu masa kadaluarsa mantra-mantra, tadinya aku mengira ada sedikit perbedaan menit antara jam tangan Cinderella dan jam dinding istana. Tapi setelah kusimak pembicaraan mereka, ternyata masalahnya bukan disana. Cinderella hanya ingin seperti perempuan yang lainnya yang tak mudah didapatkan, sedikit ingin melihat laki-laki mengap-mengap mengejarnya. Bagi Cinderella, sang pangeran terlalu gampang mendapatkannya, tidak terlalu banyak menguras keringat. Rupanya Cinderella terlalu banyak terpengaruh telenovela pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinderella protes keras, kenapa setelah jam kerja mantra bubar, sepatu kacanya tak berubah menjadi sesuatu yang lain. Kereta kencananya kembali berubah menjadi labu setelah dentang dua belas itu, kuda-kudanya berubah menjadi tikus-tikus, pengawal menjadi kadal, tapi kenapa sepatu kacanya masih sepatu kaca hingga pangeran mudah saja mengendus siapa gerangan dirinya. Cinderella bertanya pada Ibunda Peri, dari mana sepatu kaca itu ia dapatkan. Dan di bawah sepatu itu tidak tercetak tulisan Made in manapun untuk sekedar petunjuk, supaya Pangeran tersilap bahwa itu sepatu miliknya. Para Pendekar Cibaduyut-pun tak punya petunjuk untuk hal itu. Ibunda Peri masih bungkam tentang muasal sepatu kaca itu. Ah, aku tak ingin terlalu jauh terlibat dalam sengketa yang tak jelas kumengerti ini. Lagipula hati perempuan memang sulit ditebak. Sebaiknya aku segera pergi ke Neverland, gimana nanti jadinya sesampainya aku disana. Mungkin sedikit kenekadan diperlukan kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neverland memang tempat yang indah, sepetak tanah yang tak pernah, akupun salut karena tak ada proses administrasi firdaus yang rumit disini, hingga aku tak perlu menyamar sebagai seekor ular untuk bisa masuk. Aku akan betah berlama-lama disini jika aku tak ingat untuk tujuan apa aku kesini. Aku menuju rumah Peter, tapi yang kutemukan hanya Tinkerbell yang sedang uring-uringan durja, ketika kutanya tentang Peter ia menjawab&lt;br /&gt;“nyip.. nyip.. kuing..”, baiklah sebaiknya aku langsung saja terjemahkan apa saja yang ia bilang ke dalam bahasa biasa. Katanya Peter Pan sedang tidak ada, ia sedang mengantar Wendy untuk mendaftar kontes kecantikan yang jurinya ternyata Cermin Ajaib dan memperebutkan piala Hutomo Mandala Putra. Jika saja aku kesini hanya berniat wisata, aku tentu takkan kecewa. Tapi ancaman gadis itu terngiang, lagipula sebagian besar aku kemari bukan soal itu, tetapi entah kenapa hatiku mendesir jika teringat gadis itu. Manis dan berkerudung warna merah, merah yang mempesona meski tanpa gambar lambang perkakas kerja bersilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperjalanan aku bertemu seorang lelaki yang wajahnya mengingatkanku pada raut Oliver Twist dan kemudian ide cemerlangku muncul. Kenapa tidak kuambil saja rusuk orang ini dan bilang bahwa yang kubawa adalah rusuk Peter Pan, lagipula aku pernah disuruh ibuku untuk mencari hati babi dan yang kuserahkan justru hati anjing yang telah beristri. Aku mengendap menghampiri laki-laki itu, mendekatinya dan siap menerkam. Aku tak akan terlalu berdosa membunuh orang dengan wajah yang telah kehilangan semangat hidupnya pikirku. Laki-laki itu menatapku dengan mata yang tak akan kalian temukan pada lukisan Jeihan, ia tiba-tiba berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kau segera bunuh aku, ambil seluruh tulangku yang penuh karat derita”. Kalimatnya mengandung kesinisan dalam derajat yang tak kukira.&lt;br /&gt;“Apa yang telah terjadi?”. Tanyaku terpancing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu terduduk, tangannya melingkar mengikat lututnya sendiri, kemudian tertunduk dalam. Kuharap ia bukan dia, laki-laki yang akan merusak seluruh bangunan cerita ini. Yang justru membelokan cerita kearah kekecewaan, saat seorang perempuan yang mangkir dari janji untuk bertemu dengannya atau semacamnya. Sudahlah, aku harus menyelamatkan cerita ini sebelum akhirnya laki-laki dihadapanku membuatnya lebih kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu kemudian berjalan kearahku, ia berdiri dihadapanku dengan tatapan tidak mengarah tepat di mataku, tetapi lebih jauh keatas, mungkin memantau bagaimana rambutku dimainkan angin. Ia mencabut selembar rambutnya sendiri dari atas kening, melangkah lebih dekat kearahku dan entah kenapa tubuhku merasa lemas dan tak mampu bereaksi sepatutnya. Tangan kiri laki-laki itu memegang kepalaku, turun kearah telinga kiriku, membuka rambutku yang menghalangi telinga dengan usapan yang halus dan mengancam. Aku masih tak bisa berbuat apa-apa, aku merasakan tubuhku seperti kayu lapuk semata. Tangan laki-laki itu terangkat dan dengan segera memasukkan selembar rambut yang dipegangnya kedalam telingaku. Aku merasakan rambut itu tumbuh dengan cepat dan cermat, setajam kawat lancip menjulur menuju benakku, aku merasakan sakit sangat. Menjalar melingkar. Rambut itu telah sepenuhnya masuk dan semakin kurasakan tumbuh didalam sana. Laki-laki itu memegang kedua telingaku seolah tak mengijinkan selembar rambutnya yang sedang tumbuh dalam kepalaku itu untuk melongok keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu kini menatapku tajam, tersenyum dan perlahan wajahnya berubah berbulu putih, matanya perlahan hijau. Lalu aku mengenalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan membakar setiap kemungkinan bahagiamu!, menghanguskan tiap inci senyumu..” Katanya penuh ancaman. Ia menyeringai dan aku balik menghardik binatang peliharaan Walmiki itu, tapi rasa sakit dalam kepalaku menghalangiku untuk melakukannya. Aku terpejam dengan hati penuh kutuk terhadap kera putih bermata hijau dihadapanku dan badanku tanpa tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut kawat dalam kepalaku bergulung-gulung, mungkin benakku sudah tercecer andai Hanoman tidak menutup kedua telingaku. Perlahan aku membuka mata, dan wajah dihadapanku kini menjadi seraut gadis berkerudung merah, ia tersenyum sinis kepadaku.&lt;br /&gt;“Aku akan selalu setia untuk berusaha membuatmu menderita, membuatmu melakukan hal yang sia-sia”. Bisiknya perlahan namun yakin. Tiba-tiba hatiku diliputi dendam terhadapnya, padahal aku belum lupa bagaimana aku sempat kasmaran terhadapnya. Lalu si kerudung merah itu tersenyum lagi. Saat ia melepaskan tangannya dari telingaku ternyata tak seperti yang tadinya kukira, tak ada benak berhamburan, tapi justru rasa sakit dalam kepala semakin menjadi, selirih anginpun dapat menajamkan sakit ini. Tenaga dari tubuh lenyap tanpa sisa entah kemana. Gadis itu membungkuk dan menggapai kotak yang tergeletak di tanah. “Makan siang Pandora”, bisikku dalam hati. Sekali lagi ia menatapku sekilas kemudian membuka kotak itu perlahan. Aku bisa melihat isi kotak itu, sebuah topeng dan gadis itu melepas kerudungnya kemudian memakaikan topeng itu di wajahnya sendiri. Kali ini aku sadar, topeng itu ternyata wajah Cinderella. Kini ia berdiri di hadapanku. Sebagai Cinderella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tahu apa yang paling aku sukai?”, gadis bertopeng Cinderella berbicara. “Aku akan sangat menikmati menyaksikan seorang pria yang menderita”. Lanjutnya kemudian, dan aku merasa muak melihat romannya yang dibuat-buat. Aku merasakan rambut yang bergulung-gulung di kepalaku telah mencapai tenggorokan, turun merayapi dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis dihadapanku kemudian membuka topengnya, dan setelah topengnya terbuka, giliran wajahku sendiri yang muncul. Aku tersentak menatap diriku sendiri berdiri tegak dihadapanku dalam angkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak akan pernah tahu tentang apapun yang terjadi sesungguhnya” Katanya datar. Aku tak mampu berbuat apapun, aku hanya merasakan tubuhku terbungkus dari dalam secara perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cileunyi, 15 Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Pemenang Lomba Cerpen se-Jawa-Bali yang diadakan oleh LPM Suma Unisba (2005).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-373377720825365690?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/373377720825365690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=373377720825365690' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/373377720825365690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/373377720825365690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/kau-tentu-lebih-tau.html' title='Kau Tentu Lebih Tau'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2168676713226856299.post-4906664994586978836</id><published>2007-10-01T20:14:00.000+07:00</published><updated>2007-10-01T20:33:04.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='HMJ'/><title type='text'>Selamat Datang</title><content type='html'>Selamat Datang di Blog HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung. Semoga bermanfaat.Amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2168676713226856299-4906664994586978836?l=aqfil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://aqfil.blogspot.com/feeds/4906664994586978836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2168676713226856299&amp;postID=4906664994586978836' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4906664994586978836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2168676713226856299/posts/default/4906664994586978836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://aqfil.blogspot.com/2007/10/selamat-datang.html' title='Selamat Datang'/><author><name>Aqidah Filsafat UIN SGD Bandung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17352342488824670112</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
